BUKAN SEKULARISASI TAPI KAPITALISASI AGAMA ALA AKADEMISI VERSUS DOMINASI USTADZ DI RANAH PUBLIK


 
Oleh: Anggun Gunawan (Alumni Filsafat UGM)
 
Melihat fakta-fakta yang ada, saya tidak merasakan sekularisme menjadi tantangan terbesar untuk Indonesia… Karena kebanyakan kawan-kawan akademisi saya yang menjadi pendukung pluralisme, kebhinekaan dan kesetaraan minoritas adalah orang-orang yang bekerja di institusi keagamaan dan menikmati status sebagai “cendikiawan muslim”… yang mereka lakukan bukanlah MENJAUHI AGAMA, tetapi mereka melakukan dan memberikan tafsir alternatif melawan “tafsir tradisional” yang menurut mereka terlalu dominan menguasai masyarakat Indonesia…
 
mereka masih bangga ketika diundang pengajian dan tidak bisa melepaskan status mereka sebagai “akademisi muslim”… karena mereka menyadari bahwa mereka bisa meraih gelar akademik tinggi karena mereka melakukan elaborasi dan ekploitasi wacana Islam dalam penelitian dan tulisan-tulisannya… mereka menjadi terkenal karena kajian-kajian mereka terhadap Islam… dan mereka mendapatkan kesejahteraan – bisa diundang seminar ke berbagai negara – karena KAPITALISASI MEREKA TERHADAP ISLAM…
 
bentuknya mungkin bukan dalam bentuk produk-produk bisnis seperti menjual pakaian muslim, kosmetik halal, makanan halal, bisnis religi haji dan umrah… tetapi produk mereka adalah produk-produk akademis lewat proposal penelitian yang uangnya juga sangat besar… untuk satu proyek penelitian keagamaan mereka bisa mendapatkan gelontoran dana ratusan juta bahkan sampai puluhan miliar rupiah… apalagi kalau proyek peneliian itu berlangsung simultan lebih dari 2 tahun.. dan akumulasi kapital akan semakin besar kalau proposal yang dicairkan dalam setahun bisa lebih dari 5 proposal…
 
ini masalah persaingan market saja… dan sebenarnya para akademisi ini cukup berbahagia dengan kemenangan kelompok “fundamentalis islam” di Indonesia… karena perhatian donatur-donatur pluralisme dan hak asasi manusia akan semakin besar yang berarti akan meningkatkan alokasi dana untuk kampanye “toleransi” dan kampanye “minimalisasi” kebangkitan lebih jauh kelompok politik “sayap kanan”….
 
sehingga yang menjadi kekhawatiran paling besar saya bukanlah kepada SEKULARISASI tetapi lebih kepada SEMAKIN KERASNYA KAPITALISASI AGAMA DI RANAH PUBLIK antara para ustadz yang ingin melakukan transformasi religius komprehensif di tengah-tengah masyarakat dengan kelompok akademisi muslim yang tetap memerlukan gelontoran dana dari donatur-donatur pro liberalisasi, pluralisasi, dan humanisasi agar bisa tetap produktif secara akademis dan sejahtera secara materi….
 
=================================
 
berikut fakta-fakta bahwa sesungguhnya dunia kita sebenarnya tidak semakin sekuler…
 
1. The USA still has a very high religiosity rate, as high as third-world countries, and is, with the possible exception of parts of Scandinavia the most advanced country in the world. So this is a serious exception that needs explaining. Most explanations have concentrated on the high level of immigration, something which tends to harden people’s religions.
 
2. The developing world is highly religious; there are countries and cultures that can hardly imagine what life without religion is like. Critics imagine that these countries will not lose their religious beliefs as they develop higher rates of education and technological development.
 
3. Sections of society within secular countries remain highly religious. The middle-ground believers are now swayed into areligiosity by the same inertia that used to lead them into religion. Now these are largely gone, what is left behind are the hardcore believers, who are both more vocal, more educated and more activist about their beliefs. These fanatical groups show no signs of dissipation. A report in The Economist (2007) reads: “It is the tougher versions of religion that are doing best – the sort that claim Adam and Eve met 6,003 years ago. Some of the new converts are from the ranks of the underprivileged (Pentecostalism has spread rapidly in the fevelas of Brazil), but many are not. American evangelicals tend to be well-educated and well-off”.
 
4. The growth of New Religious Movements in secularized countries makes some doubt the depth of secularisation. However, the numbers involved in NRMs are small in comparison to the numbers lost by world religions in the developed world, and their middling increase in numbers is simply part of the decentralisation process of religions. It is just that the NRMs are often newsworthy, hence, have a higher profile.
 
5. Some Muslim countries are modernizing without secularizing. In contrast, some of these states are seeing dwindling minority religions and increasing power of Islamic institutions. Yet, the type of science accepted is often engineering and branches of science that lack teleological and theological implications. Evolution is, for example, still comprehensively rejected in all gulf states. So we are not seeing a true adoption of modernism in these countries, just an uptake of pragmatism.
 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s