RESENSI BUKU TUANKU RAO

Posted on


RESENSI BUKU TUANKU RAO: “PRAHARA DI TANAH BATAK”
Judul Buku: Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao. Teror Agama Islam Mazhab Hambali Di Tanah Batak.
Penulis: Mangaradja Onggang Parlindungan
Editor: Ahmad Fikri A.F.
Penerbit: LKiS, Jogjakarta
Cetakan I, Juni 2007
Isi buku: iv + 691 halaman-Hardcover
Harga: Rp 135.000
“Tak ada fakta, yang ada hanyalah tafsir,” begitu kata Nietzsche berkenaan dengan masalah kebenaran dan pengetahuan. Katakata itu tampaknya berlaku juga untuk sejarah, sebab sejarah erat kaitannya dengan serpihan-serpihan kebenaran dan pengetahuan, yang supaya bermakna perlu ditata dan ditafsir kembali. Karena itu, sejarah juga merupakan tafsir, dan sebuah tafsir bukanlah segumpal kebenaran mutlak. Ia baru merupakan upaya untuk mendekati kebenaran.
Buku Tuanku Rao karya M.O. Parlindungan ini merupakan salah satu upaya menggali dan menafsirkan kembali serpihan-serpihan pengalaman masa lalu itu, terutama yang terkait dengan Perang Paderi. Melalui buku ini, penulis mengajak kita mengunjungi kembali ke masa lalu Tanah Batak secara gamblang dengan berupaya memahami proses-proses yang terjadi di balik teror kekerasan penyebaran agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak pada 1816-1833.
Berbeda dengan sejarawan lain, penulis memilih untuk menuliskan sejarah Batak dengan gaya bertutur (story telling style), yang semula memang ditujukan kepada anak-anaknya. Di sinilah sesungguhnya letak daya tarik buku ini. Ia muncul orisinal karena fokusnya lebih diletakkan pada praktik penciptaan sejarah Batak itu sendiri ketimbang menjajarkan peristiwa-peristiwa kesejarahan naratif seperti praktik sejarawan konvensional selama ini.
Menurut penulis, setidaknya ada dua alasan mengapa penyerbuan ke Tanah Batak tersebut dilakukan dengan kekerasan. Selain menyebarkan Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, penyerbuan itu juga dipicu oleh dendam keturunan marga Siregar terhadap Raja Oloan Sorba Dibanua, dinasti Singamangaraja, yang pernah mengusirnya dari Tanah Batak. Togar Natigor Siregar, pemimpin marga Siregar, pun sampai mengucapkan sumpah yang diikuti seluruh marga Siregar, akan kembali ke Batak untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya.
Agama Islam Mazhab Hambali yang masuk ke Mandailing dinamakan penduduk setempat sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya datang dari Bonjol, meski dipimpin orang-orang Batak sendiri, seperti Pongkinangolngolan Sinambela (Tuanku Rao), Idris Nasution (Tuanku Nelo), dan Jatengger Siregar (Tuanku Ali Sakti). Dalam silsilah yang terlampir di buku ini, disebutkan bahwa Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Gana Sinambela (putri Singamangaraja IX) dengan pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela (adik Singamangaraja IX). Gindoporang dan Singamangaraja IX adalah putra Singamangaraja VIII, sedangkan Gana Sinambela adalah kakak Singamangaraja X. Walaupun terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi dan memanjakan keponakannya (hlm. 355).
Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh tiga orang Datu (tokoh spiritual) yang dipimpin Datu Amantagor Manurung. Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati kepada keponakan yang disayanginya dengan menenggelamkandi Danau Toba. Tapi, bukannya mati tenggelam, Pongkinangolngolan terselamatkan arus hingga mencapai Sungai Asahan dan ditolong seorang nelayan bernama Lintong Marpaung. Setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok, Pongkinangolngolan memutuskan pergi ke Minangkabau karena takut dikenali sebagai orang yang telah dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak.
Di Minangkabau, pada 1804, Pongkinangolngolan diislamkan oleh Tuanku Nan Renceh, lalu dikirim ke Makkah dan Syria serta sempat mengikuti pendidikan kemiliteran pada pasukan kavaleri Janitsar Turki. Sekembalinya, pada 1815, Pongkinangolngolan diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan mendapat gelar Tuanku Rao.
Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang Tanah Batak. Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadan 1231 H (1816 M) terhadap benteng Muarasipongi yang dipertahankan Marga Lubis. Muarasipongi berhasil diluluhlantakkan dan seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorang pun. Kekejaman ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror dan rasa takut agar memudahkan penaklukan guna penyebaran agama Islam Mazhab Hambali.
Setelah itu, penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara dilaksanakan 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang untuk memenuhi sumpah Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar menantang Singamangaraja untuk melakukan perang tanding satu lawan satu. Singamangaraja kalah dan kepalanya dipenggal pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah dendam yang tersimpan selama 26 generasi.
Penyerbuan pasukan Paderi terhenti pada 1820, karena berjangkitnya penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara Paderi yang memasuki Tanah Batak pada 1818, hanya tersisa sekitar 30.000orang. Sebagian terbesar bukan tewas di medan pertempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit. Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, pada 1820 Tuanku Rao bermaksud menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga rencana pengislaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. Sementara itu, Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya tetap di Tanah Batak untuk menghadang masuknya tentara Belanda. Akhirnya, Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air Bangis pada 5 September 1821, sedangkan Tuanku Lelo tewas dipenggal kepalanya, sedangkan tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti, salah satu tawanan yang dijadikan selirnya.
Akhirnya, buku yang terbagi dalam tiga bagian besar dan berisi 34 lampiran ini jelas memiliki tempat khusus di dalam penulisan sejarah berdasarkan fakta dan representasi historiografi sebagai interpretasi yang tidak mutlak.
Penulis telah menunjukkan adanya kekuatan pada naskah tertulis dalam merekonstruksi visi sejarah Batak bagi perkembangan politik, sosial, dan budaya. Tak dapat disangkal, kontribusi utama buku ini terletak pada temuannya atas faktor lain di luar domain historiografi konvensional. Hal itu jelas akan berdampak luas dalam perdebatan mengenai historiografi Indonesia. (*)

