UAN 4,00, TOEFL S1 377, IELTS 6.5


Sebagaimana thread yang kutulis di facebook, “jika aku dapat nilai yang bisa untuk apply ke kampus luar negeri, maka aku akan buat tulisan tentang pengalaman panjangku belajar Bahasa inggris”, sore ini saat langit mendung menyelimuti Jogja, kumulai menuliskan kisah sebagai penunai janji itu. Izinkan ku memutar sejenak jarum waktu, sekitar 15 tahun yang lalu. Ketika aku masih berada di bangku kelas 3 SMA. Setelah hanya menjadi siswa dengan peringkat rapor 5 ke bawah di kelas 1 dan 2, akhirnya aku bisa nangkring di peringkat 2 kelas 3 jurusan IPS. Semua nilaiku 8-9. Cuma ada satu mata pelajaran yang membuatku selama 3 caturwulan tidak bisa mengalahkan Sang Juara 1. Tiga kali menerima rapor, nilai Bahasa Inggrisku selalu mentok di angka 6. Itupun sudah didongkrak oleh Guru Wali Kelasku setelah lobi-lobi dengan Guru Bahasa Inggris. Karena lucu kalau juara kelas punya nilai merah (baca 5) di rapor. Puncak dari itu semua adalah saat Ujian Akhir Nasional, nilai 4,00 tersenyum kepadaku saat ijazah kelulusan SMA diberikan oleh Wali Kelas. Saat itu belum ada peraturan batas minimal nilai kelulusan UAN. Sehingga aku masih bisa melenggang lulus SMA. Meskipun dengan nilai Bahasa Inggris yang sangat parah, untuk pertama kalinya aku bisa mengalahkan Sang Juara Kelas IPS karena nilai-nilaiku yang lain bisa dikatakan sangat bagus. Kalau tidak salah, aku menjadi pemegang nilai tertinggi dari seluruh siswa SMA jurusan IPS di kotaku (Kota Solok, Sumatera Barat).

Karena PMDK yang kukirim ke UGM gagal, aku harus segera berangkat ke Ibukota Provinsi Sumatera Barat (Padang) untuk mengikuti Bimbel Persiapan UMPTN. Kala itu aku memilih ikut bimbingan di ADZKIA Jalan Damar. Adzkia ini adalah lembaga pendidikan yang didirikan oleh Prof. Irwan Prayitno (Gubernur Sumatera Barat saat ini). Setiap minggu, ada try-out yang harus kuikuti (hari Ahad). Besoknya, para peserta bimbel sudah mengetahui passing grade yang mereka raih. Di kolom peserta yang mengambil jurusan IPS, namaku selalu nangkring di 5 besar. Tetapi untuk kemampuan dasar yang berisi Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, nilaiku jeblok. Lagi-lagi keberuntungan menaungiku saat hari H ujian UMPTN. Aku dinyatakan diterima di Jurusan Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Setelah aku analisis, passing grade yang hampir 40% yang kuraih banyak dibantu oleh raihan Bahasa Indonesia (cuma salah 2 atau 3 dari keseluruhan 25 soal). Matematika dan Bahasa Inggris tak sampai 10 soal yang bisa kujawab benar. Rasanya di tes kemampuan IPS-lah yang mendongkrak passing gradeku sehingga bisa lolos UGM.

Setelah melewati banyak lika-liku dan pergolakan batin yang sangat complicated – mau berhenti kuliah karena mau masuk pondok pesantren program I’ddad Du’at 2 tahun di Al Irsyad Surabaya & sempat kuliah S1 kedua di UIN Sunan Kalijaga, dalam jangka waktu 7,5 tahun akhirnya aku bisa menyandang predikat S.Fil (Sarjana Filsafat). Sama seperti happy ending ketika SMA, aku berhasil menjadi lulusan terbaik karena IPK-ku paling tinggi di antara mahasiswa Filsafat yang lulus di Februari 2010. Ijazahku diberikan langsung oleh Rektor UGM (Prof. Soejarwadi). Hanya 18 orang yang menerima ijazah langsung dari Rektor. Mereka adalah perwakilan dan lulusan terbaik masing-masing fakultas yang ada di UGM. Di fakultas, akupun didaulat untuk memberikan Kata Perpisahan mewakili teman-teman wisudawan-wisudawati Fakultas Filsafat.

