Pengalaman Tes IELTS


3 Januari 2015. Grup Whatsapp IELTS CLUB resmi dibuat. Setelah sebelumnya saya dan beberapa teman-teman yang bersemangat untuk kuliah di luar negeri bersepakat untuk belajar IELTS bareng. Biaya kursus IELTS yang sangat mahal menjadi alasan kami, selain karena mayoritas di antara kami adalah lulusan program 2 tahun English Extention Course Sanata Dharma dan beberapa yang lain sedang S2 Bahasa Inggris. Di awal-awal pertemuan kami menyepakati untuk ketemuan di akhir pekan Sabtu dan Minggu dengan mengambil base camp gazebo-gazebo yang ada di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Saat itu kami sangat bersemangat. Karena saya baru pulang dari Jerman mengikuti Frankfurt Book Fair. Teman satu lagi baru pulang dari Korea untuk mempresentasikan papernya di sebuah seminar internasional. Bermodalkan buku IELTS Cambridge Practice Test 1-9 yang kudapatkan dari dosenku di Sanata Dharma yang punya IELTS band 8.0.

Setahun dengan IELTS berjalan tanpa terasa. Beberapa teman awardee LPDP kemudian bergabung dengan IELTS CLUB. Sehingga personel awal yang cukup 4 orang terus bertambah dan bertambah.  Meskipun yang rutin hadir tetap saja 3 sampai 6 orang. Di pertengahan 2015, aku mencoba untuk menganalisa hasil belajar selama beberapa bulan dengan mengambil simulasi IELTS di IONs Jogja. Bayarnya lumayan mahal, Rp. 225.000. Tetapi Writing diperiksa oleh native speaker dan interviewer Speaking juga native speaker. Hasilnya pun bisa segera diketahui. Cuma menunggu 1 hari, hasil 4 sesi IELTS sudah bisa diambil. Percobaan pertama-ku mentok di overall band 5,5. Dengan rincian Listening 5, Reading, 5.5, Writing 6 dan Speaking 6.

IELTS CLUB terus berlanjut, meskipun ada beberapa minggu pertemuan tidak diadakan. Mungkin beberapa teman-teman jenuh dengan metode try out yang dilakukan dan beberapa lainnya harus bekerja serta terikat dengan beban kuliah. Beberapa bulan di akhir tahun IELTS CLUB vakum.

Selepas pulang kampung selama 3 minggu di Januari 2016 karena Bapak masuk unit gawat darurat karena serangan kanker otak, aku pun memutuskan untuk mengambil kursus persiapan IELTS di CILACS UII. Saat itu aku membayar Rp. 1,7 juta untuk 24 kali pertemuan. Kelas yang kuambil adalah kelas pagi, yang diisi oleh 7 mahasiswa. Satu di antara teman kursusku adalah mahasiswa FEB UGM yang sebenarnya sudah punya IELTS 6.5. Tetapi ia bela-belain ikut IELTS lagi karena masih kepengen dapat nilai di atas 7. Satu lagi adalah dosen UNY yang juga sudah punya nilai 6.5. Tetapi masih berjuang untuk menaikkan nilai di sesi Writing. Guru kami bernama Pak Ahmad. Dengar-dengar dari teman yang pernah ikut kursus di CILACS UII, Pak Ahmad ini memang masternya IELTS. Terutama di sesi Writing. Selain jadi pengajar IELTS, beliau juga mengedit disertasi dari mahasiswa Indonesia dan Malaysia yang kuliah di luar negeri. Setelah melewati 24 kali pertemuan dengan porsi 40% di sesi Writing, kursus pun ditutup dengan ujian akhir. Nilai yang kudapatkan, Listening 5, Reading, 5.5, Writing 7.0 dan Speaking 7.0 dengan overall band 6.0.

