SELAMATKANLAH REFORMASI PAK AMIEN


 
Oleh: Anggun Gunawan
 
Nalar kita memang sudah terkoyak dalam pembelahan akan berada di kubu mana dan akan membela siapa. Kalau tidak membela A maka dianggap tidak Islami. Kalau tidak mendukung B maka dicap tidak Pancasilais. Sebenarnya masyarakat tidak butuh klaim-klaim kebenaran. Mereka hanya ingin hidup sejahtera, tidak susah mencari makan untuk kemudian bisa beribadah dengan tenang. Tapi entahlah, kenapa di rezim Jokowi sejak dari Pilpres sampai detik ini rakyat Indonesia terus dibelah dan dihabiskan energinya untuk bertarung satu sama lain. Saling membenci satu sama lain. Dengan klaim paling islami-lah, paling pancasilais lah dan paling reformis.
 
Terkhusus soal ribut-ribut Pak Amien Rais. Saya lebih senang jika masalah ini dilokalisir pada persoalan Pak Amien Rais dengan Jaksa KPK saja. Pak Amien tinggal buktikan kalau uang 600 juta itu bukan uang korupsi dan Yayasan Soetrisno Bachir bukan yayasan “pencucian uang”. Nama Pak Amien bersih dan masyarakat kemudian bisa tenang dan mendapatkan pencerahan kebenaran.
 
Ketika Pak Amien ingin melaporkan 2 tokoh besar dalam kasus korupsi yang lebih besar, saya merasakan Pak Amien masih mempercayai KPK sebagai institusi penegakkan hukum tindak pidana korupsi. Kalau Pak Amien merasa kehormatan diri dan keluarganya dihancurkan oleh Jaksa KPK pada sidang Alkes bu Siti Fadilah, maka silahkan kadukan oknum Jaksa tersebut dengan delik pencemaran nama baik. Sehingga gelinding bola panas itu tidak kemudian beralih menjadi pertarungan Pak Amien & Simpatisan melawan KPK. Yang kemudian menguatkan asumsi bahwa KPK telah menjadi alat permainan politik dari rezim yang saat ini berkuasa.
 
Untuk menguatkan pembelaan kepada Pak Amien, masyarakat kita dan tokoh-tokoh kita menyebut-nyebut soal status Pak Amien sebagai “Bapak Reformasi”. Itu adalah fakta sekaligus penghargaan yang tak ingin saya gugat. Tapi izinkan juga saya menyampaikan beberapa fakta sejarah yang kemudian membuat hampir 20 tahun kita hidup di zaman reformasi tetapi keadilan dan kesejahteraan tak kunjung dinikmati oleh rakyat Indonesia secara menyeluruh. Dan selama 10 tahun, PAN partai yang dipimpin oleh Pak Amien adalah penyokong utama Rezim SBY.
 
Saya akan mulai dengan pertemuan tokoh-tokoh Islam di sebuah tempat di Jakarta. Ada semangat untuk kembali menghidupkan Partai Islam yang gagah dan membela umat Islam secara konsisten sebagaimana dulu yang dilakukan oleh Masyumi. Sebagian besar tokoh-tokoh itu sudah pada gelombang yang sama dan kesepakatan hampir dicapai. Tapi ketika Pak Amien mendapat giliran bicara, beliau malah berujar “Baju Islam terlalu sempit buat saya”. Pernyataan itu kemudian yang membuat Pak Anwar Harjono menangis. Dan akhirnya umat Islam kembali terpecah. Masing-masing tokoh Islam kemudian membuat partainya sendiri-sendiri yang kemudian hilang karena hanya meraih suara kecil tak melewati ambang ET.
 
Bagi saya yang paling berjasa di awal-awal Reformasi adalah Pak Habibie. Di masa transisi yang tak cukup 2 tahun, Pak Habibie bisa dengan cepat mengendalikan keadaan baik situasi keamanan, ekonomi maupun situasi politik. Tetapi saya termasuk orang yang sangat kecewa ketika Laporan pertanggung jawaban Pak Habibie ditolak oleh MPR yang saat itu diketuai oleh Amien Rais. Bukan karena kegagalan menyelamatkan reformasi tetapi karena Pak Habibie adalah orang kepercayaan Pak Harto, kental bau Orba-nya. Dan semangat yang mengalir deras saat itu adalah antek-antek Soeharto tak layak untuk masuk dalam masa baru, Zaman Reformasi. Saya tak tahu sejauhmana peran Pak Amien dalam mempengaruhi para anggota MPR kala itu untuk menolak laporan pertanggung-jawaban Pak Habibie. Tetapi bagi saya, itulah awal dari semakin tidak jelasnya arah Reformasi Indonesia.
 
Pemilihan Gus-Dur sebagai jalan Koalisi Poros Tengah untuk menghadang langkah Megawati menjadi Presiden setelah PDI-P menang di Pemilu 1999 adalah rentetan proses awal perjalanan Reformasi yang tak jelas. Gus-Dur yang terjungkal karena Bulog dan Brunei Gate kemudian dibumbui aksi pembacaan dekrit Gus Dur yang diwarnai insiden Gus Dur berjalan pakai celana pendek di Istana. Meskipun dalam masa menjabat hampir 3 tahun itu Gus Dur banyak dipuji terutama dalam hal pemberian hak-hak kepada minoritas Gus Dur turun. Kemudian digantikan oleh Megawati yang dari sisi pemberantasan korupsi dikenal sebagai Presiden yang memberikan SP3 untuk para perampok uang negara melalui BLBI dan menjual asset negara potensial kepada aseng, Indosat. Walaupun orang-orang PDIP sering bilang, KPK itu dilahirkan oleh Megawati.
 