Oleh: TASYRIQ HIFZHILLAH Peminat sejarah asal Probolinggo, bergiat di Lembaga Studi Pembebasan (LSP), Jogjakarta.
Sumber: Kiriman dari AHMAD ALI AFANDI (DI JAWA POS, MINGGU, 24 JUNI 2007)

About these ads

74 thoughts on “RESENSI BUKU TUANKU RAO

    bajonk said:
    1 Agustus 2007 pukul 16:56

    where can i get the e-book?
    please..

    send an e-mail ’bout related links to this account :

    jonkscelebess@gmail.com

    thanks

    papabonbon said:
    4 Agustus 2007 pukul 18:11

    beli aja di toga mas juga ada kok.

    beta said:
    6 Agustus 2007 pukul 10:47

    Aku ngiler nih liat bukunya di Gramed.

    sand said:
    14 November 2007 pukul 16:32

    begitu buruk sejarah yang ditinggalkan pongkinangolngolan bagi bangsanya sendiri
    tapi itu akaibat siapa????

    moslem said:
    21 November 2007 pukul 01:00

    buku tsb tidak sepenuhnya benar isinya, baca aja “tuduhan” sekaligus sanggahannya di: http://mrdnet.110mb.com/ffi/membongkar_kebohongan_teror_islam_di_batak.htm

    salam…

    dongkrak said:
    26 November 2007 pukul 09:57

    Jadi kayak FPI dan MMI iya…. pemaksaan penyebaran agama dengan jalan kekerasaan.
    Dan juga dia tega menghianati bangsa sendiri cuman karena dendam pribadi…
    Karena dendam seluruh bangsanya habis di bunuh bangsa lain.. sebuah perbuatan yang kemudian hari disesali, dan penyesalah yang tidak berguna…

    Gw bersyukur penyakit kolera dan pes menjangkiti tentaranya , hinggak tidak terjadi Islamisasi dan genocide besar2 di tanah Batak, hingga masuk Jerman mengkristenisasi bangsa Batak.

    Sungguh karunia Tuhan yang tidak ternilai buat bangsa Batak sekarang.

    Melihat perbuatannya terhadap bangsa batak , tuanku rao dan komplotannya menyerupai Hitler, dan Tidak pantas diangkat jadi pahalawan nasional….

      Paul Sijabat said:
      5 Oktober 2012 pukul 09:31

      dan akhirnya kau nyembah kolor ijo bertampang bodat bule….

    Gunawan said:
    15 Desember 2007 pukul 05:03

    mana yang bener ???

    Dalam perang tanding itu, Raja Porhas Siregar kalah dan tewas di tangan Raja Oloan Sorba Dibanua. Anak buah Raja Porhas ternyata tidak diperlakukan seperti tradisi perang tanding, melainkan diburu oleh anak buah Raja Oloan sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke tebing-tebing yang tinggi di belakang Muara, meningggalkan keluarga dan harta benda. Mereka kemudian bermukim di dataran tinggi Humbang. Pemimpin Marga Siregar yang baru, Togar Natigor Siregar mengucapkan sumpah, yang diikuti oleh seluruh Marga Siregar yang mengikat untuk semua keturunan mereka, yaitu: Kembali ke Muara untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya.

    http://mrdnet.110mb.com/ffi/membongkar_kebohongan_teror_islam_di_batak.htm

    heheh jangan jangan ada pengaburan sejarah ini :P

    dogom harahap said:
    28 Desember 2007 pukul 15:53

    saya sudah baca bukunya.
    ingat cerita kakek dari bapak sekitar tahun 1968, katanya kakeknya dulu tewas ditangan tentara Bonjol di Desa Saudori. Sampai sekarang tidak ditemukan kuburannya.
    silsilah:
    dogom bin Paraduan bin Solatun bin Porkas Jr bin Jakuliman bin Porkas Sr.
    Porkas Sr tewas ditangan tentara Bonjol sekitar tahun 1820.
    Asal kampung Tabusira, Kecamatan Padang Sidempuan Timur, Tapanuli Selatan

    saleh w siregar said:
    5 Januari 2008 pukul 22:46

    setelah membaca penuh buku-nya..dan sebagai seorang putra sipirok..dan masih punya darah keturunan raja2 siregar sipirok,,dan kisah2,tempat2, sekarang masih ada..dan kisah2-nya dari para orangtua..memang benar !
    tapi saya yang g’ tau sebagai putra batak yang muslim..tidak tahu seperti adanya perseteruan dan dendam lama marga saya – siregar sehingga pindah ke selatan..sedangkan kami marga siregar,dari silsilah marga2 batak..jelas keturunan Toga Lontung di Toba !Hidup Batak..OOO TANO Batak, Tano Hagodanginki
    asal kampung : Sipirok – Ompung Desa PadangBujur – Haji Soleh Siregar
    keturunan Siregar Baringin _ Parausorat..Alumni I SMU Unggulan Sipirok
    Sekarang Engineer Profesional di jakarta

    prabuwardhana said:
    21 Februari 2008 pukul 10:20

    Tuanku RAO bisa didapet di http://otakkiri.com

    seharga Rp. 135.000,- discount 20% menjadi Rp. 108.000,-

    bebas biaya kirim untuk wilayah Jogja…

    qolbi said:
    22 Februari 2008 pukul 08:52

    wah, bukunya kok mahal, ya….

