MENJAWAB PANCINGAN DOKTOR AMERIKA BERNAMA SUMANTO AL QURTUBY


 
Alhamdulillah… Inilah fakta sebenarnya…:) Saya ngak tahu kenapa pendukung Ahok yang meski sudah kuliah jauh-jauh ke Amerika tidak verifikatif dalam menyebarkan berita… memang inisiator makan malam tanggal 18 April itu adalah Pak HT…

“Foto tersebut adalah foto makan malam dan doa bersama para pemimpin parpol dan kader parpol serta relawan di Resto Batik Kuring, 18 April yang diinisiasi oleh Pak HT,” jelas Naufal Firman Yursak kepada Okezone, Jumat (21/4/2017).”

Okezone dengan rilis waktu berita yang jelas (Selasa, 18 April 2017 – 19:08 WIB) menulis:
Sejumlah tokoh pendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno bakal berkumpul pada Selasa (18/4/2017) malam ini. Selain itu, Anies-Sandi juga bakal ikut hadir dalam kegiatan yang berlangsung sehari jelang pencoblosan itu…. kegiatan tersebut dikemas dalam acara makan malam di Rumah Makan Batik Kuring, di kawasan SCBD, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.
 
Sumanto Al Qurthuby gagal memahami pola interaksi yang dibangun oleh konglomerat etnis Tiongha di Indonesia… Dalam teori bisnis, seorang pengusaha harus cepat-cepat menyesuaikan diri dengan keadaan… Termasuk juga dengan perubahan angin kekuasaan… Meskipun Pak Harto disebut-sebut punya kebijakan diskriminatif terhadap China, tetapi Pak Harto memberikan ruang kebebasan yang sangat luas bagi pengusaha WNI beretnis Tiongha untuk membangun kerajaan bisnis dalam berbagai sektor.
 
Dalam tulisan saya “CHINESE MENGGURITA INDONESIA: KARENA PRIBUMI MEMBIARKAN POLITIK FULUS JADI PANGLIMA” dengan sangat gamblang saya uraikan bahwa konglomerat etnis Tiongha yang sangat terimbas dengan kekalahan Ahok adalah Agung Podomoro Group. Sementara pengusaha-pengusaha tiongha yang lainnya sebenarnya tidak terlalu terpengaruh dengan siapapun yang menang dalam Pilkada di DKI… Yang mereka takutkan sebenarnya aksi galak Sri Mulyani, sehingga dengan berbondong-bondong melakukan deklarasi kekayaan dan mencari jalan agar tagihan pajak di tahun-tahun mendatang tidak besar serta tetap berusaha menjadi penguasa ekonomi di Indonesia…
 
Maka tak salah kemudian, beberapa saat setelah kemenangan Anies-Sandi, Lippo langsung menyatakan kesanggupannya untuk terlibat dari program rumah DP 0% Anies-Sandi.. Yang gagal kita cermati, itu adalah bagian dari “penawaran” dan tawaran itu belum di-ACC oleh Anies-Sandi. Karena mereka belum dilantik jadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta… (Kabar Lippo ingin terlibat dalam Program Rumah DP 0% belakangan kemudian terbelah dalam 2 berita yang berbeda… Direktur Humas Lippo Grup Danang Kemayan Jati mengatakan, pemberitaan bahwa Lippo mendukung program kampanye paslon Pilgub DKI Anis-Sandi yaitu DP rumah 0% serta rumah Rp 350 juta, adalah tak benar)
Menariknya soal LIPPO ini adalah yang menyatakan ketertarikan adalah owner LIPPO sendiri…

John Riady, Direktur Lippo Group, menuturkan pihaknya tertarik bekerja sama sebagai developer dalam program ini.

“…. mungkin pada hari-hari ke depan kami silahturahmi dan memberikan selamat kepada gubernur, juga minta masukan di mana yang kami bisa kerja sama,” ungkapnya di Jakarta, Kamis (20/4/2017).

 
Saya tetap mengatakan bahwa kemenangan Anies – Sandi adalah kemenangan umat dan kemenangan warga Jakarta. Dan saya berharap kekuatan modal dan koneksi bisnis yang dimiliki oleh Sandiaga Uno bisa membuat dirinya bisa mencari investor-investor alternatif untuk membangun Jakarta di luar pemain-pemain utama yang tak tergantikan di Jakarta…
 
Tinggal bagaimana para ulama, ustadz, habaib yang turut berkontribusi untuk kemenangan Anies – Sandi tetap memberikan nasehat. Sesuatu yang sangat sulit terjadi kalau Gubernurnya adalah Pak Ahok… Dengan darah pejuang yang mengalir di tubuhnya dan status sebagai aktivis HMI dalam sejarah masa mudanya, kita berharap Mas Anies bisa selalu dekat dengan ulama dan menjadikan ulama sebagai tempat bertanya.
 
Persoalan menggeser dominasi kekuatan kapital pengusaha beretnis China memang masih menjadi pekerjaan rumah sangat besar untuk Indonesia. Karena ini adalah fenomena global yang juga melanda negara-negara Eropa, Amerika bahkan juga Timur Tengah. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang berbasis di Eropa dan Amerika yang kemudian memindahkan pabrik dan membuka kantor di China… Hal ini didorong oleh faktor pembiayaan produksi yang murah. Klub-klub sepakbola besar di Eropa juga mulai diakusisi oleh para trilyuner China… Saudi menempatkan investasi besar di China karena mereka telah menjelma menjadi kekuatan ekonomi terdepan saat ini…
 
100% meninggalkan peran pengusaha China dalam membangun Indonesia rasanya adalah sebuah kemustahilan. Karena kawan-kawan Tiongha selama berpuluh-puluh tahun hingga hari ini menguasai hampir semua lini bisnis, industri dan perdagangan di Indonesia. Yang kemudian dapat dilakukan adalah melakukan proses-proses pemberdayaan masyarakat lewat membangkitkan ekonomi mereka secara perlahan. Membuat umat bisa berdikari untuk memenuhi kebutuhan dasar dan sekundernya paling tidak bisa membebaskan mereka dari jebakan politik uang yang selalu terjadi dalam pesta demokrasi di negeri ini…
 
Di sisi lain para ulama harus terus menyemangati umat untuk menjadi pengusaha seperti spirit yang diberikan Rasulullah kepada Ustman bin Affan dan Abdurrahman Bin Auf… Sehingga 5 – 10 tahun mendatang akan terjadi perubahan komposisi pebisnis tiongha dan pebisnis muslim di Indonesia…
 
Untuk pembiayaan program rumah DP 0% dan perbaikan moda transportasi serta penanggulangan banjir Jakarta, saya pikir Anies – Sandi lebih baik memanfaatkan permodalan dari bank-bank BUMN. Apabila dana yang dibutuhkan per tahun cuma 10-30 triliyun, saya melihat Mandiri, BNI, BRI sanggup untuk mengucurkan dananya. Alternatif lain yang bisa diupayakan adalah mencari pembiayaan dari investor Timur Tengah yang sebenarnya sudah melakukan bisnis properti/hotel di Jakarta serta mencari pembiayaan kepada Islamic Development Bank… Untuk menarik kepercayaan pengusaha Timur Tengah dan IDB, di sanalah peran Ulama kharismatik untuk melakukan pembicaraan intensif. Sebagaimana yang dulu dilakukan oleh Pak Natsir dalam mencari pembiayaan pembangunan Indonesia di zaman Pak Harto…
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s