Dengan IPK yang lumayan tinggi, aku kemudian memasukkan lamaran kerja ke perusahaan-perusahaan bonafit. Salah satunya adalah Lowongan ODP Bank Mandiri. Setelah tahapan seleksi administratif yang berjalan mulus, aku kemudian dipanggil untuk melakukan wawancara pertama. Saat itu ada 2 kandidat lain yang berbarengan denganku dan kami berhadapan dengan seorang interviewer. Salam pembuka sudah dimulai dengan Bahasa Inggris. Otakku langsung berpikir, “ini bakalan jadi wawancara Bahasa Inggris…” Benar memang. Kemudian satu per satu kami ditanya dalam Bahasa Inggris. Pas giliranku, entah kenapa lidah ini langsung kelu. Tidak jelas kata-kata yang terucap. Rasanya seperti berada di panggangan api. Aku berkeringat. Padahal ruangannya ber-AC. Menunggu beberapa hari kemudian, tidak ada namaku tertera di daftar pelamar yang lolos seleksi tes berikutnya.

Pengalaman memalukan itu kemudian membuatku penasaran, berapa sieh sebenarnya TOEFL yang kumiliki. Akhirnya, di sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris, aku memberanikan diri ambil tes TOEFL untuk pertama kali seumur hidup. Dengan Pe-De nya kulewati sesi Listening, Structure dan Reading. Pas hasilnya keluar, aku hanya bisa melonggo karena skor TOEFL-like ku hanya 377.

Semenjak itulah petualangan panjang belajar Bahasa Inggris dari nol/dasar dimulai. Pertama aku ambil kelas 4 level di Jogja English Dormitory (JED). Meskipun di awal-awal sangat kesulitan karena banyaknya vocab dan pola-pola grammar yang harus kuhafal, akhirnya program selama kurang lebih 4 bulan itu bisa kulewati. Akupun mulai pe-de ambil tes TOEFL lagi. Namun, hasil yang kudapatkan cuma 420-an.

Dengar-dengar kalau di Pare Kediri bisa meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris secara cepat, akhirnya akupun berangkat sendirian ke Pare. Mendaftar di satu lembaga kursus. Tetapi karena cuaca Pare yang tidak bersahabat sehingga flu dengan mudah menyerangku. Cuma 2 minggu aku berada di Pare. Kemudian kuputuskan untuk mencari lembaga kursus yang ada di Jogja saja.

Ingatan pada seorang senior tetangga kontrakan dulu di daerah Pogung yang terkenal di kalangan teman-teman ngaji sebagai jago-nya Bahasa Inggris karena mengambil kursus di Sanata Dharma, akhirnya mengantarkanku sebagai mahasiswa D2 English Extention Course Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Sempat juga aku was-was tidak bisa kursus di sana. Seleksinya ketat dan dari 100 soal, pendaftar minimal harus betul di atas 50 soal. Dari cerita teman-teman, ada yang sampai 2-3 kali ikut tes masuk sebelum akhirnya diterima sebagai mahasiswa D2 EEC Sadhar. Seingatku, aku memulai perkuliahan pertama di awal tahun 2011.

