MESIN YANG BAGUS-MAHAL TAK AKAN ADA GUNANYA, BAHKAN BISA MENJADI BENCANA, KALAU OPERATORNYA TAK MAHIR DAN SALAH MENJALANKANNYA


Oleh: Anggun Gunawan (Alumni Filsafat UGM)
 
kemarin, agak lama saya ngobrol dengan seorang senior yang sudah lama malang-melintang di dunia cetak-menyetak buku… “Mas Anggun… Sebagus apapun mesin cetak, mau seberapa mahal apapun harganya, tetapi kalau operatornya tidak berpengalaman dan tidak ditraining secara benar, maka hasil cetakannya tetap meleset mas… Kalau di dunia percetakan buku, melesat 2 mm aja, berpengaruh besar dalam finishing dan hasil bukunya Mas…”
 
selain itu media cetak juga harus diperhatikan oleh seorang operator mesin buku.. ada kertas bertekstur seperti bookpaper… ada yang standar seperti hvs… ada yang lux seperti artpaper… seorang operator harus mengukur berapa ketebalan kertas, agar ia tidak meleset menghitung presisi punggung buku… kalau salah, maka alamat cover bagian depan atau belakang akan dikorbankan karena termakan oleh punggung buku..
 
analogi di atas rasanya pas untuk melihat kehidupan berislam dewasa ini… ibarat mesin, maka Islam bisa dikatakan sebagai mesin terbaik dan ideal untuk segala jenis tipelogi dan karakter manusia (media cetak)… tetapi seringkali Islam yang ideal dan bagus itu akhirnya sumbang, meleset dan presisinya ngak pas karena sang operator tak mampu memahami karakter mesin bagus yang dimilikinya dan tak memperhatikan media yang dicetaknya…
 
betapa banyak muslim mengutip hadist bahwa Allah tidak akan memasukkan seorang hamba ke dalam surga apabila dalam hatinya ada kesombongan… tetapi di sisi lain sang pengutip hadist tersebut enggan memberikan salam kepada saudaranya dan diliputi perasaan ashobiyah bahwa kelompok/organisasi/ustadznya sajalah yang benar…
 
betapa banyak muslim yang berkata soal keadilan… dan kemana-mana mengutip hadist, “Tidak seorangpun yang mengurusi umat ini, sedikit atau banyak, lalu dia tidak berlaku adil di tengah-tengah mereka, kecuali Allah menjebloskan dia ke dalam neraka.” tetapi ia kemudian melakukan perselingkuhan dan mengkhianati janji suci pernikahan…
 
betapa banyak muslim yang mengutuk “politisasi agama”… tetapi tanpa merasa berdosa ia melakukan “kapitalisasi agama” dengan menjual ritual-ritual ibadah untuk kepentingan ekonominya..
 
betapa banyak muslim yang mengutuk “penodaan agama… tetapi dengan bersuka cita mereka menjadi “pendusta agama” dengan membiarkan orang-orang miskin dan anak yatim hidup terlantar…
 
betapa banyak ustadz yang menyuarakan persatuan umat islam sedunia… tetapi lihat ustadz sebelah lebih ramai pengajiannya dan lebih sering diundang orang, rasa dengki dan benci menyelimuti hatinya…
 
betapa banyak muslim yang sana-sini bicara soal pemberdayaan ekonomi umat… tetapi ia malas bekerja dan malah membiarkan istrinya mengambil posisi sebagai pencari rezeki…
 
JANGAN SAMPAI KITA MENGGUNAKAN AYAT AL-QUR’AN DAN HADIST UNTUK MENYERANG ORANG-ORANG YANG SECARA PRIBADI TIDAK KITA SUKAI, TETAPI DI SISI LAIN KITA SENDIRI MELANGGAR SEKIAN BANYAK AYAT-AYAT LAIN DALAM AL-QUR’AN DAN HADIST…
 
SEBAGAI “OPERATOR DA’WAH”, PERLU BAGI PARA USTADZ UNTUK MENELISIK BETUL “MEDIA DAKWAH”… BAGAIMANA HARUS BERKOMUNIKASI DENGAN PENGUASA… BAGAIMANA CARANYA MENYENTUH HATI ORANG AWAM YANG TAK MENGERTI AGAMA… KARENA MEMPERHATIKAN HAL INILAH DAKWAH RASUL BERJALAN SUKSES… KETIKA MENGHADAPI PARA RAJA, RASUL DENGAN CARA TERHORMAT MENGIRIMKAN UTUSAN DAN SURAT.. KETIKA MENGHADAPI BADUI DARI PEDALAMAN, MAKA RASULULLAH MENEGURNYA DENGAN HIKMAH DAN KEBIJAKSANAAN…
 
Ada seorang muallaf Amerika yang berkata seperti ini, “Untung saja saya berkenalan dengan Islam lebih dulu daripada berkenalan dengan orang Islam… karena kalau saya berkenalan dengan orang Islam dulu, maka mungkin saya ngak akan pernah tertarik masuk Islam…” Testimoni jujur ini mengindikasikan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh umat Islam dimanapun ia berada…
 
yang menggelisahkan Umar Bin Khattab adalah ketakutan bahwa ia termasuk list “orang-orang munafik” yang disampaikan oleh Rasullah kepada sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman… dalam beberapa kali kesempatan Umar menanyakan kepada Hudzaifah, apakah ia termasuk yang disebutkan oleh Rasulullah… tetapi Hudzaifah tidak mau menjawab, karena sudah dititipkan pesan oleh Rasulullah untuk tidak menyampaikan rahasia ini kepada siapapun… Hatta kepada para sahabat terbaik sekalipun… hingga akhirnya, Umar menyerah dan ia selalu melihat gerak-gerik Hudzaifah ketika ada kaum muslimin yang meninggal dunia.. kalau Hudzaifah menyolatkan, maka Umar ikut… kalau Hudzaifah enggan menyolatkan, maka bisa jadi yang meninggal masuk list orang-orang munafik yang disampaikan rasulullah…
 
Jika Umar saja, sahabat terbaik rasulullah, khawatir dengan keadaan dirinya kalau-kalau masuk “list orang-orang munafik” yang cuma disampaikan rasulullah kepada Hudzaifah, apalah lagi kita yang belum ada apa2nya dengan Umar Bin Khatab…
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s