Mencari “ISLAM”


 
Aku dibesarkan di sebuah kota kecil di Sumatera Barat, Kota Solok. Tak ada surau tempat belajar agama sebagaimana yang dibangga-banggakan oleh orang Minang sebagai lembaga yang melahirkan banyak ulama dan tokoh cendekia. Aku hanya menempuh pendidikan dasar (tidak pernah masuk TK, tapi langsung masuk SD di umur 5,5 tahun) sampai menengah atas di sekolahan umum. Dulu pernah masuk TPA pas SD, tetapi ngak terlalu suka dengan pola pengajaran keras main pukul dan marah-marahan ala guru TPA nya.. Hingga aku baru bisa baca alqur’an dengan lancar sewaktu kelas 2 SMP lewat belajar privat sehabis magrib di rumah Bang Umar, penjual Sum-Sum yang kebetulan tetanggaan rumah. Bekal yang lumayan kalau disuruh guru baca Al Qur’an ketika memulai jam pelajaran sewaktu SMA dan jadi bekal untuk jadi Juara Cerdas Cermat Al Qur’an dan Pengetahuan Islam se SMA/SMK se kota-kabupaten Solok bersama 2 teman lainnya. Tetapi kemampuan Al Qur’an dasar itu masih harus kupoles sewaktu kuliah dengan belajar tahsin dengan Ustadz Salafi-ku yang lulusan Universitas Madinah dan mempunyai ranji hafalan Qur’an (sanad) yang sampai ke Rasulullah, Ustadz Arif Syarifuddin, Lc.
 
Pada masa SMA, bacaan wajibku adalah majalah Sabili. Biasanya setiap hari aku sengaja jajan sehemat mungkin agar bisa mengumpulkan uang untuk beli tabloid Bola dan majalah Sabili itu. Kala itu yang lagi hangat-hangatnya dibahas adalah perang jihad di berbagai negeri muslim. Dari di Chechnya, Palestina, Afganistan.. Osama bin Laden dipromosikan sebagai idola waktu itu. Untuk isu dalam negeri, berbagai artikel Pancasila adalah thaghut hadir dalam hampir semua edisi. Bekal bacaan itu kemudian menjadi amunisiku untuk berdebat di depan kelas dengan guru mata pelajaran Pancasila. Bacaanku semakin diperkuat dengan obrolan-obrolan bersama seorang teman yang lagi nyantri di pesantren di Jawa… saat liburan ia pulang kampung dan itu menjadi momen terbaikku untuk update informasi tentang Islam… ia juga punya pemahaman bahwa pancasila itu thaghut. tetapi setelah kuliah baru aku ketahui bahwa temanku itu secara pemikiran terpengaruh oleh NII. pandanganku tentang pancasila kemudian mendapatkan jawaban yang lebih memuaskan lewat Buku Pak Adian Husaini yang berjudul “Pancasila Bukan untuk Menindas Umat Islam” yang kudapatkan langsung dari beliau sebagai hadiah karena aku memberikan pertanyaan langsung kepada beliau dalam acara bedah buku tersebut di UGM. lewat buku itulah aku mendapatkan informasi yang lebih komprehensif bahwa Pancasila adalah salah satu buah karya terbaik yang pernah diwariskan oleh para ulama dan cendekiawan muslim untuk kemerdekaan Indonesia.
 