    aq udah baca bukunya buya hamka yg “antara aku dan tuanku RAO”

    rasanya tak lengkap, kalo belum baca buku “tuanku RAO”….

    qolbi said:
    23 Februari 2008 pukul 10:26

    maaf, maksudq, buku ‘antara fakta dan khayal tuanku RAO’

    RESENSI BUKU TUANKU RAO « KUMPULAN RESENSI BUKU said:
    9 Maret 2008 pukul 09:03

    [...] RESENSI BUKU TUANKU RAO [...]

    the-herstory said:
    13 Maret 2008 pukul 14:23

    hhhmmmmmmmmmmmmmm…………….

    jadi makin tertarik baca….!!!

    dorgisdo said:
    29 April 2008 pukul 15:27

    amangngoyamang argamai bukui dang boi dipaturunin bukui gw sih ngerti bahan bahan semua naik alai boloi boi ya paturun hamuma hargani buku i omma pangidoanku raja nami

    mashabi pasaribu said:
    6 Mei 2008 pukul 15:44

    olobah raja niami au sapandapot dohot koum nihami ima dorgisdo

    smile said:
    27 Mei 2008 pukul 10:50

    mari lebihh jeli
    melihat sejarah islam syiah
    masuk ke Nusantara

    s-pol said:
    29 September 2008 pukul 05:41

    haha kami anak mapala yang bernama KOMPAS-USU da 2 tahun yang lalu di hinggapi kegilaan
    oleh buku aslinya yang non eyd, bahasa nya campur2 ada belanda dan inggrisnya. di KOMPAS-USU
    kegilaan membaca buku ini dan buku yang kontra dengan buku ini masi berlangsung sampai sekarang ke adik-adik anggota baru.
    maklum organisasi kami kan di sumatera….
    tapi bukunya potokopian punya, soalnya ga ada buku aslinya lagi karena da sempat dilarang pemerintah.
    oia buat Ahmad Fikri A.F. selamat ya da mau bekerja keras buat jadi editor bukunya…akhirnya sebagian cita dan keinginan ompu parlin terkabul, hayo jangan lupa royalty nya ma keluarga almahrum…

      Bang 'M' said:
      22 September 2012 pukul 10:32

      pinjamin saya, pls.. dulu pernah baca tapi belum tuntas
      (eks kompas usu)

    torasham said:
    22 Oktober 2008 pukul 18:34

    wew, thanks dah kasih repiew.
    pertama kali liat buku ini selain kepingin, juga jadi ragu. pertama liat harganya namun meliat kover bukunya yg polos tanpa ada kalimat satupun jadi ragu. entar udah bli mahal2, gak taunya isinya jelek.

    DEDE said:
    18 November 2008 pukul 19:49

    Aku membaca buku ini pada awal 1997, koleksi om, sebagai putra campuran aceh, batak dan padang aku semakin tertarik membaca dan mencari tahu kebenaran cerita ini, akhirnya aku sering ke Padang sidimpuan dan tobasa mencari tahu kebenaran cerita tersebut. pada awal november 2008 kemarin tidak sengaja aku bertemu dengan seorang kakek yang asik ngopi di kawasan Pasar Sigumpal Bonang (Padang Sidimpuan), dia asik berbicara sejarah dan politik, sedikit aku bertanya kepadanya mengapa mesjid di pasar ini bernama Tuanku Lolo siapa dia? akhirnya dengan sangat bersemangat dia menceritakan Perang Padri dan dia sangat menegaskan bahwa para komandan perang padri saat itu semuanya orang Batak hanya satu orang padang (pedro syarif). ernyata beliau adalah cucu dari pengawal Tuanku Lolo, dia menceritakan tuanku lelo di bunuh wanita, dan seluruh ceritanya sama dengan yang di buku. ini merupakan sejarah sisi lain dari yang selama ini saya pelajari (PSPB). BUKU INI WAJIB DI BACA

    Ali said:
    11 Desember 2008 pukul 21:11

    pertama kali baca bukunya, masih edisi lama. itu pun fotokopinya. Katanya, Buya Hamka sempat ngeluarin antetisis buku ini, judulnya ‘antara fakta dan khayalan’. gw cari2 di kwitang ngga nemu. Sempat mampir di maninjau -rumah buya hamka waktu kecil- waktu pulang kampung and ngeliat tuh buku.

    Sayangnya ga ada mesin fotokopi, utk sekedar membaca buku itu aja ga dikasih. Kata penjaganya dia ga pegang kunci akuarium kaca tempat buku itu disimpan. Damn.. Kalau ada yg punya hubungi ke email gw ya.. gw serius nih..

