SUNGGUH KAMI MERINDUKAN TELADANMU PAK NATSIR


 
Tidak jarang kita mengagumi seseorang atau mengidolakan tokoh terkenal, tetapi setelah kita ingin lebih dekat atau berkenalan secara pribadi, seringkali kesan semula yang positif bisa berubah. Namun tidak demikian dengan Mohammad Natsir. Sikapnya yang selalu memuliakan tamu memberi pelajaran bahwa bagi seorang pemimpin tidak ada urusan besar atau urusan kecil, apalagi menyangkut kepentingan rakyat kecil.
 
Sungguh kami merindukanmu sederhana dan arif bijaksanamu Pak Natsir… Partai-mu dilarang hidup lagi oleh Pak Harto, tapi engkau bantu menulis surat kepada sahabat Jepangmu berikan bantuan untuk program pembangunan Pak Harto… Tak sekalipun engkau tergiur untuk mendapatkan jabatan di masa Pak Harto.. Karena jabatan sebagai pendakwah sudah lebih dari cukup bagimu…
 
Engkaulah yang mendirikan kembali NKRI lewat mosi integralmu setelah Indonesia terkoyak-koyak di masa RIS, tetapi engkau dituduh sebagai pengkhianat bangsa oleh lawan-lawan politikmu.. Namun engkaupun sabar mendekam di penjara dan dipinggirkan oleh penguasa…
 
Engkau bangun pendidikan Islam.. Engkau sebar dakwah Islam, tetapi engkau tak pernah menjadikan kolega pengusahamu sebagai tempat untuk membuat dirimu kaya raya… Sederhanamu tetap abadi dari masa muda, menjadi menteri dan perdana menteri, sampai akhir hayatmu…. Jabatan Menteri, Perdana Menteri, Pemimpin Partai Besar melekat di pundakmu, tetapi tidak membuatmu malu dan gengsi memakai jas tambalan…
 
K.H. Hasan Basri, saat itu Ketua Umum MUI, dalam acara Tasyakur 80 Tahun Mohammad Natsir tanggal 17 Juli 1988 mengemukakan; saya sengaja mengurangi ke rumah Pak Natsir, kasihan beliau. Setiap kali kami ke sana, kami melihat tamu sudah berderet, dan semua tamu itu membawa persoalan yang sulit. Mohamad Roem mengatakan: ada yang bertanya Pak Natsir ini dokter apa. Mengapa ramai sekali pasiennya. Biasanya kembali dari dokter diberi resep dan kwitansi. Tapi Pak Natsir tidak. Diberi sarana dan senyum yang manis. Kadang-kadang kalau ada yang minta uang diberi oleh Pak Natsir. Jadi sebaliknya dari praktek dokter yang biasa itu.
 
Engkau adalah pemikir dan pemimpin berintegritas, memegang teguh prinsip perjuangan dan rendah hati.
 
Hari ini, Umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia merindukan kehadiran pemimpin yang bersih, pemimpin yang tidak pernah memikirkan untuk memperkaya diri, pemimpin yang mengayomi umat, pemimpin yang satu kata dan perbuatan serta tidak berpura-pura.
 
Pemimpin yang mengajarkan keluarganya hidup dalam kesederhanaan. Dan itulah yang engkau ajarkan kepada keluargamu sekali pun engkau pernah memangku jabatan tinggi di pemerintahan dan aktif dalam organisasi internasional.
 
Natsir mampu memisahkan mana yang milik umat dan mana yang milik pribadimu…
 
Dalam sejarahnya tanah di Jln. Kramat Raya 45 Jakarta Pusat tempat berdirinya gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, dulu kantor Partai Masyumi adalah hibah dari Rahman Tamin untuk perjuangan Natsir semenjak memimpin Masyumi. Semasa hidupnya Natsir sertifikat kepemilikan telah diserah-terimakan dari atas nama beliau menjadi atas nama Yayasan Pembangunan Umat yang menaungi Dewan Dakwah. Natsir memisahkan antara milik pribadi dan milik perjuangan.
 
Menurut cerita Yusril Ihza Mahendra, Raja Faisal dari Arab Saudi pernah mau memberi hadiah mobil mewah yang pantas digunakan oleh Natsir sebagai tokoh Dunia Islam. Natsir menolak dan mengatakan, “Kalau mau membantu, tolonglah bantu mahasiswa-mahasiwa Indonesia untuk melanjutkan studi di Arab Saudi.” pintanya. Natsir memilih menggunakan mobil sederhana miliknya sebagai sarana transportasi.
 
(Buku “Islam dan Muslim di Negara Pancasila – Gre Publishing – 2017, “Gagasan dan Gerak Dakwah Natsir – Gre Publishing – 2012)
Iklan

One thought on “SUNGGUH KAMI MERINDUKAN TELADANMU PAK NATSIR

  1. Com'è che diceva quel tizio?…Grazie, siete un pubblico farrtstico.Vonaei dirvi altro, vorrei dirvi molto, ma ora non ci sarebbe spazio o tempo.Ma lo farò nei prossimi giorni.E mesi, o – magari – anni.Stay tuned. ;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s