Bagi pembaca yang pernah mendengar atau mempelajari filsafat perennial pasti akan menemui ungkapan terkenal, “Tuhan dengan T besar dan tuhan dengan t kecil. Di Indonesia, istilah ini dikenalkan oleh seorang intelektual Islam yang memberikan warna baru bagi tradisi pemikiran Islam Indonesia, yaitu Nurcholish Majid. Filsafat perennial sendiri adalah bentuk pemikiran yang mengkhususkan diri membahas tema-tema perennis (abadi) yang sudah dibicarakan manusia sejak dahulu, sekarang, dan pada masa yang akan datang. Sentral kajian filsafat ini adalah pembahasan tentang eksistensi Tuhan dan hubungan-Nya dengan manusia.

Memakai analogi jari-jari roda, para perennialis mengatakan agama-agama yang ada di seluruh dunia sama-sama berusaha mencapai realitas tertinggi (Tuhan). Mereka sama-sama menyembah Tuhan, cuma berbeda jalan dan cara seiring latar belakang historis masing-masing agama. Agama-agama ibarat jari-jari roda yang menuju pada satu titik pusaran yang dikenal dengan Tuhan.

Ketika seseorang mengeksklusifkan diri dengan menyatakan bahwa tuhan yang disembahnya-lah tuhan yang sebenarnya, maka secara secara sadar dia telah menjadi fundamentalis. Di sisi lain, seseorang yang mampu membuka diri dengan lebih arif melihat agama orang lain dan berpandangan ada kebenaran dalam agama orang lain, maka ia telah menjadi seorang pluralis. Pilihan terbaik yang dicita-citakan oleh pengusung filsafat perennial adalah adanya sebuah pemahaman bahwa masing-masing agama berusaha melepaskan diri dari sekat klaim-klaim kebenaran menuju kesadaran menuju Tuhan dengan T besar.

Timbul pertanyaan kritis terkait klasifikasi tuhan dengan t kecil dan Tuhan dengan t besar ini. Dalam bahasa Indonesia dan juga tradisi bahasa Latin dikenal pemakaian huruf-huruf kapital yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan tertentu. Buku pedoman tata bahasa Indonesia paling tidak menyebutkan 15 kategori sebuah huruf bisa dikapitalkan antara lain, huruf awal kalimat, huruf pertama dalam petikan langsung, nama jabatan yang diikuti oleh nama orang termasuk huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan. Pedoman umum ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan mengarisbawahi bahwa kata Tuhan dengan T besar. Namun tidak ada penjelasan lebih jauh kenapa huruf T untuk Tuhan harus dibesarkan.

Ketika kita memasukkan istilah tuhan dengan t kecil maka telah terjadi upaya stratafikasi bahasa yang sesungguhnya tidak akan bermakna. Tata bahasa hanyalah sebuah konvensi yang digunakan untuk mempermudah penggunaan bahasa. Jadi apa urgensi-nya memilah Tuhan dengan t besar dan tuhan dengan t kecil? Bukankah Tuhan tetap saja tuhan?

Persoalan T besar dan t kecil ini akan semakin membinggungkan bagi orang-orang yang hidup dalam tradisi literer yang tidak mengenal huruf-huruf kapital. Bahasa Arab misalnya, tidak mengenal huruf kapital. Yang ada cuma perbedaan bentuk huruf ketika berada di awal, di tengah dan di akhir kata. Kalau misalnya analogi Tuhan dengan T besar dan tuhan dengan t kecil cuba diterangkan kepada bangsa Arab, tentu akan menimbulkan kebinggungan. Artinya, pandangan ini kurang bisa menjangkau universalitas kebenaran karena terbentur berbagai variasi bahasa-bahasa yang dipakai manusia di dunia.

Sekarang penulis akan membawa pembaca memahami perdebatan sengit yang terjadi beberapa waktu lalu di negeri jiran Malaysia terkait pemakaian nama Allah bagi non-muslim. Konsekuensi dari agama misi antara lain Islam dan Kristen adalah kebutuhan akan penerjemahan kitab suci. Bible misalnya kebanyakan berbahasa Inggris. Maka kata yang biasa dipakai untuk Tuhan adalah God atau Lord.

Kemarahan umat Islam di Malaysia ketika pemerintah mengesahkan pemakaian kata Allah untuk terjemahan God dan Lord dalam Bible dapat dipahami karena kata Allah merupakan proper name yang tidak bisa disamakan dengan God dan Lord. Dalam bahasa Arab, istilah God mungkin lebih sepadan dengan Rabb. Allah adalah proper name yang unik dan tidak bisa dipakai pada sembarang tempat. Allah adalah ciri khas penyebutan Tuhan bagi umat Islam, sebagaimana Yahweh merupakan nama khusus untuk Tuhan orang-orang Yahudi.

Meskipun para perennialis mencoba untuk mendamaikan  subjektifitas agama-agama terhadap Tuhan, namun ada alam bawah sadar dan perkembangan pemahaman ketuhanan yang berbeda antara satu agama dengan agama yang lain. Dan tidak dapat dipungkiri perpecahan di antara agama-agama yang ada dikarenakan perbedaan mencolok terkait masalah ini.

Kembali lagi pada pembahasan Tuhan dan tuhan, agaknya ini hanyalah sebuah langguage game yang dilakukan oleh Nurcholish Majid untuk membawa semangat pluralisme pada masyarakat Indonesia yang dianggapnya belum mampu hidup berdampingan secara damai sehingga diperlukan sebuah teguran-teguran yang bersifat metaforis. Entah mana yang benar antara Tuhan dengan T besar atau tuhan dengan t kecil? Namun yang jelas tata bahasa Indonesia mengajarkan penulisan dengan T besar untuk Tuhan.