SURAT KEPSEK YANG OFFSIDE


 
Oleh: Anggun Gunawan
 
Surat Kepsek di Bantul ini tidak logis menurut saya dan tidak tepat sasaran.
 
1. Pertama, mata pejalaran Sastra, Sejarah dan Kimia tidak masuk UAN Sekolah Dasar. Sekolah Dasar hanya mengujikan Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam… Saya ngak yakin kalau ujian bahasa Indonesia juga sudah masuk pada bahasan Sastra… Paling yang dimasukan cuma siapa nama sastrawan terkenal dan nama karyanya… soal-soal IPA pun adalah materi yang tidak fokus kepada soal-soal kimia… tetapi kok dibikin heroik, pengusaha ngak butuh Sastra dan Sejarah, Musisi ngak butuh kimia….?? Ada lompatan logika yang tidak sesuai realita…
 
2. Kedua, surat tersebut mengindikasikan bahwa Sang Kepsek tidak luas bacaannya… Cobalah baca biografi Al Kindi, seorang ilmuwan hebat muslim… Ia ahli kimia, tetapi juga seorang musisi dan ahli musik.. Al Kindi disebut2 adalah tokoh yang berjasa dalam pemberiaan tanda kunci nada serta gelombang bunyi…. Coba baca biografi para pengusaha sukses di dunia… CEO Amazon, Jeff Bezos, yang mendapat banyak inspirasi dari membaca buku novel ketimbang non-fiksi…. Novel Favorit Jeff Bezos adalah The Remains of the Day… Autobiografi karangan tokoh terkenal Nelson Mandela menjadi buku pilihan bagi Richard Branson, CEO Virgin Group…. novel klasik “The Catcher in the Rye” yang terbit di tahun 1951 adalah salah satu bacaan kesukaan Bill Gates yang dikenal sebagai pendiri Microsoft…
 
3. Salah besar kalau olahraga hanya mengandalkan fisik… Bahkan yang membuat seorang olahragawan itu hebat, karena ia memakai kecerdasan otak dalam menganalisa permainannya… Dan dalam banyak permainan olahraga sangat terhubung dengan kepintaran seorang atlet dalam masalah gaya dan massa yang dibahas dalam ilmu fisika… misalnya trik untuk tendangan melengkung ala Roberto Carlos…
 
4. Untuk menumbuhkan pengkayaan sudut pandang untuk fotografer seharusnya sudah bisa dimulai sejak SD… misalnya dengan pemberian konten-konten visual yang berbeda pada saat memberikan pelajaran.. Sehingga bukanlah hal yang mustahil untuk menumbuhkan persektif seni sejak dini…
 
5. Alih-alih ingin melakukan kritik tentang pemujaan masyarakat kepada Dokter dan Insinyur, pada saat yang sama sang Kepsek melakukan perendahan terhadap Sastra, Sejarah, Fisika dan Kimia….
 
Saya kemudian mencari tahu profil SD Mutiara Persada. SD ini termasuk SD unggulan di Jogja dan telah terakreditasi A. Program-program yang mereka buat pun sudah merujuk pada standar internasional dan fasilitas pendukung sekolah yang keren. Mulai dari kolam renang hingga laboratorium IPA yang memadai. Semua itu kemudian tentuk berkorelasi linear dengan biaya yang harus dibayar oleh Wali Murid. Setahun terakhir, Yayasan Mutiara Persada membuat sekolah tingkat SMP sehingga siswa-siswi SD nya tidak perlu khawatir kalau tidak diterima di SMP favorit di Jogja yang melakukan seleksi ketat berdasarkan nilai UAN.
 
Kekhawatiran orang tua terhadap nilai UAN anaknya sangat berkaitan erat dengan kelanjutan studi anaknya. Nilai UAN yang bagus alamat bisa mendapatkan bangku di SMP-SMP favorit. Bisa dapat SMP Favorit, SMA Favoritpun juga diraih. Dengan sekolah di SMA favorit, maka bisa masuk Universitas Favorit. Dan ujungnya, kalau sudah kuliah di tempat terbaik, bisa dapat kerja yang terbaik pula. Itulah yang dipikirkan orang tua atas anak-anaknya… Itu pola pikir linear yang secara tidak sadar dibangun oleh sistem pendidikan nasional kita sendiri dan prestise kebanggaan orang tua di tengah-tengah masyarakat.
 
Menumbuhkan berpikir, berekspresi dan berkomunikasi kreatif memiliki pondasi dari keberanian untuk menyampaikan pendapat sendiri, ide-ide sendiri tanpa tekanan dari pihak manapun. Kemandirian untuk berpikir dan melahirkan pemikiran baru dari berbagai pengalaman dan bacaan adalah modal untuk melahirkan individu-individu yang berkarakter. Dan semua itu dibutuhkan keteladanan. Tetapi ketika untuk membuat sebuat surat saja kemandirian berpikir dan kemampuan membuat sesuatu yang berbeda serta tidak sekedar copy paste tidak mampu dilakukan, bagaimana caranya kemudian bisa memassifkan kreativitas kepada anak didik???
 
Ketika orang tua mau membayar mahal untuk menyekolahkan anaknya di SD berkualitas internasional seperti SD Mutiara Persada, saya yakin mereka adalah orang tua yang anti mainstream dan sudah memahami bagaimana pertumbuhan anak harus disesuaikan dengan bakat-bakat mereka. Karena telah menyadari hal itulah kemudian, mereka mau membayar mahal untuk memasukkan anaknya ke sekolah yang menumbuhkan kreativitas anak. Tetapi realita yang harus dihadapi oleh orang tua soal nilai adalah untuk mendapatkan kursi SMP favorit seleksi yang dilakukan didasarkan pada NILAI UAN.. Itu yang kemudian dirangking dari seluruh lulusan SD yang ada. Dan kalau mereka harus tersingkir dari persaingan mendapatkan kursi di SMP favorit, ya mereka kemudian bisa memilih alternatif untuk tetap menyekolahkan anaknya di SMP Mutiara Persada yang konsekuensinya adalah tetap membayar biaya sekolah yang lumayan besar.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s