Setelah melihat Reformasi semakin kabur, Amien Rais maju sebagai calon presiden berduet dengan Siswono Yudho Husodo yang kala itu dikenal sebagai tokoh HKTI dan pejuang ekonomi kerakyatan pada Pilpres 2004. Tetapi pamor Amien Rais sudah terlanjut tenggelam kala itu. Rakyat sudah lupa dengan heroisme reformasi yang baru 6 tahun mereka tinggalkan. Sehingga Amien Rais hanya menduduki peringkat 4 dari 5 pasangan yang bertarung di Pilpres 2004.
 
Kala itu Soetrisno Bachir menjadi donatur besar yang menyupply dana kampanye Pak Amien. Sehingga sebagai balas jasanya, Soetrisno Bachir dipilih menjadi Ketua Umum PAN 2005-2010. Tetapi setelah itu Mas Tris disingkirkan ketika PAN bersama Demokrat dan partai-partai yang lain berhasil membawa SBY menuju kursi kepresidenan untuk periode kedua, mengalahkan Pak Jusuf Kalla dan Megawati.
 
Gandul politik berubah, ketika Prabowo – dimana PAN ikut menjadi partai pengusung – kalah di Pilpres 2014. Sekarang giliran Hatta Radjasa yang disingkirkan dan Pak Amien ingat sama kawan kaya lamanya yang bernama Sotrisno Bachir. Setelah “terbuang selama 5 tahun, pada 2015 Mas Tris didaulat menjadi Ketua MPP PAN. Dan Zulkifli Hasan sebagai Ketua Umum mendapat tugas untuk membawa gerbong PAN merapat dalam barisan Rezim Jokowi. Dan Pak Jokowi yang baik hati pun dengan senang hati memberikan 1 kursi menteri atas aksi “pengkhinatan” PAN terhadap Koalisi Merah Putih. Untung saja Pak Prabowo tidak sakit hati. sehingga ketika PAN juga merapat mendukung Anies-Sandi di Pilgub DKI putaran kedua Pak Prabowo menerima dengan senang hati.
 
Selama 10 tahun bergabung dalam Rezim SBY sebenarnya Pak Amien bersama PAN punya kesempatan untuk meperbaiki Indonesia. Apalagi kala itu Pak Amien selepas kekalahannya di Pilpres 2004 membuat buku sangat ideologis “Selamatkan Indonesia”. Salah satu yang menjadi konsen Pak Amien di buku itu adalah kedaulatan ekonomi, yang salah satunya terkait dengan Freeport. Tetapi Hatta Radjasa yang menjadi perpanjangan tangan Pak Amien kepada SBY, juga tidak bisa berbuat banyak. Sehingga meskipun PAN masuk anggota Koalisasi Rezim SBY, tetapi Pak Amien termasuk tokoh yang sering menyampaikan kritik kepada kebijakan-kebijakan di masa SBY.
 
Masuk ke masa Jokowi. Pak Amien yang sudah memasuki usia kepala 7, sampai harus turun ke jalan beberapa kali dalam Aksi Bela Islam. Di usianya yang sudah mulai udzur, suara Pak Amien lantang terdengar. Bahkan Pak Amien bilang “Rezim Jokowi lebih parah daripada Rezim SBY”, meskipun sampai detik ini Pak Amien tidak berani menginstruksikan kepada Zulkifli Hasan untuk membawa PAN keluar dari Kabinet Indonesia Bersatu Jokowi. Dan kemarahan Pak Amien semakin menjadi-jadi ketika Jaksa KPK menyebutnya mendapat aliran dana dari kasus korupsi Alkes. Pak Amien yang sebenarnya sudah ingin menikmati hari tua bersama anak dan cucu serta ingin lebih fokus beribadah kembali diusik dan terusik. Dan kata salah seorang keluarganya, hari ini beliau ingin menuntaskan Reformasi dengan penegakkan Reformasi Hukum dengan datang ke kantor KPK.
 
Saya pribadi merasa reformasi sudah bergerak kepada bandul yang salah dan dipegang oleh orang-orang yang salah. Dan sebagai Bapak Reformasi, saya yakin Pak Amien kecewa dengan “HASIL” reformasi saat ini dan seperti ini. Karena untuk meruntuhkan Orde Baru Pak Amien mempertaruhkan nyawanya.
 
Pak Amien memang sudah berusia senja. Dan pada tahun 2019 nanti, beliau sudah berusia 75 tahun. Sama dengan usia Pak JK yang juga berusia 75 tahun di tahun 2017 ini. Tetapi saya yakin Pak Amien masih sehat jasmani apalagi rohani. Beliau masih cukup kuat secara fisik dan pemikiran-pemikirannya masih bernas. Masih kuat kena angin malam sebagaimana safari tarawih yang beliau lakukan dari masjid ke masjid pada ramadhan tahun ini.
 
UNTUK MENYELAMATKAN REFORMASI SAYA INGIN PAK AMIEN KEMBALI PEGANG KEMUDI INDONESIA DENGAN MAJU PADA PILPRES 2019 NANTI.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s