Karena merasa belum puas dengan hasil kursus di CILACS UII, akupun kembali menghidupkan IELTS CLUB. Kondisinya saat itu beberapa teman-teman anggota IELTS CLUB awardee LPDP sedang bersiap-siap untuk keberangkatan ke kampus tujuan. Ada yang ke Belanda, Inggris dan Malaysia. Sehingga kuputuskan untuk melakukan open recruitement anggota baru via facebook. Akhirnya ada beberapa yang bersemangat untuk bergabung. Meskipun lagi-lagi yang datang cuma 2-4 orang dalam setiap pertemuan. Sering juga pertemuan dicancel karena tidak ada memberikan konfirmasi kehadiran via WA Grup ataupun Grup Chat Facebook.

Singkat cerita, di awal Januari 2017, aku memutuskan untuk mendaftar Official IELTS Test. Kebetulan di bulan Desember 2016 aku dapat proyek nyetak 1100 buku. Sehingga ada keuntungan yang bisa dipakai untuk mendaftar tes IELTS. Apalagi saat itu jadwal pendaftaran beasiswa LPDP sudah dibicarakan banyak orang. Di Jogja ada 3 lembaga yang mengadakan tes IELTS; IDP, IALF dan British Council. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya IALF menjadi pilihan karena aku sudah lumayan familiar dengan IONs yang menjadi rekanan IALF untuk mengadakan tes IELTS di Jogja. 18 Maret 2017 kujadikan sebagai tanggal tes. Sehingga ada 2 bulan untuk persiapan intensif. Pertimbangan lainnya adalah kalau aku gagal meraih skor 6.5 yang disyaratkan oleh kampus tujuanku di Inggris (Oxford Brookes University), aku masih punya kesempatan untuk mengambil tes yang ke-2 sebelum penutupan pendaftaran beasiswa LPDP Luar Negeri (7 Juli 2017).

Setelah proses pendaftaran via website IALF yang cukup lancar dengan metode pembayaran via ATM (Rp. 3,2 juta kurelakan), akupun mulai meningkatkan intensitas pertemuan IELTS Club. dari 3 hari menjadi 4 hari. 1 sesi latihan per pertemuan kunaikkan menjadi 2 sesi latihan per pertemuan. Uang Rp. 3,2 juta yang telah “dikorbankan” menjadi penyemangat dan membuatku tak bisa berleha-leha lagi. 3 simulasi tes di IONs kuagendakan sekaligus jadi ajang untuk beradaptasi dengan ruangan IONs yang juga menjadi venue untuk official test.

Rp. 675.000 dihabiskan untuk 3 kali sesi simulasi. Pertama aku dapat overall band 6.5. Simulasi kedua jeblok menjadi 6.0. Dan di simulasi terakhir yang hanya 5 hari menjelang official tes, kudapatkan overall band 6.5.

18 Maret 2017. Setelah sholat shubuh, kusiapkan semua peralatan tempur. Pena, penghapus, pencil, dan paspor. Setelah sarapan seadanya dengan roti dan air putih karena kalau makan besar khawatir bisa sakit perut saat tes, akupun meluncur jam 7.15 dengan motor Grand tuaku ke kantor IONs yang hanya 10 menit dari kos. Di email reminder, IALF meminta peserta bisa hadir di lokasi jam 7.30 pagi.

Para test takers sudah berkerumum di lobby. Ada sekitar 20-an orang. Setelah sibuk dengan handphone dan baca koran, 30 menit kemudian para peserta digiring ke lantai 3 untuk memulai sesi pendahuluan. Semua peserta diminta memasuki salah satu ruangan dan seorang ibu-ibu berparas western bersama 1 orang mas-mas masuk ke ruangan kami. Pertama-tama, si Ibu yang kemudian mengenalkan namanya Barbara itu mulai memberikan penjelasan tentang tata tertib yang harus kami patuhi selama tes berlangsung. Setelah semua peserta paham, satu-satu per satu dari kami kemudian maju ke depan untuk dicek kartu identitas, sidik jari dan diambil fotonya (yang nanti akan dijadikan sebagai foto di sertifikat IELTS).