Selama setahun aku tidak bisa maksimal mengikuti kursus. Karena harus mengikuti berbagai tes kerja di Jakarta. Tapi semuanya gagal, sampai akhirnya aku diterima sebagai Web Editor di CRCS UGM, program Pascasarjana Internasional UGM yang khusus mempelajari Agama dan Budaya. Untung saja boss-ku cukup berbaik hati untuk mengizinkan aku meninggalkan kantor jam 3 sore, sehingga aku masih bisa ambil kelas sore di EEC. Sekedar info, EEC itu memberikan 8 mata kuliah setiap semester. Kelas dimulai jam 2 siang sampai jam 5.40 sore. Ada 2 mata kuliah yang harus diikuti mahasiswa setiap hari. Dan harus datang 4 hari seminggu ke kampus untuk menempuh 16 sks. Karena harus membagi waktu dengan jam kerja kantor, hanya 5 mata kuliah yang maksimal bisa ku ambil. Itupun kadang tidak semuanya kuselesaikan, tersebab aku melanggar aturan 70% kehadiran.

Setelah kontrak 1 tahun bekerja di UGM kuselesaikan, aku memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak kerja. Aku kemudian beralih melanjutkan usaha penerbitan buku yang selepas wisuda sudah mulai kurintis. Setelah pamitan baik-baik mulailah aku dengan hari-hari yang berat. Orderan yang datang tidak seperti yang kuharapkan. Sehingga kadang aku terpaksa menelpon Bapak untuk dikirimi uang buat makan. Kalau Bapak lagi kesulitan finansial di kampung, terpaksalah aku minjam uang teman-teman yang sudah bekerja di perusahaan yang bagus-bagus (dengan gaji bulanan gede tentunya).

Beruntungnya waktuku sudah mulai longgar. Jadwal bekerja bisa kuatur sedemikian rupa sehingga aku bisa full mengambil mata kuliah di EEC. Aku mulai menikmati kelas demi kelas dengan dosen-dosen inspiratif. Deretan nilai A dan B menghiasi papan pengumuman selepas ujian semester. Hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan semua mata kuliah dengan IPK 3,60 di tahun 2015. EEC juga yang memberikan bekal untukku bisa berangkat ke Jerman untuk mengikuti pameran buku terbesar se-dunia, Frankfurt Book Fair 2014. Mengambil beberapa kelas dengan dosen native speaker dari Amerika membuatku pede ketika dimintai teman-teman untuk mendampingi peneliti-peneliti dari Jerman dan Amerika untuk melakukan wawancara dengan beberapa tokoh Islam di Jogja.

Dari tahun 2011 sampai 2015 beberapa kali mengambil test TOEFL. Awalnya beberapa kali ambil TOEFL Like. Dari 420-an selepas mengambil kursus di JED (Jogja English Dormitory), skorku naik menuju 450-an. Tes berikutnya naik jadi 470-an. Di sanalah kemudian rasa percaya diriku muncul untuk mengambil TOEFL ITP yang berbiaya 300-an ribu rupiah kala itu (sekarang sudah di atas 400-an ribu rupiah). Skor ITP pertama yang kudapat adalah 493. Penasaran karena belum sampai angka 500 (yang kala itu rencananya mau dipakai untuk apply Australia Awards Scholarship), akupun ambil lagi tes ITP kedua hanya dengan mengandalkan belajar mandiri. Alhamdulillah tes kedua bisa dapat 503, tetapi aku gagal seleksi beasiswa AAS. Setelah itu, aku mencoba untuk menaikkan target jadi 550. Kursus TOEFL di P2EB UGM pun kuikuti. Sayang cuma menaikkan skorku menjadi 517.

Curhat dengan salah seorang dosenku di EEC yang punya TOEFL ITP di atas 620, akhirnya aku disarankan untuk belajar sendiri aja dengan memakai buku-buku yang bagus. Saat itu di EEC juga ada mata kuliah TTES yang mengajarkan bagaimana menghadapi soal-soal TOEFL Klop sudah. Selepas kelas TTES, untuk sekian kalinya aku test ITP lagi. Alhamdulillah dapat 543. Namun belum bisa mencapai target 550-ku. Belajar lagi dan tes lagi. Akhirnya di Ramadhan 2014, aku berhasil meraih capaian TOEFL tertinggiku 547. Sempat juga kucoba lagi ikutan ITP dalam pencapaian skor 550, tetapi nilaiku malah ngedrop di 543 lagi. Ikutan tes sekali lagi, mentok di 547.

