BUKU SEBAGAI WARISAN PALING BERHARGA


 
barusan saya pulang dari sebuah hotel di depan UIN Sunan Kalijaga.. Obrolan panjang yang dimulai sejak tadi sore dengan sahabat senior yang datang dari Jakarta… pembicaraan kami kemudian terfokus kepada nasib koleksi buku dan masa depan penerbitan…
 
banyak koleksi-koleksi buku yang dimiliki oleh tokoh-tokoh bangsa yang akhirnya bermuara di pasar loak.. dijual oleh keluarga karena dianggap hanya “memadat-madatkan” rumah.. padahal buku-buku itu di zaman sekarang menjadi buku-buku langka yang mau dibeli dengan harga mahal oleh kolektor…
 
di Jogja, nasib yang sama hampir terjadi pada Perpustakaan Bung Hatta… yayasan yang mengurusi koleksi Bung Hatta – (beliau pernah “mengungsi” ke jogja pas agresi belanda) kekurangan dana operasional… untung saja UGM berbaik hati untuk memberikan ruangan khusus untuk koleksi Bung Hatta tersebut yang kalau teman2 main-main ke Perpustakaan Pusat UGM bisa menemukan buku2 langka berbahasa Inggris, Belanda, Jerman dan Indonesia itu di ruangan yang bernama Hatta Corner…
 
banyak orang di negeri ini yang belum menempatkan Buku sebagai Harta Karun dan Warisan Berharga… masih segar dalam ingatan kita ketika KITLV menawarkan koleksinya untuk dikelola oleh pemerintah Indonesia, para petinggi negeri ini enggan untuk menyambut baik dan bilang pemerintah tak punya dana untuk mengakuisisi koleksi-koleksi sejarah indonesia yang dimiliki oleh KITLV… untung saja masih ada universitas leiden yang bersedia menampung koleksi-koleksi KITLV…
 
para petinggi di kementerian pendidikan dan menristek banyak yang tidak menyadari bahwa koleksi buku-buku langka dan buku2 lintas zaman bisa menjadi potensi untuk mendapatkan uang…
 
berbondong-bondong orang Indonesia kuliah S2 dan S3 di Leiden University.. entah berapa ratus juta yang dikeluarkan oleh setiap orang untuk kuliah di sana… apalagi yang kuliah S3 di Leiden lebih dari 5 tahun…
 
kalau soal profesor hebat, banyak universitas lain yang juga punya profesor hebat. Bahkan banyak juga profesor di universitas-universitas di Indonesia yang lebih hebat dari pada profesor di Leiden… tetapi ada kekuatan yang tidak dimiliki oleh universitas-universitas di Indonesia… yaitu Koleksi Buku-Buku/Naskah-Naskah Langka dan buku-buku lintas zaman… itulah yang kemudian membuat para scholars Indonesia “harus” pergi riset ataupun kuliah ke Leiden…
 
Apabila koleksi-koleksi sebanyak dan sekelas Leiden itu dipunyai oleh Indonesia, maka sekian banyak uang akan bisa dihemat oleh pemerintah… Sekian banyak uang akan datang ke Indonesia lewat kehadiran peneliti-peneliti asing yang harus datang ke Indonesia karena sumber-sumber koleksi naskah untuk penelitian berada di Indonesia…
 
Yang terjadi sekarang kemudian, koleksi buku-buku tentang Indonesia lebih lengkap di luar negeri… hasil penelitian para scholars Indonesia dari riset berbasis koleksi di perpustakaan di luar negeri juga dipublikasikan di luar negeri… akhirnya, rugi timbal balik… untuk riset butuh biaya akomodasi besar… pas hasil riset mau dilempar ke pasar, kita harus mengeluarkan biaya untuk membayar agar tulisan masuk di “jurnal terindex scorpus” dan biaya langganan akses jurnal2 internasional…
 
hal kedua yang menjadi pembicaraan dengan sang senior yang punya hobi mengoleksi buku-buku lawas itu adalah soal “pewarisan royalti”… kita banyak menemukan buku-buku lama yang kemudian dicetak ulang lagi oleh penerbit baru karena penerbit lama sudah tidak eksis lagi… bukunya masih dicari orang, tetapi penerbitnya sudah tak ada… mungkin penerbit tua yang sampai saat ini masih bertahan hanyalah Balai Pustaka..
 
sangat sulit untuk menemukan penerbit yang pernah berjaya di awal dan pertengahan abad 20 yang masih eksis sampai sekarang… kalau misalnya penerbit juga bisa “meng-abadi”, rasanya kerjasama penulis dan penerbit bisa juga berlangsung puluhan dan ratusan tahun…
 
proses menjadi penerbit tetap hidup lintas generasi menjadi pekerjaan rumah yang harus saya pribadi pikirkan agar royalti bisa terus diwariskan kepada anak dan cucu penulis yang pernah bukunya saya terbitkan…
 
atas alasan itulah kemudian saya sangat ingin menekuni bidang publishing studies… atas dasar itulah saya kemudian “tergila-gila” dengan seorang gadis pecinta buku… karena saya ingin mengembangkan dunia penerbitan indonesia sebagai bagian dari devisa negara… saya ingin mengembangkan usaha penerbitan bersama seorang pasangan yang punya passion yang sama.. karena saya ingin menjadikan Gre Publishing yang saya rintis hari ini sebagai warisan masa depan untuk anak cucu saya…
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s