Rela ku tahan sakit dalam penantian ini. Tetap kuyakinkah diri bahwa masih ada harapan untuk mencintaimu. Diammu kadang membawa keputusasaan. Namun segera kusingkirkan pikiran negatif nan mendera.

Aku sadar-sesadarnya, aku masih pengangguran yang belum bisa memberikan apa-apa. Proses kuliahku terlalu lama, hingga baru bisa wisuda beberapa minggu yang lalu.

Angan-anganku teramat jauh kepadamu. Harapanku terlalu besar kepadamu. Berbagai upaya kulakukan untuk menyakinkanmu, bahwa aku adalah pria yang bisa diandalkan. Tapi kumohon waktu kepadamu untuk melewati proses berat pasca wisuda saat ini.

Aku butuh kekuatan yang lebih besar daripada kekuatan saat menyelesaikan kuliah di UGM. Aku butuh inspirasimu saat ini. Inspirasi yang telah bangkitkan aku saat melewati ujian berat selepas SMA. Inspirasi yang berhasil mengantarkanku menjadi sarjana.

Jika aku bisa memohon, jangan engkau tinggalkan aku dalam dilema ini. Jangan biarkan aku lalui ini sendiri. Kuatkanlah aku dengan cinta dan kasih tulus itu lagi.

Tapi aku tak bisa memaksakan pintaku padamu.Hari ini semua tergantung kepadamu. Apakah menerimaku ataukah membiarkan cintaku pudar dibawa angin lalu? Aku yakin, inilah waktu yang tepat untuk memutuskan semua. Telah lewat 25 tahun umur kita. Sementara masa tenggang untuk tidak menikah bagi pegawai bank, telah pula engkau lewati.

Jika ada harapan untukku mencintaimu lagi, aku akan berusaha dengan sekuat kuasaku segera mendapatkan pekerjaan dan segera melamarmu. Namun, jika engkau memilih yang lain, akan kukumpulkan kesabaran untuk menahan tangis dan kegundahan setelah menantimu sejak kelas 2 SMP yang lalu.

Sayang, kumohon pengertianmu. Rela ku hadapi gelisah bertahun-tahun ini karena satu spirit yang ada dalam hatiku…. BECAUSE I LOVE U…