Menjelang jam 9.00 proses administratif itu selesai. Kamipun kemudian digiring ke ruangan lain, yang menjadi tempat tes berlangsung. Untuk memasuki ruangan, kami harus  berbaris sesuai dengan urutan absen. Sidik jaripun kembali diambil sebelum duduk manis di kursi yang telah disediakan. Proses ini memakan waktu sekitar 10-15 menit.

Semua peserta pun sudah duduk di kursi masing-masing. Ruangan yang cukup nyaman, meskipun agak sedikit dingin karena AC yang distel dengan low temperature. Kursinya enak. Mejanya juga cukup lebar untuk meletakan amunisi alat tulis dan kertas soal serta kertas jawaban.

Sesi pertama adalah listening. Speaker IONs lumayan jernih. Sehingga aku tidak begitu khawatir dengan perbedaan kualitas suara antara headset yang biasa kupakai ketika mengerjakan latihan Listening di IELTS Club dan pada saat simulasi di IONs. Sesi 1 dan 2 aku cukup senang karena bisa mengcapture dialog yang diputar. Namun giliran sesi 3 aku mulai blank. Apalagi di sesi 4. Cuma 2 pertanyaan yang bisa kujawab di sesi 4 Listening. Lainnya hanyalah jawaban ragu-ragu.

Cuma jeda pemberian instruksi, tes berlanjut dengan Reading. Yang kukhawatirkan di sesi ini adalah masalah waktu. Seringkali pada saat latihan aku sering kehabisan waktu untuk menjawab. Biasanya ada 5 soal yang tertinggal. Mendapatkan inspirasi dari Liz (seorang tutor IELTS yang terkenal di Youtube), akupun memakai strategi meninggalkan soal yang susah dan baru menjawabnya di akhir sesi. Strategi ini lumayan berhasil untuk menghemat waktu. Sehingga di sesi Reading ini aku bisa menghemat sekitar 5 menit untuk mengecek ulang jawaban-jawaban yang telah kutuliskan.

Tibalah saatnya pada sesi yang paling challenging. WRITING. Kalau tidak salah soal di Task tentang spending di negara tertentu untuk beberapa komoditas. Bentuknya line graph. Dan ada 2 line graph yang harus dijelaskan. Terus terang aku mati gaya untuk membuat paragraf demi paragraf di Task 1 ini. Di Task 2, pertanyaan terkait dengan persoalan 2 pandangan yang berkembang di masyarakat soal apakah negara harus mengurusi persoalan sampah di masyarakat atau masyarakatlah yang punya tanggung jawab untuk mengatasi masalah sampah di lingkungan mereka. Kesulitan yang kutemui untuk mengerjakan Task 2 ini adalah membuat argumen yang kuat untuk menjelaskan posisi masing-masing pandangan dan keterbatasan kosa kata untuk menjelaskan istilah-istilah spesifik dalam bidang lingkungan dan kebijakan publik. Dalam 1 jam aku bisa mengerjakan 2 task ini. Tetapi kalimat-kalimat yang kugunakan terlalu biasa dan tidak banyak menggunakan frasa-frasa akademik.

Sebelum jam 12, rangkaian 3 tes telah berhasil kulalui. Tinggal sesi menegangkan berikutnya, SPEAKING. Untung saja urutan namaku ada di posisi nomor 3 sehingga aku tidak harus menunggu lama untuk sesi Speaking. Jeda waktu 50 menit kugunakan untuk sholat Dzuhur saja. Karena ngak sempat untuk mencari warung untuk makan siang.