Di waktu SMA juga aku sudah membiarkan janggut tumbuh di wajahku. Karena lewat kitab hadist kepunyaan bapak yang kubaca, memelihara jenggot adalah sunnah rasul… Tetapi gara-gara jenggot ini kemudian aku “dimusuhi” oleh salah seorang guru perempuan berjilbab besar di sekolahku. Selama 3 tahun beliau tidak pernah mengajar di kelasku. Tetapi perdebatan sengit biasanya terjadi pada saat upacara di hari senin dan upacara kultum di hari jum’at. Beliau selalu ngotot menyuruhku untuk memotong jenggot dengan stigmatisasi teroris. Tetapi aku kukuh dengan dalil bahwa memelihara jenggot adalah sunnah rasul. Kebiasaan memilihara jenggot itu kemudian semakin mantap kujaga ketika aku ngaji di Salafi dan bahkan semakin lebat dan panjang. Karena ustadz-ustadz salafiku bilang, jenggot itu baru boleh dipotong kalau sudah melebihi 1 genggaman tangan. Setelah mengantarkan SMA-ku menjadi juara Cerdas-Cermat se-kota dan kabupaten Solok, akhirnya serangan dari guru-guru terhadap jenggotku tidak lagi kentara. Yang terjadi lebih banyak diskusi-diskusi keislaman saat berpapasan ataupun di perpustakaan saat jam istirahat.
 
Setelah aplikasi PMDK-ku untuk masuk Psikologi UGM gagal, aku harus pindah ke Padang untuk mengambil bimbel persiapan SPMB. kala itu ada 3 lembaga bimbel yang terkenal: GO, Gama dan Adzkia. Aku memilih nama terakhir karena siswa laki-laki dan perempuan ditempatkan di kelas terpisah. Termasuk juga para tentornya kebanyakan adalah aktivis dakwah kampus ketika mereka kuliah. Kebanyakan adalah alumni UI dan beberapa kampus di Jawa. Pengajar ceweknya berjilbab besar semua. Lembaga ini dimiliki oleh Prof. Irwan Prayitno yang sekarang menjadi gubernur Sumatera Barat. pertemuanku dengan Prof. Irwan hanya sekali ketika pembekalan psikologi kepada seluruh peserta bimbel beberapa hari sebelum pelaksanaan SPMB. Baru ketika kuliah aku tahu bahwa itu adalah lembaga yang sangat kental dengan nuansa Tarbiyahnya alias dihidupkan oleh kader-kader PK(S). Tapi yang menarik perhatianku kala itu malah sekre Majelis Mujahiddin yang berada tak jauh dari kantor Adzkia. Saat berpapasan aku merasa heran kenapa mereka berpakaian unik, berjubah dan kebanyakan berwarna putih.
 
Terbang merantau ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di Filsafat UGM (ada 2 pilihan yang kuisi saat SPMB, Filsafat UGM dan Ilmu Politik Unand Padang) tak menghilangkan semangatku untuk “mencari” Islam. Sesampai di Jogja aku langsung disambut dengan Ramadhan. Selepas OSPEK Kampus, aku dengan beberapa teman se jurusan yang sama2 berasal dari Padang (termasuk kawan Oce Madril yang saat ini terkenal sebagai aktivis dan akademisi gerakan Anti Korupsi) mendaftar sebagai Panitia “Ramadhan di Kampus” Jamaah Shalahuddin UGM. Selama 3 minggu kami mengabdikan diri untuk memeriahkan acara Ramadhan di Kampus. Karena di Minggu terakhir kami tak sabar untuk pulang kampung untuk memperlihatkan jas almamater UGM kepada para guru dan adik-adik di SMA. Untuk memantapkan status sebagai anggota LDK Jamaah Shalahuddin, aku mengikuti TKJS I dan setelah itu diplot sebagai staf di departemen kajian dan wacana dengan kepala departemennya Mas Rahmat Resmiyanto, senior unik yang ngaji di salafi tetapi suka baca buku-buku filsafat (sekarang beliau jadi Dosen Fisika di UIN Sunan Kalijaga Jogja).
 
Kemudian datanglah telpon dari bapak soal bagaimana kuliahku di Jogja. Terus aku banyak cerita soal kegiatan-kegiatan selepas kuliah di lembaga dakwah kampus. Kata bapak, coba masuk HMI karena akan banyak membantu dalam berbagai hal nanti. Di awal tahun 2003 di semester 2 kuliah, aku mendaftar ikut Batra (LK 1) HMI MPO Fakultas Ekonomi UGM. Di Jogja sebenarnya ada 2 HMI yang sangat kuat dan saling bersaing untuk mendapatkan kader. HMI MPO dan HMI DIPO. Saat itu aku berpikir HMI MPO lebih islami dibandingkan HMI DIPO. Karena HMI MPO tetap istiqomah memegang asas Islam meskipun mendapatkan teror dari pemerintah Orde Baru dalam implementasi Asas Tunggal Pancasila, sementara HMI DIPO menurutku adalah orang-orang “penakut” yang mau berkompromi untuk merubah asas organisasi menjadi Pancasila. Seperti kuuraikan di atas, kala itu aku masih menganut paham Pancasila adalah Thaghut.
 