Mendapatkan info bahwa ITP tidak bisa dipakai untuk melamar S2 di Universitas-Universitas di Eropa, akhirnya aku putuskan untuk banting stir ke IELTS. Januari 2015 bersama 2 teman sesama mahasiswa EEC dan 1 teman IMM, aku mendirikan IELTS CLUB. Belajar bareng IELTS. Di awal-awal skor simulasi yang kudapatkan masih di kisaran 5. Pas ambil IELTS Simulasi di IONs, overall band scoreku cuma 5,5. Kesibukan masing-masing dari kami membuat IELTS Club tidak begitu intensif.

Akhir tahun 2015 sampai April 2016 adalah hari-hari yang berat bagiku. Bapak tiba-tiba sakit. Dari segar bugar, tiba-tiba ngedrop tidak bisa apa-apa. Diagnosis dokter mengatakan Bapak kena serangan kanker otak. Setelah dapat proyekan buku yang lumayan besar, awal Januari 2016 aku bisa pulang kampung. Selama 3 minggu di kampung dan kala itu bapak sudah diizinkan pulang ke rumah oleh dokter. Tetapi hanya jelang 2 minggu, beliau ngedrop lagi. Sehingga terpaksa di rawat di Rumah Sakit yang lebih bagus di Bukittinggi dan di Padang. Sampai akhirnya bapak harus kalah dengan kankernya. Padahal aku lagi mencari jalan untuk mengumpulkan uang agar Bapak bisa dioperasi di Jakarta dengan mengunakan teknologi terbaru menggunakan laser untuk melumpuhkan kanker. Tetapi di pertengahan bulan April 2016, Allah memanggil Bapak untuk selamanya.

Dulu aku selalu bilang sama Bapak bahwa aku ingin kuliah di luar negeri. Sekian juta uang Bapak kuhabiskan hanya untuk ambil berbagai macam les dan tes Bahasa Inggris. Tetapi sampai Bapak wafat, aku masih di Indonesia. Belum bisa mewujudkan mimpi kuliah ke luar negeri. Alhamdulillahnya, bapak sempat melihat aku berangkat ke Jerman meskipun cuma 1 minggu untuk Pameran Buku. Paling tidak aku bisa membuktikan kepada Bapak bahwa kursus Bahasa Inggris yang kulakoni selama bertahun-tahun tidak sia-sia. Saat pulang ke kampung kemarin, aku tahu bagaimana Bapak sering cerita ke teman-temannya bahwa anaknya yang di Jogja pameran buku di Jerman dan ingin melanjutkan S2 ke luar negeri, lewat penuturan beberapa teman-teman nongkrong Bapak di surau, lapau dan bengkel service motor.

Balik dari mudik lebaran 2016, janjiku kepada Bapak untuk kuliah di luar negeri mulai kuperjuangkan lagi. IELTS CLUB ku hidupkan lagi dengan personel lama yang masih tinggal di Jogja dan beberapa anggota baru. Kursus IELTS Preparation dengan biaya 1,7 juta ku ambil di CILACS UII. Tetapi tetap saja nilaiku mentok di 5 – 6 dan 6.5 saat mengadakan simulasi rutin bersama teman-teman.