Di sesi Speaking aku bertemu lagi dengan Mrs. Barbara yang sejak awal menemani kami untuk melaksanakan tes. Separoh peserta menjalani sesi Speaking dengan seorang Bapak-Bapak Bule yang seumuran dengan Mrs. Barbara. Entah mengapa nervous datang. Aku mengerti dengan pertanyaan yang disampaikan oleh Mrs. Barbara, tetapi aku tidak bisa merespon dengan memberikan jawaban panjang dan memakai complex sentence yang biasa kulakukan dalam latihan. Jawabanku cenderung pendek-pendek. Cuma 2 sampai 3 kalimat per pertanyaan. Itupun kebanyakan memakai simple sentence dan beberapa kali aku mengulang mengucapkan kata karena pronunciation yang tidak jelas akibat terburu-buru. Aku mencoba untuk menemukan ritme bicara santai yang biasa kulakukan dalam latihan, tetapi pertanyaan yang semakin susah dan tak terduga membuat nervousku menjadi-jadi. Setelah ditanya soal aktivitas pekerjaan di sesi 1, alat modern yang paling kubutuhkan dalam pekerjaan, pertanyaan semakin berat karena menyinggung soal Robotic. Terus terang aku tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk tema robotic ini. Sehingga istilah-istilah yang kugunakan sangat umum, tidak ada term spesifik dan lagi-lagi simple sentence yang banyak kugunakan.

Sekitar jam 13.30, aku melewati semua proses Tes IELTS yang cukup melelahkan. Terus terang aku tidak puas dengan performa yang kulakukan selama tes terutama untuk sesi Writing dan Speaking. Sementara untuk Listening dan Reading, aku merasa optimis untuk mencapai standar minimum band yang dipersyaratkan oleh kampus impianku.

2 minggu menunggu hasil tes keluar benar-benar ngak enak. Apa-apa jadi malas. Kerja malas, makan ngak berselera. Untuk saja ada acara 2 hari di Surabaya untuk acara Bedah Buku Gre Publishing sehingga sejenak aku bisa melupakan hasil IELTS. Dalam hati aku sudah siap-siap. Kalau seandainya nilaiku tak sampai 6.5, maka aku akan mengambil kursus di Real English dengan biaya Rp. 3,7 juta. Dan aku sudah menghitung hari, kapan bisa mengambil tes yang kedua.

Jum’at 31 Maret 2017. Selepas sholat Jum’at aku ketiduran karena capek wira-wiri mengurus penerbitan buku. Menjelang sholat Ashar aku terbangun. Ku ambil smartphone sambil memulihkan mata yang masih belum kuat untuk dibuka 100%. Dalam pandangan kabur, ku buka website IALF. Kuketikkan nomor ujian dan paspor. Dan inilah yang kemudian tampil di layar smartphoneku:

ALHAMDULILLAH… Aku menangis terharu dan tak percaya dengan layar smarphone yang kulihat. Akhirnya untuk memastikan, kuhidupkan komputer dan kembali mengecek website IALF. Hasilnya sama. Langsung kugelar sajadah dan sujud syukur ke hadirat Allah yang telah menghadiahkan nilai overall band 6.5 untukku dengan tanpa nilai di bawah 6.0. Nilai yang cukup untuk mendaftar di kampus impianku, S2 Publishing Media Oxford Brookes University Inggris. Di hari Ahad, 2 hari kemudian, akhirnya sertifikat resmi IELTS dengan overall band 6.5 sudah ada di tanganku.

Ini baru awal perjuangan. Karena masih ada perjuangan yang lebih berat yang harus kutempuh. Mendapatkan beasiswa LPDP dan mendapatkan LoA dari Oxford Brookes University. Semoga Allah memudahkan langkahku untuk melewati semuanya dan bisa mulai kuliah Publishing Studies tahun depan. Mohon do’anya juga ya teman-teman.

Iklan

6 thoughts on “Pengalaman Tes IELTS

  1. Alhamdulillah. Ikut senang dengan keberhasilan tes ielts nya. Terimakasih, tulisannya sangat membantu.

    Semoga saya beruntung untuk tes ielts besok pagi 😣🙏

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s