REDEFINISI RIBA BUNGA BANK KONVENSIONAL


 
Disusun oleh: Anggun Gunawan
 
Terus terang sampai saat ini saya masih melakukan penelusuran apakah yang dimaksudkan riba dalam Islam. Apalagi dosa riba itu dalam Al Qur’an sangat dasyat hukumannya.
 
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepada-nya larangan dari Rabbnya, lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Siapa yang mengulangi (mengambil riba) maka mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menumbuh-kembangkan sedekah2. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.” (Al-Baqarah: 275-276)
 
Pertanyaan yang sampai hari ini masih kontroversi adalah apakah bunga bank atau interest termasuk dalam kategori Riba???
 
Salah seorang tokoh Masyumi, Sjafruddin Prawiranegara pernah mengungkap hal menarik soal riba… Menurut beliau, riba tidak identik dengan interest atau bunga. Dengan mengemukakan alasan-alasan pokok yang didasarkan kepada ayat-ayat Al Quran dan Hadis, Sjafruddin sampai kepada pendapat bahwa riba adalah keuntungan berupa uang, barang atau jasa yang diperoleh dengan cara-cara yang melanggar perikemanusiaan. Menurutnya, kalau kita berdagang semata-mata didorong oleh nafsu untuk memperoleh keuntungan, maka keuntungannya adalah termasuk riba. Tafsir yang salah mengenai riba, niscaya akan mengaburkan pandangan dan pengertian kita tentang tujuan Islam yang sebenarnya, ujar beliau. Pendapat atau bisa disebut ijtihad Sjafruddin Prawiranegara sejatinya memperluas definisi riba dalam ekonomi. Pendapat Sjafruddin tidak diterima oleh kalangan praktisi perbankan syariah yang mengindentikkan riba dengan bunga bank.
 
Sjafruddin dengan argumentasi yang komprehensif menjelaskan bahwa yang diharamkan Allah SWT bukanlah memperalat dan memeras uang, sebab uang tidak dapat diperas. Tetapi yang dilarang Allah adalah memperalat dan memeras sesama manusia, baik dengan mempergunakan uang maupun barang-barang atau jasa-jasa lainnya sebagai alat pemeras.” (Buku “Islam dan Umat Islam di Negara Pancasila – Fuad Nasar – Gre Publishing – 2017).
 
Dalam tataran yang lebih luas, negara kita saat ini punya hutang 3000-an triliyun dan uang itu digunakan untuk menutup defisit APBN dan membiayai proyek-proyek pembangunan. Dan hampir seluruh pinjaman itu dijalankan dengan skenario bunga. Kalau hukum riba sama dengan bunga Bank, maka hampir semua lini kehidupan di Indonesia bergelimang dengan riba. Termasuk juga dana-dana bantuan yang diterima oleh MUI dan ormas-ormas Islam dari pemerintah.
 
Secara ekonomi, tidak mungkin sebuah bank memberikan pinjaman tanpa bunga kepada nasabahnya. Karena sebagai sebuah lembaga bisnis, Bank juga berorientasi kepada keuntungan. Bank juga harus mengalokasikan dana membiayai gaji karyawan, operasional kantor, dan pembiayaan lainnya. Terus darimana biaya-biaya tersebut ditalangi kalau misalnya tidak ada margin dari produk-produk yang mereka tawarkan kepada nasabah.
 
Untuk kasus lembaga sosial seperti ZIS saja secara syariat dibolehkan mengambil 1/8 dari dana zakat yang terkumpul dari masyarakat sebagai bagian atas statusnya sebagai AMIL. Dana 1/8 itu bisa dimanfaatkan sebagai dana untuk biaya operasional, membeli gedung/sewa kantor dan membayar gaji pengawai. Sangat lucu apabila kemudian Bank Konvensional kemudian dipaksa untuk memberlakukan bunga 0%. Sementara status mereka adalah lembaga bisnis.
 
Beberapa ustadz kemudian menawarkan kepada umat muslim untuk migrasi ke perbankan syariah. Dalam realitanya, perbankan syariah malah menetapkan margin pengembalian pinjaman yang lebih besar dibandingkan suku bunga yang ditetapkan oleh bank konvensional. Dan dalam produk investasi usaha, Bank Syariah tidak mau menanggung kerugian apabila nasabah mengalami masalah dalam usahanya.
 
Yang selalu diucapkan oleh pendukung bank syariah adalah yang penting akadnya, tidak masalah apabila margin pengembalian kredit akumulatifnya lebih besar dibandingkan bank konvensional. Bagi saya, mungkin secara akad transaksi di Bank Syariah telah memenuhi satu kaidah syariah. Tetapi ada kaedah penting lain yang dilanggar yaitu, DZOLIM. Karena pertambahan yang dikenakan kepada nasabah lebih besar dari bank konvensional yang dituding sebagai bank ribawi.
 
Dalam fiqh islam, memang dikenal ada skenario qardhul hasan. Dimana si peminjam tidak dibebani beban pertambahan pinjaman. Tetapi sampai saat ini sistem qardhul hasan ini sangat terbatas, hanya diberikan kepada nasabah dengan kriteria tertentu dan tidak pernah mencapai ketersedian dana 5% dari total dana kredit yang diberikan oleh perbankan syariah.
 
Menurut hemat saya, kriteria riba yang perlu mendapatkan perhatian para ustadz adalah tidak saja kepada aspek AKAD, tetapi harus mempertimbangkan aspek DZOLIM. Sehingga solusi yang saya tawarkan adalah seharusnya riba diukur dari seberapa banyak pertambahan yang didapatkan oleh nasabah atas bunga bank tabungan dan dan pertambahan yang didapatkan oleh Bank dari bunga bank kredit. Dan hal itu memperhatian segala biaya yang dikeluarkan bank dalam kegiatan bisnisnya dan standar syar’i terkait keuntungan maksimal yang diperbolehkan diambil oleh bank dari nasabah.
 
Sehingga ketika batas maksimal penetapan margin keuntungan itu melebihi dari yang diperbolehkan, barulah bisa dikatakan transaksi yang dilakukan adalah transaksi ribawi. Termasuk juga kalau batas maksimal itu dilampaui oleh perbankan syariah, maka bank syariah tersebut telah terjerumus pada praktek ribawi.
 
Menyamakan bunga kredit bank dengan riba telah membuat pengusaha muslim takut untuk meminjam uang di bank untuk pengembangan usaha. Padahal untuk membuka usaha dalam skala besar dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Bisa miliaran bahkan triliyunan. Misalnya untuk membuat bisnis supermarket di seluruh Indonesia atau masuk dalam bisnis perhotelan. Tak cukup dengan hanya dengan mengandalkan uang yang cuma 10 miliar rupiah. Sangat jarang kemudian ada investor sesama muslim yang berkenan meminjamkan uangnya sebesar itu. Apalagi kemudian ada persoalan masalah kepercayaan di antara umat Islam dimana seringkali hutang sesama teman tidak dibayar. Nah, apabila ekspansi bisnis saya tergantung pada kebutuhan modal, sementara modal dari pinjaman bank diharamkan, bagaimana caranya pengusaha muslim bisa bersaing dengan pengusaha-pengusaha non muslim yang tidak mempermasalahkan bunga bank???
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s