Batra yang sangat istimewa. Karena materi pertama sudah disuruh untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Selama 3 jam kami dibuat pusing oleh seorang instruktur yang sangat pintar berlogika dan menyampaikan dalil. Keesokkan harinya aku juga semakin shock karena berhadapan dengan instruktur berpakaian jilbab besar hitam dan bercadar dalam materi Konsep Politik Islam. Beberapa tahun kemudian aku baru tahu bahwa kedua instruktur itu punya pemahaman syiah. Di masa itu ada 2 komunitas yang memakai cadar; Salafi dan Syiah. Biasanya kita baru tahu kalau ngobrol lebih jauh dengan mereka. Preferensi pemikirannya bisa sangat kontras dan bisa ditangkap dari tokoh-tokoh atau ulama-ulama yang sering mereka sebut-sebut.
 
Aku senang berada di HMI dan sudah berencana untuk tinggal di sekre HMI MPO Ekonomi UGM. Apalagi aku ketemu banyak senior yang juga orang Minang dan salah satu senior yang sangat sholeh. Dengan senior disebut terakhir itu aku sering jalan bareng sholat jamaah ke masjid dekat Sekre. Kalau lagi tidur di sekre kami berjalan berdua untuk sholat shubuh. Tetapi aku heran kenapa yang bersemangat untuk sholat berjamaah di masjid hanya beberapa orang. Senior-seniorku sangat bersemangat untuk rapat menjelang shubuh. Tetapi pas adzan shubuh mereka terkapar tidur pulas tanpa melaksanakan sholat shubuh.
 
Keheranan ku yang kedua adalah saat main di sekretariat cabang HMI MPO yang kutemui adalah foto seorang bapak-bapak bersorban dan berjanggut panjang. Ya, itu adalah foto Imam Khomeini. Kajian-kajian keislaman yang dihelat pun banyak menghadirkan ustadz-ustadz dari Rausyan Fikr, salah satu organisasi sayap syiah yang fokus dalam kajian filsafat dan pemikiran Islam untuk merekrut mahasiswa-mahasiswa muslim menjadi Syiah. Byarrr… Sedikit banyak aku tahu tentang ideologi Syiah. Akhirnya dengan berat hati aku perlahan menjauhi HMI dan tak lagi ikut acara-acaranya terutama acara kajian keislamannya. Dalam debat di grup FB HMI, aku pernah diceritakan oleh seorang dosen alumni UIN Sunan Kalijaga bahwa fenomena aktivis Syiah di HMI bukanlah sesuatu yang baru dan mengherankan. Khususnya untuk daerah Indonesia bagian Timur. Banyak pengurus HMI di sana yang berpikiran Syiah… Apalagi kulihat di HMI tidak ada bimbingan dari Ustadz. Tiap-tiap kader bebas mau belajar Islam dimana dan mau menjalankan ibadah dengan taat atau tidak.
 
Selepas dari HMI MPO, perjalanan mencari Islam-ku lebih intens dengan mengikuti kajian-kajian salafi. Dan aku merasa inilah Islam yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah. Di salafi pondasi akidah ditekankan betul. Makanya kajian-kajian akidah mendapatkan porsi yang sangat besar. Semua ceramah memakai kitab para ulama. Terutama kitab-kitab dari ulama Saudi Arabia dan Yaman. Termasuk juga kitab-kitab klasik ulama-ulama besar di abad pertengahan. Berbagai kajian salafi kuikuti bahkan sampai ke luar kota. Bahkan sempat aku berpikir untuk berhenti kuliah di Filsafat UGM karena menurut ustadz-ustadz salafi-ku belajar Filsafat itu Haram.
 
