Kenapa Saya Menolak Ahok Jadi Gubernur DKI 2017-2022??


Kenapa Saya Menolak Ahok Jadi Gubernur DKI 2017-2022??
 
Oleh: Anggun Gunawan (Alumni Filsafat UGM)
 
1. Inkonsistensi Berpolitik
 
setahunan menjelang Pilkada DKI, Ahok dengan jumawa mengatakan kepada media dan publik bahwa ia akan mendaftar lewat jalur independen. alasannya adalah Ahok tidak mau memberikan “upeti” kepada pimpinan Parpol yang selalu “memeras” para kandidat yang akan maju di Pilkada… surat sakti dari Ketua DPP menjadi poin sangat penting untuk mendaftarkan diri secara resmi di KPUD…
 
maka bersemangatlah Teman Ahok untuk mengumpulkan KTP… targetnya cukup bombastis… 1 juta KTP.. siang malam Teman Ahok kerja keras agar ahok bisa maju lewat jalur independen… tetapi di detik-detik pendaftaran, Ahok malah sowan ke rumah Megawati, dan mengumumkan ia lebih memilih maju bersama Parpol… kritik keras Ahok terhadap “mahar mahal” yang dipersyaratkan Parpol hilang entah kemana… mungkin saja mahar mahal sudah dibiayai oleh sponsor, jadi Ahok tak perlu repot-repot untuk mengeluarkan duit dari kantong pribadi.
 
2. Menyerang dan Mempermalukan Orang-Orang yang Dianggap Menghadang Langkah Politiknya
 
ketika ketua BPK Harry Azhar menyebutkan ada potensi kerugian negara dalam pembelian lahan Sumber Waras, Ahok dengan garang mengibarkan bendera perang kepada Harry Azhar…. padahal BPK merupakan lembaga audit negara yang diakui hasil laporan dan investigasinya oleh konstitusi…
 
pas banget kala itu lagi heboh2 Panama Papers dan Harry Azhar termasuk yang disebut-sebut oleh media… ketemulah senjata jitu dan Ahok kemudian dengan sangat pede dan berada di atas angin untuk menyerang Harry Azhar… dan kasus Sumber Waras pun menguap begitu saja.
 
karena merasa dipermalukan oleh MUI lewat Pernyataan Keagamaan “Ahok Menistakan Agama”, di depan persidangannya dengan tanpa pakai sopan santun Ahok menyerang seorang ulama sepuh kharismatik NU yang juga adalah ketua MUI, KH. Ma’ruf Amin… Ahok merasa biang keladi dari aksi-aksi demo 411, 212 sampai akhirnya ia harus bolak-bolik menjalani persidangan bermuara pada Pernyataan Keagamaan MUI… KH. Ma’ruf dicecar habis-habisan selama berjam-jam… sampai-sampai mengancam akan mempidanakan KH. Ma’ruf karena dianggap telah mencemarkan nama baiknya dan tentu saja hampir2 mematikan karier politiknya…
 
aksi mempermalukan orang di depan publik itu punya deretan yang cukup panjang.. dari ibuk-ibuk rumah tangga sampai ke PNS-PNS DKI dipermalukan oleh Ahok di depan awak media….
 
3. Permintaan Maaf Karena Takut Elektabilitas Anjlok
 
gara-gara elektabilitasnya anjlok ketika kasus penistaan agama mulai menguat, Ahok kemudian menyampaikan permintaan maaf kepada umat Islam… bahkan ketika memulai sidang, dengan menangis ia mengambarkan jasa-jasa keluarga angkatnya yang muslim… tetapi dendamnya kepada Habib Rizieq dan MUI tidak pernah hilang… makanya setiap kali orang MUI tampil di persidangan, maka rasa tidak suka dan kemarahan itu sangat tampak terlihat…
 
setelah mencecar ketua MUI berjam-jam secara pribadi maupun lewat kuasa hukumnya, Ahok pun kembali minta maaf gara-gara keluarga besar NU yang diharapkan bisa menjadi “kolam suara” untuk pilkada marah besar karena kiyai sepuhnya dipermalukan… makanya kemudian ancaman akan mengadukan KH. Ma’ruf Amin urung dilakukan…
 
4. Tidak Mendukung Program Kerja Presiden Jokowi
 
begitu kerasnya pembelaan Ahok kepada pengembang reklamasi teluk jakarta, sampai-sampai Ahok berani pasang badan untuk melawan beberapa menteri yang ingin menghentikan reklamasi dengan ingin menguji surat moratorium hasil kesepakatan beberapa menteri ke Mahkamah Agung.
 
pembelaan Ahok terhadap pembangunan reklamasi sebenarnya bertentangan dengan semangat Presiden Jokowi untuk membangun Indonesia dari kawasan luar…
 
5. Tetap Menjadikan Jakarta sebagai Pusat Segala-galanya
 
apabila Jakarta terus dijadikan sebagai kawasan sentra pengembangan Indonesia dan uang yang mengalir di Jakarta tetap dibiarkan membludak (ada yang mengatakan uang yang beredar di Jakarta hampir mencapai 90% dari total uang yang beredar di Indonesia) maka orang akan terus berbondong-bondong datang ke jakarta.. jakarta akan terus mengalami masalah kemacetan dan pemukiman padat karena populasi tak kunjung bisa dikendalikan…
 
mengikuti program kerja Jokowi seharusnya program pembangunan Jakarta harus diminimalisir.. mengarah kepada peningkatan kualitas bukan dengan memberikan izin pembangunan secara jor-joran… memang pemukiman padat terutama yang dekat sungai mulai dikurangi, tetapi izin untuk pembangunan menara-menara tinggi lebih dari 20 lantai tetap lancar di berbagai kawasan di Jakarta…
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s