FATWA BOIKOT SHOLAT JENAZAH: BENTUK FRUSTASI USTADZ YANG GAGAL MEMBACA SEJARAH


 
Oleh: Anggun Gunawan (Alumni Filsafat UGM)
 
kenapa kita selalu gagal membaca sejarah, sehingga banyak fatwa keagamaan yang terasa NAIF… untuk menjegal Ahok, kemudian beberapa ustadz bikin fatwa “Larangan Menyolatkan Jenazah Muslim yang Pilih Pemimpin Non Muslim.. karena mereka sudah masuk kategori munafik…”
 
baca kembali sejarah… Soekarno saja yang memasukan Komunis sebagai Ideologi Negara lewat NASAKOM, memilih tokoh-tokoh Komunis yang anti Tuhan dalam kabinetnya, kemudian membiarkan PKI membunuh para ulama, ketika meninggal dunia DISHALATKAN oleh ulama besar yang dikasih gelar doktor sama Universitas Al Azhar, Buya HAMKA…
 
kenapa pada kehilangan akal untuk mengalahkan Ahok untuk Pilkada Putaran Kedua…
 
Selama berabad-abad dari generasi ke generasi ulama bilang bahwa sholat 5 waktu itu wajib… tetapi berapa persen umat Islam yang komitmen untuk sholat 5 waktu???
 
berbuih-buih para ustadz menyampaikan bahwa sholat berjamaah di masjid itu wajib bagi laki-laki… tetapi masjid-masjid kita masih sepi dan kadang jamaah perempuannya lebih banyak daripada laki-laki…
 
dengan tegas lewat Keputusan Tarjihnya, Muhammadiyah mengatakan ROKOK/MEROKOK ITU HARAM… tetapi banyak kiyai tak bisa lepas dari kecanduan rokok… dan betapa banyak aktivis mahasiswa islam yang dengan bangga merokok di depan kader-kadernya……
 
izinkan saya untuk mengutip ashabul nuzul surat At Taubah 84 yang dijadikan dalil untuk larangan menyolatkan jenazah orang munafik:
 
“Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnu Isma’il, dari Abu Usamah, dari Ubaidillah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa ketika Abdulah ibnu Ubay mati, maka anaknya yang juga bernama Abdullah datang menghadap Rasulullah Saw. dan meminta baju gamis Rasul Saw. untuk dipakai sebagai kain kafan ayahnya. Maka Rasulullah Saw. memberikan baju gamisnya kepada Abdullah.
 
Kemudian Abdullah meminta kepada Rasul Saw. untuk menyalatkan jenazah ayahnya. Maka Rasulullah Saw. bangkit untuk menyalatkannya. Tetapi Umar bangkit pula dan menarik baju Rasulullah Saw. seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau akan menyalatkan jenazahnya, padahal Tuhanmu telah melarangmu menya­latkannya?” Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah hanya memberiku pilihan. Dia telah berfirman “Kamu mohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja).
 
Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka.” Dan aku akan melakukannya lebih dari tujuh puluh kali. Umar berkata, “Dia orang munafik.” Tetapi Rasulullah Saw. tetap menyalatkannya. Maka Allah Swt. menurunkan ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang pun yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. (At-Taubah: 84)”
 
konteks Surat At Taubah 84 ini berkaitan dengan Abdullah bin Ubay yang memang dikenal sebagai Dedengkot Munafik di kota Madinah… Ia menyembunyikan kekafirannya dan masuk Islam karena takut dengan kuatnya pengaruh Islam di zaman itu.. Dan dalam kisah tersebut, ditegaskan “Umar berkata, “Dia orang munafik.” Tetapi Rasulullah Saw. tetap menyalatkannya…” RASULULLAH TETAP MENYOLATKANNYA.. barulah setelah itu turun peringatan Allah tentang larangan menyolatkan Abdullah bin Ubay…
 
tuduhan munafik kepada muslim adalah sesuatu yang sangat fatal… banyak kriteria-kriteria yang harus dipenuhi untuk meletakkan CAP MUNAFIK kepada seorang muslim… ada orang-orang munafik yang pura-pura masuk Islam karena faktor terdesak oleh kekuasaan Islam seperti Abdullah Bin Ubay… ada yang disebut munafik karena ia suka berkata bohong, ingkar janji dan menyelewengkan amanah… sebagaimana hadist rasulullah:
 
Artinya : Tanda Orang munafik ada tiga : apabila berbicara ia berbohong, apabila berjanji ia menyalahi, apabila diserahi amanah, ia berkhianat. (Hadist Muttafaqun ‘Alaih).
 
untuk kategori yang terakhir ini mungkin hampir semua kita pernah melakukan….
 
dan kaidah fiqh menyebutkan, PERILAKU MUNAFIK TIDAK SERTA MERTA MEMBAWA SESEORANG JATUH PADA STATUS MUNAFIK…
 
KALAU KITA SERAMPANGAN MENCAP SEORANG MUSLIM ITU MUNAFIK, MAKA BISA SAJA SYARIAT SHOLAT JENAZAH BISA GUGUR… KARENA TERLALU BANYAK PERILAKU MUNAFIK DI NEGERI INI DILAKUKAN OLEH HAMPIR SEMUA ORANG… DUSTA DALAM BERKATA.. KHIANAT DALAM JANJI… MENYELEWENGKAN AMANAH… KORUPSI… SELINGKUH…
 
dan masih banyak hal yang harus dijelaskan soal, apakah memilih pemimpin non muslim dalam pilkada dalam sistem demokrasi yang banyak disebut-sebut sebagian ustadz tidak Islami, cocok untuk implementasi larangan sholat jenazah ini???
 
mungkin ada baiknya kita berlaku seperti Umar bin Khattab.. yang selalu gelisah kalau-kalau ia termasuk nama orang Munafik yang disampaikan oleh Rasulullah kepada Hudzaifah Bin Yaman… padahal untuk zaman sekarang, tidak ada yang bisa melampaui keimanan dan kesholehan Umar….
 
bagaimana pula bisa menverifikasi coblosan seseorang di kotak suara… karena coblosan itu bersifat Rahasia… mana saksi dan bukti untuk mengatakan Si Anu Pilih Ahok, Si Anu Pilih Orang Kafir..???
 
Ibnu Abi Malikah pernah mengatakan, “Aku telah menjumpai tiga puluh sahabat Nabi, seluruhnya takut akan nifak. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengatakan, bahwa dirinya memiliki iman seperti imannya Jibril dan Mikail.
 
Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, “Tidak ada orang merasa aman dari sifat nifak kecuali orang munafik dan tidak ada orang yang merasa khawatir terhadapnya kecuali orang mukmin.”
 
SAYA MASIH DALAM KEYAKINAN, MAU SENGERI APAPUN FATWA YANG DIBUAT, ITU TIDAK AKAN BERPENGARUH SIGNIFIKAN UNTUK MENURUNKAN SUARA AHOK…
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s