    Ali said:
    11 Desember 2008 pukul 21:12

    lupa. email gw di: mujahid_manja@yahoo.com

    gun responded:
    11 Desember 2008 pukul 21:19

    kalau anda di jogja, anda bisa menemukan 2 buku ini di perpsutakaan UGM

    HARAS HAMDI said:
    31 Desember 2008 pukul 10:38

    bagus juga bukunya untuk di baca ya tabah wawasan sejarah tapanuli

    rahmat harahap ompungku haji raudo harahap gelar ompung nagaga najunal

    St J P Hutapea said:
    3 Januari 2009 pukul 23:34

    Sejarah perlu diluruskan tetapi kita tidak boleh dendam. Kita harus belajar dari Sejarah, kekerasan ternyata hanya menimbulkan dendam dan Sakit hati,Sehingga tidak ada habisnya, lALU YANG TIMBUL SALING MEMBUNUH TURUN TEMURUN. Pendeta kami Daniel TA Harahap mengatakan :”Kekerasan Harus Diputus”(Cukup Sampai Disitu/Diakhiri), Sehingga menciptakan damai dan Kasih.

    jackajalah said:
    13 April 2009 pukul 18:08

    marga siregar terusir dari wilayah toba merupakan perseteruan tanah-tanah raja yang mana siregar clan dipaksa mundur dan sebagian sampai ke tapsel. Tuanku rao(pongki nangolngolan dibuang ke danau toba karena merupakan anak hasil hubungan terlarang(inces) ditolong dan dibesarkan oleh marga marpaun di huta marpaung jae. Tapi kemudian iTuanku Rao juga berhubungan intim dengan ibu pengasuhnya yang menyebabkan dia diusir dari marpaung jae da melarikan diri hingga ke wilayah minangkabau.Disana dia menjadi penganut muslim yang taat dan akhirnya menjadi panglima perang padri. disamping menyebar agama islam ke tanah batak dia juga ingin melampiaskan dendamnya ke pada Sisingamangaraja X. dalam penyerbuannya di wilayah mandailing,pimpinan marga siregar yaitu jatenggar siregar ikut bergabung dengan paderi sekaligus juga membalas dendam akan pengusira marga siregar. Tetapi paderi tidak mampu mengalahkan wilayah toba. Kematian Sisingamangaraja juga bukanlah oleh pertarungan satu lawan satu dengan jatenggar sirega melainkan mati karena kerjasama tuanku rao dengan jatenggar siregar melakukan tipu muslihat yang membuat sisingamangaraj kemudian meninggal dunia..

    syafrin rints said:
    11 Mei 2009 pukul 16:08

    saya, sedih dan terharu tapi bangga setelah membaca banyak tanggapan tentang buku tuanku Rao. SDemoga cerita lama tidak membekas dalam bagi keturtunan2nya, apalgi kita sekarang sdh memiliki agama baru masing2nya, bahkan seharusnya cerita itu membuat kita menjadi akrab. saya Syafrin Rints, menurut cerita nenek saya, kami keturunan Tuan ku Rao darti jalur salah satu anaknya yan g dititipkan di sumatera barat kertika masa perang yaitu dari turunan nenek Lelo yang dinikahi TUanku Mahmud ( Tuan kali Sei Rengas Medan, makamnya di komplek pekluburan Istana Maimoon Medan.( mohon maaf kalau salah, ini kan cerita nenek, saya sendiri gak tau, mungkin kalau ada yang tau, terimakasih banyak atas informasinya) karena kami dan keluarga di Jakarta merasa penting, sejarah moyang kami agar dimasa depan bisa lebih baik.

      helwa said:
      20 Januari 2010 pukul 16:35

      sudikah sekiranya saudara syafrin rints sudi mengirimkan email pada saya? Ada perkara yang ingin saya bertanya tentang tuanku rao kepada saudara. Saya dari keturunan anak tuanku Rao yang dititipkan ke tanah melayu. Ini email saya helwa.asyiqin@gmail.com.

        syafrin said:
        7 Oktober 2010 pukul 21:42

        hi helwa, saya senang sekali anda menanggapi surat saaya, thanks sebelumnya ya. masalahnya saya dapat info itu dari nenek saya dan nenek lainnya, sehingga saya tidak ytahu benar tidaknya, kan kalok orang jaman dulu hyanya mengandalkan i8ngatan dan bukan tulisan, tapi mudah2an ada benarnya, jadi buat tambahan kemungkinman, katanya tuanku rao menyuruh 3 anaknya ke wilayah pariaman sekolah disana, untuk keselamatan mereka dan saya gak jelas dari anak yang mana. tapi kalau anda punya yang lebih rinci, tolonglah, supaya kami ini keturunan2 yang di jakarta tau jelas, turunan siapa. terima kasih banyak
        salam karib
        syafrin rints
        rints2001@yahoo.com

    syafrin rints said:
    11 Mei 2009 pukul 16:11

    Nenek Lelo itu ucapan sana, nama aslinya kayaknya Layla dari marga Sinambela
    terima kasih syafrin rints

    sobat said:
    5 Juli 2009 pukul 10:49

    Ternyata sejarah batak dan islam di tanah batak sangat mengerikan…mari lupakan semuanya

    BUKIT S said:
    14 Juli 2009 pukul 23:25

    jANGAN BACA “tTUANKU RAO”, KUINGATKAN SEKALI LAGI JANAN BACCA ITU. bANYAK DISANA HAL-HAL GAIB DAN BANYAK KUTUKAN. NASIB ANDA AKAN SIAL TERUS….KUINGATKAN SEKALI LAGI,,, JANGAN BACA ITU….JANGAN BERITAKAN ITU DI JAKARTA….JANGAN KATAKAN ITU DI YOGYAKARTA/////

    Anak ITB said:
    2 September 2009 pukul 23:00

    Review anda kurang pas.. Tuanku rao itu bukan hasil diluar nikah.. Tapi pernikahan semarga.. atau incest.. dan dia selamat karena memang diselamatkan Sisingamangaraja, kayaknya anda harus baca lagi buku itu lebih teliti atau anda kurang jujur me-review nya.. Terima Kasih..