Di tahun kedua kuliah aku memutuskan berangkat ke Surabaya untuk mengikuti tes masuk program persiapan da’i 2 tahun Ma’had Al Irsyad Surabaya. Dengan harapan, selepas nyantri 2 tahun punya kesempatan untuk kuliah di Timur Tengah. Seminggu setelah tes masuk, Panitia mengabarkan aku lolos seleksi. Tapi ketika rencana nyantri yang berarti meninggalkan kuliah di UGM kusampaikan kepada Bapak dan Ibuk di kampung via telpon, Bapak marah besar. Piring-piring di rumah melayang dan jadi korban. Selepas itu semingguan Ibu di Jogja setelah melewati perjalanan 2 hari 3 malam naik bis untuk membujukku tidak berhenti kuliah di UGM. Melihat keadaan itu, aku luluh dan memutuskan tidak jadi nyantri – tetap melanjutkan kuliah di UGM meskipun kala itu IPK berantakan 1 koma karena jarang masuk kuliah gara-gara sudah menganggap belajar Filsafat itu Haram.
 
Itu adalah tahun-tahun yang berat bagiku. 2005 aku ikut tes masuk UIN Sunan Kalijaga dengan pilihan pertama Sastra dan Bahasa Arab. Anehnya aku diterima. Karena adikku yang 6 tahun menempuh pendidikan di Pesantren dan MAN tidak lolos ujian masuk UIN. Paling tidak aku punya jawaban jujur ketika ditanya oleh para ikhwan salafi yang selalu mengajukan salam perkenalan dengan “Antum kuliah dimana???” Kuliah di 2 Universitas membuatku kelabakan. Di UIN maksimal hanya bisa ambil 4 mata kuliah dan di UGM maksimal hanya bisa 4 mata kuliah karena banyak jadwal kuliah yang bertabrakan. Bisa-bisa lebih dari 8 tahun aku lulus kuliah. Setelah menimbang banyak hal dan kembali ke niat awal datang ke Jogja, akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan kuliah di UGM saja. Meskipun harus menahan kuping memerah karena dalam berbagai kajian ustadz-ustadz salafiku selalu berapi-api mengatakan Filsafat itu Haram.
 
Lama-lama jengah juga aku dengan doktrin FILSAFAT ITU HARAM. Beriringan dengan pertarungan saling Hajr di antara ustadz-ustadz salafi semakin keras dan kasar yang juga merembet kepada para santri-santrinya. Tidak saling sapa ketika berpapasan dan saling membully di dunia maya. Di titik itulah aku merasa ada yang salah dengan lingkungan yang sedang dibangun oleh Salafi. Hingga kuteruskan perjalanan mencari Islam di Muhammadiyah. Ketemulah aku dengan kajian Tafsir Al Qur’an yang diampu oleh ustadz Yunahar Ilyas (Alumni Universitas Ibnu Suud yang sekarang menjadi salah satu Ketua PP Muhammadiyah). Menariknya kajian beliau memakai referensi Tafsir Al Azhar Buya Hamka. Cara penyampaiannya-pun menarik seperti gaya retorik unik ustadz-ustadz Minang yang dulu akrab di telingaku sewaktu di kampung..
 
Jadilah aku jamaah tetap kajian Ustadz Yun, sempat juga beberapa bulan jadi moderator mendampingi beliau di podium. Belakangan ketika kajian tersebut disiarkan oleh Adi TV, aku lebih banyak berposisi sebagai penanya kritis pada sesi tanya jawab di akhir pengajian. Seiring dengan itu, untuk menguatkan statusku sebagai kader Muhammadiyah, akhirnya aku terlibat aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Hingga mencapai posisi tertinggi sebagai Ketua Korps Instruktur Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah BSKM yang menaungi komisariat-komisariat yang ada di UGM dan UNY. Dan IMM lah menjadi labuhan terakhirku karena bersamaan dengan itu aku telah menyelesaikan kuliah dan lebih banyak melewati waktu untuk mencari sesuap nasi untuk bertahan hidup di Jogja.
 
