Lagi-lagi seorang mahasiswa doktoral yang cuma memantau perkembangan Indonesia dari luar negeri menarik garis keliru atas kejadian pembatalan beberapa diskusi Irshad Manji di Yogyakarta minggu lalu. Di laman Opini Kompas hari ini (Selasa, 15 Mei 2012) dengan gagah dia menulis artikel bertajuk “Memelihara Kebebasan Mimbar Akademik”.
Agustian Sutrisno dengan label “Mahasiswa Doktoral dalam bidang Manajemen Perguruan Tinggi di Faculty of Education, Queensland University of Technology seolah-olah tampak “bijaksana” dengan mengutip ungkapan seorang pakar pendidikan “It takes character to disagree graciously. It takes education to fight ideas with ideas” (Dibutuhkan karakter untuk menyatakan ketidaksetujuan dengan santun. Dibutuhkan pendidikan untuk melawan ide dengan ide).
Alih-alih mampu mempertahankan kesan filosofis, sang kandidat doktor membuat blunder fatal sejak kalimat pembuka di artikelnya. Dia menulis, “Pembatalan diskusi dengan Irshad Manji di dua perguruan tinggi di Yogyakarta mengundang keprihatinan bagi semua yang menjunjung tinggi kebebasan mimbar akademik.” Di UGM memang pihak Rektorat tidak memberi izin diskusi bersama Manji. Beda kasusnya dengan di UIN Sunan Kalijaga. Tidak ada surat resmi dari pimpinan UIN yang membatalkan diskusi. Malah berdasarkan penuturan teman-teman panitia di sana, justru Irshad Manji yang membatalkan secara sepihak.
Dengan gagah sang doktor melanjutkan tulisannya dengan mengatakan, “Kebebasan mimbar akademik itu tak berarti anggota civitas akademika boleh bertindak sesuka hati dan menyebarkan pendapat yang menghasut orang lain untuk berbuat jahat.” Saya tidak tahu persis, apakah Pak Agustian sudah membaca buku-buku Irshad Manji. Betapa di dalam buku itu penuh dengan hasutan dan membawa kebencian Islam (atau lebih tepatnya ajaran Islam yang mengekang kebebasan Manji). Menghina Nabi Muhammad yang amat dimuliakan oleh umat Islam, membela hubungan sejenis, dan menuduh dominasi patriarkhi telah membuat para muslimah terbelakang. Apakah itu bukan sebuah hasutan yang sangat keji?
Di dalam pepatah Melayu ada sebuah ungkapkan, “Sakit karena sembilu bisa diobati. Namun, sakit karena lidah kemana obat hendak dicari.” Penghinaan Irshad Manji di atas sebenarnya lebih menyakitkan dibandingkan dengan sekedar kekerasan fisik (bukan berarti saya mendukung aksi brutal yang dilakukan FPI dan kelompok ekstrem Islam). Saya pikir kita bisa membedakan, manakah yang lebih perih ketika ditonjok atau dibilang Ibu kita pelacur?
Comment