      Robert antoni said:
      17 Januari 2011 pukul 19:01

      Pendapat anda salah, Tuanku rao bkan kturunan Raja,dan bukan lhir di daerah SUMUT, tpi msih daerah SUMBAR, tpat nya PASAMAN..dia cma seorang pemuka agama yang menentang Belanda. msa kcil nya ada di kampung kecil nma nya Padang metinggi. sampai skrang bukti perjuangan nya msih ada, klo buku itu bnar,apa dlam bku itu ada mcrtakan ttg seorang yg brgelar bagindo suman? klo tdak brarti buku itu tdak bnar. klo ingin tau ttg bagindo suman tnya sma yg mnulis buku, klo tdak tau brarti bku itu bohong.

    jong sumatera said:
    4 September 2009 pukul 23:24

    oya, tambah bingung nih..jangan2 buku ini tambah menyesatkan sejarah ?? ahh, apa yang terjadi terjadilah, semua agama tidak mengajarkan kekerasan, tapi manusia yang memeluknya selalu lemah dihadapan setan yang selalu membelokkan kita dari agama. semoga tak ada dendam diantara kita.. dan jangan buku ini jadi perantara setan untuk mengadudomba kita lagi ..

    bartele said:
    9 September 2009 pukul 15:49

    Tanah Batak terbagi dua Ada Batak, ada Batak Melayu, tapi orang Melayu Tidak mau sedikitpun disebut orang BATAK, ada apa gerangan dengan orang Melayu ga mau disebut BATAK ? tentu jauh bedanya sama beda langit dan bumi, maklum aja deh, akan tetapi bersyukurlah orang MELAYU !!! ( tau maksud saya kan ? ) he he heheh.

    forlan said:
    2 Oktober 2009 pukul 09:59

    anda harus berhati-hati dan siapa saja harus berhati-hati dalam menuliskan sejarah. Islam tidaklah sekejam itu. Nanti suatu saat kebenaranlah yang akan terkuak

    bijak said:
    26 November 2009 pukul 12:11

    ada yang ikut pernah ikut seminar Tuanku rao di kab.pasaman Sumatera barat…disana dijelaskan bahwa “mungkin saja” ekspansi yang dilakukan oleh kaum paderi di ranah sumatera utara agak keras mengingat ideologi paderi yang dipengaruhi wahabi di mekkah namun Buku MOP tersebut “bukan buku sejarah” inilah sikap yang harus diambil…MOP sendiri kan sudah bilang bahwa buku tersebut “Dipersembahkannya sebagai warisan buat anak2nya yang akan dibaca menjelang buka puasa” artinya buku tersebut jauh dari kaedah buku sejarah sehingga kebenaran nya pun mesti kita tinjau ulang…

    satu hal yang jadi pertanyaan besar ketika seminar tersebut adalah ” bahwa nama batak tidak digunakan di sumatera utara sebelum belanda kesana…artinya batak muncul paska belanda ada disana…nah bisa jadi nama “batak merupakan distorsi sejarah yang digunakan oleh orang belanda untuk menanmkan doktrin bahwa batak harus kristen yang padahal kalau kita teliti islam jauh lebih kuat dan lebih dulu di sumatera utara”

    indra said:
    29 Desember 2009 pukul 15:22

    Saya tak habis pikir, mengapa ada kesamaan yg struktural pada cerita sejarah kejatuhan kerajaan di nusantara ini pada saat masuknya pengaruh islam ke daerah tersebut, seperti Majapahit runtuh oleh raden patah yang merupakan anak Raja Majapahit itu sendiri yg dibuang ke sumatra,stlah dewasa dibantu oleh Wali songo menyerang kerajaan ayahnya karena tidak mau masuk islam. Radja Padjajaran jatuh oleh anaknya sendiri yaitu kean santang yg lari dari istana ayahnya kemudian menyerang kerajaan ayahnya dengan bantuan wali songo karena sang radja tidak mau masuk islam,begitu juga sisingamangaraja X jatuh oleh keponakannya sendiri dibantu oleh ulama dari sumatra barat untuk diislamkan.. mengapa bisa sama skenarionya?.. kita perlu waspada dan berhati2 dalam memahami sehingga kita tidak terpecah belah karenanya…

      MisLol said:
      15 Desember 2010 pukul 23:36

      Bung Indra,itulah sebenarnya yang harus diterima oleh bangsa ini…
      berkoar2 sbg yang cinta damai, masuk dengan damai…
      tapi apa yang terjadi..??? sejarah negara ini saja sebenarnya sudah cukup menceritakan “DAMAI” yang disebarkan itu damai yang bagaimana…
      hahahahaha… yang lucunya dalam siaran2 sinetron tv tentang kerajaan2 masalalu nusantara ini, yang sudah terbukti adalah kebanyakan buddha dan hindu,,,eeehh malah dalam skenarionya kok ber assalamualaikum ….. hahaha maksa banget…

        Bang 'M' said:
        22 September 2012 pukul 10:42

        produk divide et impera.. tanpa sadar terus terwariskan…!
        who knows mana benar mana yg salah .. ???
        semoga hati dan fikiran kita cukup terbuka ke arah yang lebih baik.