Barulah di awal Januari 2017, aku nekad untuk mendaftar IELTS Official Test di IALF dengan mengorbankan uang 3,2 juta rupiah. Keputusan kuambil karena aku tidak bisa lagi menunggu lama. Beasiswa LPDP telah dibuka dan akan ditutup tanggal 7 Juli 2017. Tes yang kuambil tanggal 18 Maret. Siap-siap kalau nilaiku tidak memenuhi persyaratan aku masih punya waktu untuk ambil tes yang kedua. Ada 2 bulan waktu untuk persiapan menjelang test. Selama 2 bulan itu intensitas IELTS CLUB kunaikkan. Dari 3 kali pertemuan menjadi 4-5 kali pertemuan per-minggu. 3 kali simulasi IELTS di IONs yang berbiaya Rp. 225.000/tes juga telah kurancang. Simulasi pertama nilaiku lumayan bagus. 7.0 untuk speaking dan writing, 5.0 di listening dan 5.5 untuk reading. Sehingga overall bandnya 6.5. Di kesempatan simulasi kedua, nilaiku malah jeblok jadi 6.0 (Listening 5,5, Reading 6, Speaking 6.5 dan Writing 6.5). Simulasi terakhir, overall bandku kembali di angka 6.5 (Listening 6.0, Reading 6.0, Writing 6.5, Speaking 6.5).

Sabtu 18 Maret 2017. Pagi-pagi aku sudah bersiap dari rumah. Sarapan sekedarnya dengan roti dan air putih, kemudian aku berangkat ke IONs tempat tes IELTS berlangsung. Sekitar jam 8.00 peserta sudah bergerak ke lantai 3 untuk diverifikasi datanya dan diambil fotonya. Sekitar setengah jam prosesi awalan ini selesai. Yang ikut tes sekitar 30-an orang. Jam 9 tes dimulai dengan Listening. Lanjut ke Reading , Writing dan terakhir Speaking. Beruntung aku dapat urutan speaking nomor 3. Sehingga hanya menunggu sekitar 1 jam saja selepas tes Writing ditutup.

Menunggu selama 2 minggu adalah hari-hari tidak mengenakkan. Bawaannya jadi baper. Untuk saja ada banyak kerjaaan editan buku yang harus kuselesaikan sehingga deg-degan dengan hasil tes IELTS bisa sedikit kuredam. Puncak kegelisahanku terjadi di hari Kamis dan Jum’at (30-31 Maret 2017). Makan ngak enak. Tidur ngak nyenyak. Kerja-pun ngak mood. Selepas sholat Jum’at 31 Maret 2017, karena kecapekan akupun tertidur. Bangun-bangun sudah jam 2 lewat. Menjelang sholat Ashar. Iseng-iseng kubuka website IALF. Proses Log In berjalan lancar. Tanggal 18 Maret sudah muncul di pilihan. Setelah memasukan identitas, akhirnya report ini muncul di layar komputer jadulku.

hasil tes ielts

ALHAMDULILLAH. Aku langsung sujud syukur. Tak terasa airmata mengalir. Membasahi sajadah. Tentu aku sangat bersyukur. Sekian tahun berjuang, akhirnya aku mendapatkan skor Band 6.5 yang bisa kupakai untuk mendaftar di kampus luar negeri.

Namun perjuanganku sebenarnya baru dimulai. Perjuangan mencari kampus dan beasiswa tentu tidak akan kalah beratnya. Tapi demi janjiku kepada Bapak dan Ibu di kampung, aku akan melakukan usaha yang lebih keras lagi untuk mewujudkan impian kuliah di luar negeri.

Note: Tulisan ini kupersembahkan kepada Bapak yang tetap mempercayai mimpi-mimpiku sampai akhir hayatnya. Buat Ibu yang terus berdo’a dan sampai hari ini masih berjualan sayur jam 3 dinihari untuk memenuhi kebutuhan keluarga di kampung. Buat teman-teman IELTS CLUB yang telah memberikan inspirasi dan semangat untuk terus belajar bersama-sama. Buat seorang Adek yang ku janji akan membawanya merasakan dinginnya Eropa. Buat siapapun yang percaya bahwa mimpi itu bukanlah ilusi. Tetapi ia bisa diwujudkan dengan do’a dan usaha penuh kesabaran.

Iklan

4 thoughts on “UAN 4,00, TOEFL S1 377, IELTS 6.5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s