Pengalaman-pengalaman itu kadang harus dilewati dengan airmata, debat keras sampai musuhan, terpinggirkan dan teralienasi, kegalauan tingkat tinggi, hingga protes kepada Tuhan… Tetapi ada juga kesejukan, indahnya persahabatan dan semakin luasnya ilmu yang didapat. Hari ini aku melihat semua pengalaman berharga itu menjadi penguat pondasi spiritualitasku menjadi seorang muslim… Semua sahabat dan ustadz di berbagai organisasi dan aliran itu kemudian masih tetap kujaga silaturrahmi. Dalam berbagai kesempatan aku masih diundang dalam berbagai acara dan dalam kesempatan pertemuan senyum lepas menjadi pewarna jumpa meskipun dulu pernah berdebat keras dalam berbagai masalah-masalah keislaman… Dan hampir sebagian besar mereka bisa ditemui di list facebook-ku ini.
 
Yang kupikir sekarang adalah bagaimana membuat Islam itu tidak segmented dan di antara organisasi-aliran itu tidak merasa Islam merekalah yang paling benar. Ada saling menimba ilmu dan belajar di antara ustadz-ustadznya. Para ustadz tidak melarang jamaahnya untuk mengaji ke tempat ustadz lain yang berbeda manhaj dan harakah. Saling bekerjasama agar Islam itu jaya.
 
Karena dari dulu fanatisme buta dan penyebaran kebencian dengan alasan agar pengikut menjadi loyal telah membuat Islam terpecah belah dan menjadi lemah… Banyak hal yang bisa dilakukan bersama-sama tanpa menegasikan ciri khas masing-masing organisasi itu. Seperti melawan kemiskinan, kedzaliman dan kesyirikan.
 
Aku selalu berharap, anak-anak muda yang masih labil secara pemikiran tidak dijadikan sebagai alat kekuasaan dan didoktrin untuk membenci gerakan Islam yang lain. Biarkan mereka berkembang dalam suasana dialektika dan kebebasan untuk mencari Islam yang sebenarnya. Karena lewat pergaulan yang luas dan wawasan yang lintas pergerakan-lah mereka bisa mengambil hal-hal baik dari masing-masing organisasi dan harakah untuk kemudian menjadikan sisi-sisi positif itu sebagai kekuatan yang dahsyat untuk membela dan meninggikan Islam serta memperlihatkan peran implementatif Islam di tengah-tengah masyarakat…. Bukan lagi membawa bendera HMI, Salafi, Muhammadiyah, Tarbiyah, dan lain sebagainya… Tetapi mereka kemudian lebih sering menyebut dan bangga mengatakan MARI KITA BERJUANG UNTUK ISLAM…
Iklan

3 thoughts on “Mencari “ISLAM”

  1. Bang Anggun, bertentangan bang. Tidak bisa disatukan. Masing masing memiliki ideologi berbeda beda. Bagai minyak dan air. Jika benar mau maju dan bangkit bukan dengan melazimkan semua golongan agar dicintai semua manusia dan tidak ada pertentangan dengan siapapun. Mustahil. Syarat mutlaknya hanya dengan kembali ke Alquran dan Hadits sesuai dengan pemahaman para sahabat, tabiin, tabiut tabiin dan ulama rabbaniyyun yang senantiasa merujuk kepada mereka. Terserah mereka mau menamakan diri dengan apa asalkan tidak bertentangan dengan syariat. Pun, terserah bang Anggun mau menulis apapun tentang Islam namun wajib memiliki landasan dari Alquran, hadits, dan tuntutan ulama. Jika tidak, maka tulisan ini hanya bagaikan butiran debu walaupun sang Presiden sekalipun yang menyukainya. Barakallahu Fiikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s