        Paul Sijabat said:
        5 Oktober 2012 pukul 09:41

        jika saya menjadi kau..maka saya akan menyesal lahir ke dunia ini,hanya utk menjadi penyembah manusia bertampang penjajah…bodat…

    NOEL said:
    15 Juni 2010 pukul 15:52

    KITA harus jeli lihat apa arti penghinatan dalam sebuah bangsa…yang ada kutukan….janganlah kita membalas dendam dengan cara sepert itu….dendam pribadi janganlah di buat untuk menyusahkan bangsa sendiri,,,, siapapun yang terlibat dalam peristiwa itu….jangan jadi dendam di kemudian hari

    Wahyu Eko C. Siregar said:
    20 Juni 2010 pukul 12:07

    Memanglah sejarah cukup menjadi pelajaran, bukan untuk diejawantahkan ulang.. masa lalu cukuplah kita kenang, semoga dalam keragaman di masa kini semua halak batak bisa bersatu padu membangung bangsa tercinta…

    Muhyil Himmi said:
    29 Juni 2010 pukul 11:29

    btw, sekitar umur berapa ya Pongkinangolngolan diceburkan ke Danau Toba? Kalau nyeburinnya ditengah masak ngga kelihatan waktu dia muncul ke permukaan kembali? Seberapa lama dia bisa bertahan dlm air? Apa waktu itu di Danau Toba sdh banyak berserakan kayu ex penebangan Toba Pulp Lestari ya ?.. hahaha..
    Setuju dgn pendapat bung Indra tgl 29/12/09.
    Skenario terselamatkannya Musa kecil di keranjang hanyut pada kisah di era yg jauh lebih tua bagi saya justru lebih masuk akal.
    Bisa jadi sebagian sumber OMP sdh dipolitisir lebih awal..
    Jangan kita terjebak lagi dgn kisah2 produk zaman politik de vide at impera.
    Bersatu dan bijaksanalah wahai bangsa ! Bravo Indonesia !

    Randy nasution said:
    31 Juli 2010 pukul 21:01

    Ah… Eneg hati saya baca buku OMP ini KEK NOVEL AJA…BUKU INI DIWARISKAN KEPADA ANAK2 NYA …..BUKAN UNTUK JADI BACAAN KITA… Sudah dibilang buya hamka…ini hanyalah khayal semata..jujur saja….nenek moyang saya juga tewas ditangan padri..tapi itu salah nenek moyang saya sendiri yang amat terlalu PEDE ama agama bataknya yang ambigu… HAI UMAT MUSLIM,,DIAKHIR ZAMAN NANTI DIRIMU BAGAIKAN KUE YANG DIPEREBUTKAN OLEH YAHUDI DAN NASRANI…

      BONIE said:
      1 April 2011 pukul 01:10

      KEMANA ALLAH SWT SAAT PADERI MEMBANTAI TAPANULI. HEI INGAT YAH GERMAN SAJA MINTA MAAF ATAS PERLAKUAN MEREKA. APALAGI KALIAN!!! NGGAK SEMUA BATAK BERAGAMA.

    gadong said:
    11 November 2010 pukul 12:04

    agama sll mengajarkan utk mencari kebaikan. Manusianya yg bego, mementingkan nafsu. Mari berdebat mengenai kebenaran sejarah, bukan mengenai agama mana yg paling benar. Agama hanyalah jalan, bukan tujuan.

    risma said:
    27 Desember 2010 pukul 13:38

    saya belum pernah baca ini tuanku rao. kalau di gramedia ada tidak?
    saya jadi penasaran.
    benar atau tidak ceritanya saya rasa tidak penting.
    tapi kita ambil hikmahnya aja. kita ambil hal yang baik dan jangan meniru yang buruk.
    membalas dendam adalah tidak baik.
    mari kita saling memaafkan.

    TheSalt Asin said:
    10 Januari 2011 pukul 19:24

    Wahabi itu termasuk FIRQAH yang unik setelah SYi’ah ghullath dan khawarij – apabila Sejarah kejahatan kemanusiaan dan penyelewengan AQIDAH nya di ungkap , maka mereka dengan berbagai cara akan menolak mentah-mentah , mereka selalu berlindung dibalik Ayat Al-Qur’an dan Hadits , walau cara mereka menafsirkan Al-Qur’an dan Hadits tersebut dengan cara yang batil. Golongan Ghullath dan Khawarij juga Wahabi , tidak ada bedanya dengan Yahudi , keadilan dan toleransi hanya untuk kelompoknya sendiri…begitulah kira-kira sekelumit Firqah sesat. tanpa dukungan dana dari ARAB SAUDI, dan kebohongan untuk mengelabui masyarakat awam , Wahabi tidak punya nilai jual .wassalam.

