MEMBELA HABIB RIZIEQ SHIHAB


 
Oleh: Anggun Gunawan
 
Orang seawam apapun tetapi masih punya rasa malu, tentu tidak ingin aurat tubuhnya tersebar di muka umum. Kecuali komunitas Nudies ataupun sebagian orang-orang yang memang tidak punya konsep aurat dalam pikiran mereka. Tetapi bagi seorang muslimah seperti bu Firza Husein yang foto2 berbikini pun tidak pernah diuploadnya dalam sosial media ketika berwisata ke pantai terasa aneh kalau dengan senang hati membiarkan foto-foto tanpa pakaiannya tersebar luar ke publik.
 
Kalaupun chat whatapps Habib dan Firza benar adanya, itupun bukanlah kewenangan dari penegak hukum untuk menjerat mereka dalam perkara pidana. Karena itu adalah wilayah private mereka berdua. Hukum baru bisa masuk ketika ada gugatan dari istri sah Habib Rizieq tentang perselingkuhan itu (jika memang terjadi) dan wilayahnya tetap wilayah perdata. Bukan wilayah pidana.
 
Tetapi kan sampai sekarang istri habib tidak pernah melaporkan soal dugaan perselingkuhan itu kepada polisi. Keluarga Firza juga tidak melaporkan soal “hubungan” Habib dan Firza kepada polisi. Kalaupun masuk wilayah perdata, gugatan yang biasa dilakukan oleh wanita yang diselingkuhi oleh suaminya adalah gugatan cerai. Tidak ada yang diantarkan menuju jeruji penjara. Paling nanti ada pembagian gono-gini dan lain sebagainya.
 
Mau sevulgar apapun chat ataupun seandainya Habib dan Firza buat video porno, tidak ada hak polisi untuk memperkarakan mereka berdua. Itu adalah hak mereka dan itu adalah wilayah privacy mereka.
 
Saya tidak bisa membayangkan kalau polisi punya kewenangan untuk menyadap dan membongkar kasus perselingkuhan, entah berapa orang pejabat, politisi bahkan orang biasa yang akan dijebloskan dalam penjara. Bisa jadi pemerintah akan LUMPUH karena perselingkuhan PNS, Politisi adalah sesuatu yang sangat mudah ditemui dan massif terjadi.
 
Sampai saat ini saya punya praduga bahwa yang melakukan penyadapan terhadap HP Habib dan Firza adalah lembaga-lembaga yang punya kewenangan untuk itu. Yang tak lain dan tak bukan adalah aparat penegak hukum sendiri. Apalagi HP firza pernah disita oleh polisi. Dan proses membongkar isi folder dan berbagai chat yang dilakukan Firza sangat mungkin dilakukan. Dan praduga kalau yang menyebarkan dan membuat website “baladacinta” adalah polisi atau orang ketiga yang mendapatkan sumber chat dan foto itu dari polisi secara logika orang awam sangat mungkin terjadi.
 
Kemungkinan kedua adalah provider whatsapp. Tetapi setahu saya, perusahaan whatsapp sangat menjaga privacy percakapan para konsumennya. Paling yang bisa memaksa untuk membuka data digital itu adalah aparat hukum.
 
Pihak ketiga yang bisa membuka chat di hp seseorang adalah counter service HP. Tetapi tidak ada keterangan kalau dalam durasi waktu chat itu Firza melakukan service HP.
 
Kemungkinan keempat adalah HP Firza atau Habib hilang. Dan data-data digitalnya disebarkan oleh orang yang tidak bertanggung-jawab.
 
Tidak berhasil/tidak “mau”nya polisi untuk mencari pelaku pembuat website “baladacinta” sampai detik ini menimbulkan dugaan jangan-jangan polisi sendiri yang membuat website baladacinta itu atau ada orang ketiga yang diberikan akses sumber untuk kemudian menyebarkan konten chat dan foto Firza ke internet.
 
Sangat tidak mungkin seorang ulama seperti Habib dan seorang wanita berjilbab seperti Firza dengan senang hati membuat website khusus untuk perselingkuhan mereka dan bisa dilihat serta diakses oleh publik. Orang awam pun yang sehari-hari melakukan kemaksiatan cenderung untuk menyembunyikan perselingkuhan dari pasangan resminya.
 
Sehingga dalam hal ini Habib dan Firza sebenarnya adalah korban. Dan treatment untuk korban adalah dilindungi bukan malah diperkarakan dengan dalih aksi mereka (jika benar) MERUSAK MORAL BANGSA.
 
Dilihat dari sisi Hak Asasi Manusia, sebenarnya Habib dan Firza yang sebenarnya sedang didzolimi. Karena mau sebejat apapun “perselingkuhan” mereka (jika memang itu terjadi) tetap saja tidak ada hak polisi untuk membuka ataupun memperkarakan aib itu. Apalagi orang-orang terdekat Habib dan Firza tidak ada yang merasa curiga atau merasa dirugikan apabila memang perselingkuhan itu ada.
 
Orang mau selingkuh atau sedang ta’aruf untuk poligami dan bagaimana caranya bukanlah wewenang polisi untuk ikut campur. Dan anehnya kok sekarang polisi malah capek-capek sendiri untuk membuktikan bahwa “perselingkuhan” itu ada.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s