Menjauhnya Esensi Ramadhan


Saat Ramadhan Bukan Lagi “Menahan Diri” Tetapi Menjadi Lonjakan Konsumsi, Ajang Rekreasi dan Seharian Pelototin TV
 
Malam ini karena stok kertas kado untuk pesanan buku dari konsumen habis, sehabis tarawih saya menuju ke Mirota Kampus, salah satu pusat perbelanjaan semi supermarket yang ada di kawasan UGM. Karena kertas kado yang ditawarkan punya banyak versi dan harga yang lumayan murah. Parkiran penuh sehingga saya harus memarkir si Grand Tua saya di parkiran toko tetangga Mirota Kampus. Dan memang benar, orang hiruk sesak membeli berbagai keperluan. Bahkan antrian kasir paling pendek harus menunggu 7 orang. Karena belanjaan saya cuma kertas kado dan beli satu bungkusan kecil buah, akhirnya saya bisa selamat tidak menghabiskan banyak waktu di pusat perbelanjaan itu.
 
Hal yang sama juga saya alami, ketika malam habis tarawih di awal-awal Ramadhan beli 1 pcs baju koko. Karena baju koko terbaru yang saya punyai adalah baju yang saya beli 3 tahun yang lalu. Menurut saya sieh baju koko seharusnya dibeli di awal Ramadhan. Karena kemenangan itu sebenarnya sudah harus dimulai dengan berjuang sejak bulan Ramadhan. Ketika menyabangi Mirota Kampus di awal-awal Ramadhan itu, parkiran juga penuh. Antrian kasir juga panjang.
 
Dan menariknya, suasana di pusat perbelanjaan ini akan semakin marak di malam takbiran. Jubelan orang akan semakin sesak. Parkiran pun akan meluber sampai memakai jalan. Artinya, dari mulai Awal Ramadhan, Pertengahan Ramadhan sampai akhir Ramadhan tingkat konsumsi masyarakat selalu stabil di level tinggi.
 
Tadi pagi, saat memprint surat untuk pengantar hadiah buku kepada Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota dan Komisaris BUMN di fotokopian langganan, mata saya terpapar oleh siaran entertainment yang menanyangkan kegiatan Ramadhan Selebriti. Yang membuat saya terpana adalah salah satu scene yang menampilkan pasangan selebriti yang sebenarnya sudah taubat dari dunia keartisan karena ngaji di komunitas SALAFI. Pasangan “mantan artis” ini hijrah dengan istiqomah dan banggaan dengan stye-lan pakaian jingkrang dan jenggotan, sementara yang perempuan memakai cadar. Menarik bagi saya adalah di bulan Ramadhan ini mereka sengaja jalan-jalan ke Eropa dan membiarkan para awak program infotainment meliput kegiatan-kegiatan mereka. Padahal saya tahu betul bagaimana teman-teman ngaji saya di Salafi dulu menyembunyikan istri mereka dari ruang publik dan saya tahu betul bagaimana beberapa ustadz Salafi saya sangat anti yang namanya TV. Bahkan dalam banyak kajian saya cukup kenyang dengan ungkapan “Buat Keluarga Muslim, Punya TV di rumah itu Haram”. Jika pasang TV haram bagaimana hukumnya malah dengan senang hati menjadi aktor dari program infotainment gossip???
 
Di bulan Ramadhan ini para selebriti bahkan harus buka dan sahur di lokasi syuting demi meraih rating tontonan yang tinggi. Para ustadz dipaksa begadang untuk menjadi juri acara lomba da’i tingkat Asia Tenggara. Yang jam tayang-nya dimulai tengah malam hingga waktu sahur. Semua program dibuat sebagus mungkin untuk meng-attrack masyarakat untuk terus nonkrongin TV dari Sahur sampai Buka, dari Sholat Shubuh sampai Sholat Tarawih. Sehingga saya-pun bertanya-tanya, bukankah di bulan Ramadhan yang disunnahkan itu lebih banyak menghabiskan waktu di Masjid dibandingkan habiskan waktu pelotitin TV???
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s