    Robert antoni said:
    17 Januari 2011 pukul 18:48

    stlah sya bca rngksan buku ini, sya tdak yakin akan kbnaran nya,stahu sya dri crita orng tua2,TUANKU RAO lahir di pdang metinggi, dan dia menghadang Belanda dri arah medan, TUANKU IMAM BONJOL driarah bkit tinggi.bkan prang mlawan orang batak, di Rao bnyak skali orang batak dn mempunyai bnyak marga.dan di Rao kbnyakan marga LUBIS,NASUTION,REGAR,HARAHAP. dan knpa TUANKU RAO tdak msuk dlm daftar pahlawan nasional, krna dia berperang cma di Rao, klo IMAM BONJOL smpai ke perbtsan Riau.Bukti sejarah ttng pertempuran nya di Rao msh bnyak,benteng belanda yg dihancurkan nya jg ada. saya selaku putra Rao sdikit banyak mngetahui critanya, dan pninggalan perjuangan beliau jg msih ada, brupa jubah, tngkat,senjata. dan stu lg pejuang yg tak klah dngan tuanku Rao adalah ponakan nya sendri dia bergelar BAGINDO SUMAN,,BRSMA2 MLWAN BLANDA DI RAO. jdi crta dia prang dngan orang Batak krna ddam sya tdak percya. tpi klo prang dngan orang yg tdak mnyukai kdtngan islam mungkin, krna di minang kabau jg ada prang itu. jdi ksimpulan saya CERITA BUKU DI ATAS DIRAGUKAN SEKALI KEBENARAN NYA!!!!

      BONIE said:
      1 April 2011 pukul 01:18

      ITU DARI BUKU, YANG KAU PERCAYAI ORANG2 TUA. PENGISLAMAN SELALU BERDARAH SAMAPAI SEKARANG!!! MANGKANYA KALO GUA KETEMU KALEMPONG PADANG CUKIMAY BAGUSNYA MATIIN SAJAH… ORANG MEREKA TERIAK TUHANNYA MAHA KUASA, TAPI JADI ALASAN MEMBUNUH, MERAMPOK DAN MEMPERKOSA. DASAR PENGIKUT IBLIS KALIAN!!!

      donny sutansyah said:
      17 November 2011 pukul 11:28

      anda bodoh dan picik sekali popeye…wkwkwkwk

      saya asli pariaman,tepi pantai dekat stasiun kereta,buku tersebut bagus sekali dan mungkin saja saya juga masih keturunan dari Tuanku Lelo (the beast) ….no problem
      Respect for Tuanku Rao dan tuanku2 yg lain,Tuanku Imam Bonjol menyerah kepada Belanda tetapi Tuanku Rao berjuang hingga titik darah penghabisan…….

      Vote Tuanku Rao sebagai Pahlawan daerah Sumatera Barat !!!!!

    iwan sudrajat said:
    23 Januari 2011 pukul 01:46

    saya hanya mendengar cerita buku ini dari seorang kawan, kebetulan saya tinggal di medan. pernah saya cari dan hampir mendapatkan buku ini dalam edisi cetak zaman eyd.

    TheSalt Asin said:
    23 Januari 2011 pukul 05:58

    Untuk mengungkap satu riwayat ( terutama dalam sejarah perkembangan Islam ), kita tidak bisa dan tidak boleh terpukau oleh satu buku atau sekelompok orang yang menamakan dirinya pakar sejarah ,kemudian memfonis bahwa yang ini …atau yang itu…hanya cerita bohong….. Coba kita mendengar dan membaca buku yang disusun diluar kelompoknya , apa kata mereka..untuk membantu anda yang ingin melihat WAJAH SURAM WAHABI dari generasi ke generasi….bukannya tambah cerdas dan mawas diri…tapi tambah TOLOL dan AROGAN – untuk sementara silahkan anda merujuk buku : ” Dari Sumatera Barat hingga Plakat Panjang – disusun oleh : Rusli Amran – Penerbit : Sinar Harapan. Jakarta 1981 – 650 halaman. …bagaimana WAHABI mem BARTER rakyat (budak) yang dari luar pulau Jawa …dengan Sejumlah Senjata kepada Belanda dan Pembantaian Masyarakat Minangkabau yang tidak sefaham dengan Wahabi. wassalam.

    alpan said:
    26 Februari 2011 pukul 15:45

    ora urus…kelaut aja…yg udah mati ga usah di bahas…mari bersatu…untuk masa depan yg lebih baik.

      rizal said:
      12 April 2011 pukul 12:28

      sama..

    BONIE said:
    1 April 2011 pukul 01:13

    Intinya apa yang bisa dijadikan SI IMAM BONJOL ANAK SETAN TUKANG BUNUH. jadi PAHLAWAN. di INDONESIA?????

      Paul Sijabat said:
      5 Oktober 2012 pukul 09:42

      dan kau adalah cucunya setan..wakakakakakakaa…

    ente said:
    10 Mei 2011 pukul 11:17

    kita terlalu sibuk menapikan dan membahas suatu bacaan yg belum pasti kebenarannya bknnya memikirkan masa depan bangsa kita yg menyedihkn pada sat ini

    Hotma P Manik said:
    24 Mei 2011 pukul 13:57

    Ah…ceritanya amburadul…
    Hidup Zaman sekarang… Cerita lama… bables angine..

