GENIT-GENIT, TAPI NGAK MAU DICUBIT


 
Oleh: Anggun Gunawan (Pengurus ICMI DI. Yogyakarta)
 
Setiap alam punya hukumnya masing-masing. Masuk ke dalam dunia artis, siap-siap dihujani gossip. Masuk dalam dunia dakwah pewaris para Nabi, siap-siap juga dibully, dicaci dan diperangi. Masuk ke dalam dunia politik yang berkaitan uang negara, siap-siap dengan dugaan dan godaan korupsi.
 
“Nature” masing-masing “dunia” itu memberikan ujian ketanggguhan seorang artis, seorang ulama dan seorang politisi untuk istiqomah menjalani pilihan.
 
Khusus untuk ulama, banyak-banyaklah mentadaburi alqur’an bukan sekedar menceramahi umat untuk membela alqur’an. Dalam alqur’an pernah diceritakan bagaimana Nabi pernah mengalami fitnah soal wanita. Dimana istrinya Aisyah dituduh berzina. Dan sahabat-sahabat juga banyak yang termakan isu itu. Bahkan Nabi-pun mendiamkan Aisyah sekian lama karena dalam hatinya juga ada prasangka Aisyah benar-benar selingkuh. Gossip Aisyah selingkuh benar-benar menghantam rumah tangga dan mengubah sikap Nabi kepada Aisyah. Sampai akhirnya Allah menurunkan An-Nur ayat 11-26. Dan setelah itu hubungan Nabi dengan Aisyah semakin mesra.
 
Menuduh istri nabi berselingkuh adalah sebuah penghinaan yang teramat keji kepada Nabi yang mulia dan terhormat. Nabi sendiri tahu siapa yang menyebarkan fitnah itu dan memassifkan isu itu. Tapi sejauh bacaan saya, Nabi tidak pernah melakukan penghukuman kepada orang-orang yang terlibat dalam kasus fitnah selingkuh Aisyah. Dan Nabi-pun tidak menggelar persidangan syariah buat orang-orang yang telah mencemarkan nama dirinya dan keluarganya. Apalagi melakukan konfrensi pers dengan mengadukan perselingkuhan dan tindakan asusila yang dilakukan oleh tokoh-tokoh penebar fitnah dari kalangan orang munafik.
 
Politisi, baik yang duduk di lembaga eksekutif maupun legislatif, tidak bisa menghindarkan diri dari yang namanya proses pengaturan dan pembahasan uang negara termasuk pemakaian uang negara. Penggunaan uang negara selalu rentan dengan korupsi. Oleh karena itu dilakukan pemeriksaan dan pengawasan berlapis serta dibuat institusi KPK untuk memastikan uang negara didistribusikan secara benar dan untuk menindak para pelaku penyeleweng uang negara.
 
Ketika ada kasus korupsi yang melibatkan politisi, maka sudah kewajiban jaksa KPK untuk memaparkan siapa-siapa saja yang menikmati uang korupsi tersebut. Dan kalau ada nama-nama petinggi parpol yang disebut, itu sudah biasa dan normal-normal saja. Karena kerjaan politisi tidak jauh-jauh dari pengaturan dan penggunaaan uang negara. Dan ada ruang untuk membantah persangkaan dan tuduhan itu. Misalnya, kalau merasa nama baiknya dicemari, sang politisi bisa mengadukan Jaksa KPK dengan pasal pencemaran nama baik. Karena tidak ada satupun yang kebal dari jeratan hukum di negara hukum bernama Indonesia. Hakim saja bisa diperkarakan karena keputusan yang janggal lewat jalur komisi yudisial, apalagi jaksa yang menuduh tidak berdasarkan fakta dan merugikan secara moril dan materil orang-orang yang disebutnya tanpa bukti dalam sebuah persidangan.
 
Kalau misalnya tidak ingin mendapatkan ujian-ujian keniscayaan dalam dunia dakwah dan politik, maka tak usah masuk di dalamnya. Ngak usah juga minta dipuja-puja jadi Habib. Cukup jadi sufi saja. Jauhkan diri dari hiruk-pikuk masyarakat dan fokus saja beribadah kepada Allah 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, 360 hari setahun sampai menemui ajal. Tak usah melakukan sweeping-sweepingan untuk amar ma’ruf nahi mungkar, karena itu berpotensi memicu kemarahan dan kebencian orang-orang merasa kepentingan “ekonomi” nya dimatikan. Ngak akan berurusan dengan penegak hukum, karena yang dikerjakan hanya dzikir kepada Allah.
 