    uddin datuk limo puluh- siak said:
    1 Juni 2011 pukul 15:51

    kenapa tanah batak di serang paderi??itu tak lain dari untuk mencegah ekspansi belanda dan kristenisasi di wilayah itu.sebagai bukti banyak ditemukan cap/mohor kerajaan sisingamangaraja bertuliskan arab melayu.pada masa itu pagaruyung sudah dikepung oleh belanda.bengkulu di selatan, timur sudah di pengaruhi(siak—sesuai syair perang siak) saat itu hanya wilayah rokan dan tapanuli yang belum dikuasai.kekalahan siak menyebabkan jatuhnya langkat, deli,tamiang dan diserahkan ke belanda secara tak langsung sehingga belanda membuat perkebunan tembakau kisaran dan kelapa sawit.jadi utnuk menghindari itu kekuatan orang melayu kini tinggal wilayah pagaruyung,rao dan rokan.untuk wilayah pagaruyung pun sudah lemah maka terjadi pertarungan hebat antara dinasti kerajaan(kaum adat) yang menyebabkan terbunuhnya kerabat raja dan mengungsi ke lubuk jambi(riau).jadi untuk menyusun kekuatan itu maka pejabat dan kaum ulama yang tak mau dijajah maka para kaum melakukan pengembangan dan penguatan kembali unsur islam di rokan dan pasaman, pariaman sehingga terkenal dengan perjuangan tuanku rao, tuanku tambusai dan tuanku imam bonjol.sebenarnya walaupun siak sudah takluk(paling tidak dibawah pengaruh belanda walau secara tak langsung)tetap masih melakukan perjuangan diam-diam karena melalui bagan siapi-api kerajaan siak membantu menyuplai senjata dan amunisi untuk tuanku tambusai.tanah batak jika di kuasai belanda secara tak langsung akan memutus rantai kesultanan islam sumatera barat riau..timur dan aceh akan terputus.dapat kita lihat peta peperangan di sumatera.setelah perang bonjol, kemudian perang tambusai sampai menuju tapanuli.setelah itu baru paling terakhir aceh.sampai bersusah payah hingga abda 19.tapanuli sendiri sudah beragama islam jauh sbelum perang paderi ini(bonjol,rao tambusai,tapanuli)namun masih banyak sinkretis.karena kita ketahui barus dan fansur sudah dahulu lebih islam dari aceh.terbukti banyaknya kuburan di sana.dari adat parmalim sendiri sangat jelas terlihat sinkretis agama itu.parmalim..berasal dari makna para mualim…bentuk jamak dari ulama-ulama…makanya parmalim berbaju putih dan bertuhan kan esa.begitu juga sejarah pasai.sesungguhnya pasai dan aceh memiliki kekerabatan erat dengn org karo(walau org karo sulit menerima itu tp tetap juga org bermarga).mengenai cerita dan tulisan ompu perlindungan mungkin ada benarnya tapi perlu kita edit lebih jauh lagi.termasuk tuanku tambusai yang disebut org bermarga.beliau adalah orang melayu tambusai tapi di terima di masyarakat tapanuli sehingga beliau diberimarga.semoga bermanfaat..melayu(pagaruyung,inderagiri,siak,rokan,kampar,jambi,Trengganu, johor,palembang)dan bugis itulah darah saya dan terombo saya.tapanuli…nasution(bermakna orang sakti) dan banten itulah darah ipar saya..dan keluarga saya..itulah kami melayu pesisir timur…dengan segala perjuangan dan pelayaran kunonya…..

    reza said:
    26 Juli 2011 pukul 18:52

    minta izin copas gan……

    Lasiono Medan said:
    24 November 2011 pukul 17:15

    bantu saya mencari buku ini……….
    BUKU TUANKU RAO

    Harahap said:
    6 Januari 2012 pukul 03:39

    Mau benar mau salah. Mau menang pendapat mana yang benar. Cari bukti yang lainlah untuk tambahan jangan cuma riwayat2 mlulu. semisalnya dari Ilmu Genetika, apa itu ga bisa dipake untuk suatu pembuktian dijaman yang sudah canggih ini. Jangan kami dikasih buku penuh bualan ini……..! Mahal lagi duitnya. Jangan sampai kami mati meninggalkan sejarah “bual besar” orang kasih Gelar. (ditujukan untuk penulis2 sejarah semuanya yang sudah almarhum maupun yang belum).

    bayo said:
    15 Juni 2012 pukul 21:28

    terima kasih atas sharing informasi nya
    mari sama sama kita tanggapi dengan positif

    Paul Sijabat said:
    5 Oktober 2012 pukul 09:44

    DAN SAYA SANGAT BANGGA MEMELUK ISLAM,DARI PADA MENJADI PENYEMBAH MANUSIA BERTAMPANG PENJAJAH…BERKOLOR PULAK…ALAAH MAAK..

    mike said:
    3 November 2012 pukul 19:55

    haha..
    itulah sejarah…

    alusi melankolis full said:
    14 November 2012 pukul 00:19

    semua pendukung tuanko rao saya benci sampai sekarang.dan mereka penghianat

    alusi melankolis full said:
    14 November 2012 pukul 00:31

    saya bersyukur dan sangat bangga jadi pengikut yesus kristus,kenapa tidak kristen itu maha kasih dan tidak pernah dendam dan tidak mempelajari ilmu ilmu duniawi.kristen itu adalah kasih,dan kasih

    tobadream said:
    2 Juni 2013 pukul 12:33

    terharu saya membaca tanggapan” anda yang negatif…sedangkal itukah caramu menanggapi makna sejarah…kalaupun dulu ada rasa” dendam,ya itu dulu.sekarang jaman sudah beda bro mari kita bergandeng tangan menghadapi hidup yg akan datang dengan damai.anda” islam,kristen,budha,hindu,parmalim marilah berdamai…damai itu indah bro !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s