Begitu juga dengan yang ngak mau terkena getah dan sengketa politik. Bubarkan saja partai politik yang dibikin. Atau kalau merasa eman-eman, serahkan saja pengurusan partai politik yang ia dirikan kepada orang lain. Cukup mengingat-ingatkan saja kalau jalan-jalan para pengemban amanah yang baru itu melenceng dari kebenaran dan garis perjuangan. Urus saja kegiatan-kegiatan sosial dan sibukkan diri untuk mengurus sekolah dalam membentuk generasi-generasi yang anti kolutif dan koruptif.
 
Tapi para Habib dan Politisi kita sekarang lebih banyak cenggeng dan genit-genitnya. Tempat maksiat diperangi, tapi janda juga didekati dan dikasih hati. Rezim yang berkuasa dikritik dan dinyek-nyek-i tapi Partainya disuruh bergabung sama penguasa agar bisa juga kecipratan posisi dan kursi. Lantang bilang rezim Jokowi lebih parah daripada rezim SBY, tetapi mengemis-ngemis agar dimasukkan dalam Kabinet Kerja Jokowi.
 
10 tahun selama menjadi teman sejoli SBY, apakah PAN itu berjuang lebih baik untuk meminimalisir ketimpangan ekonomi pusat dan daerah, apakah kader-kadernya yang yang diparkir sebagai menteri bekerja lebih baik daripada menteri-menteri di Rezim Jokowi??? Apakah perjuangan mereka untuk menyelamatkan kekayaan alam Indonesia termasuk di dalamnya freeport lebih heroik dibandingkan dengan kerja kabinet Jokowi???
 
Belajar lagi dari Nabi yang tidak sibuk untuk membuat bantahkan atas segala apapun tuduhan negatif yang dialamatkan kepadanya. Ketika dibilang orang gila, Nabi senyum-senyum saja. Ketika diperangi sama Quraisy Mekkah, Nabi bersabar dan memilih pindah ke Madinah. Ketika dilempari batu dan kotoran di thaif, Nabi malah mendo’akan hidayah.
 
Ketika harus berperang, Nabi berperang benaran dengan sepenuh hati dan tidak berkompromi untuk persoalan aqidah.
 
Nah, kalau memang Habib dan Amien Rais ingin berperang benaran dengan kedzaliman Rezim Jokowi, maka berperanglah secara istiqomah. Pertama, lepaskan ikatan-ikatan dengan rezim Jokowi.
 
Untuk Pak Amien, minta kepada Zulkifli Hasan untuk membawa PAN keluar dari Kabinet Jokowi. Bangun kekuatan dan program yang lebih baik dari program dan agenda pembangunan rezim Jokowi dengan cara demokratis di 2019. Jangan kemudian cenggeng karena cuma disebut-sebut Jaksa KPK namanya, kemudian mengagitasi rakyat untuk berada di barisannya untuk melawan intervensi politis rezim berkuasa. Tapi kan sampai saat ini barisan PAN-nya tetap dibiarkan mesra dan bekerjasama dalam kabinet Indonesia Bersatu.
 
Untuk Habib Rizieq, kalau memang mau membawa umat menuju kemenangan, maka selesaikan dulu kasus tuduhan perselingkuhan dan asusila bersama Firza secara gentlemen di depan hukum. Polisi mungkin bisa membuat skenario rekayasa, tetapi masih ada harapan pada hakim-hakim yang objektif dan berintegritas di pengadilan. Bersihkan dulu fitnah wanita, baru kemudian bawa umat memimpin Bangsa Indonesia menuju negara yang anti kemaksiatan dan dosa. Setelah itu, carikan untuk umat pemimpin yang amanah dan lebih baik daripada Jokowi. Kasih referensi umat dengan kehadiran kandidat presiden yang jauh lebih baik dari Jokowi dan kroco-kroconya.
 
Jangan kemudian malah melarikan diri. Kemudian umat disuruh bertarung di tanah air. Kemudian Habib cuma berusaha menenangkan dan menyelamatkan diri sendiri di Saudi.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s