Ketersediaan Dana Untuk DEMAM “Universitas Riset” di Indonesia


Oleh: Anggun Gunawan (Alumni Filsafat UGM – ICMI DI. Yogyakarta)
 
APBN yang disediakan pemerintah Jerman untuk perguruan tingginya adalah 23.3 billion euro (2010) alias 330 triliyun rupiah… sementara kemenristek dikti Republik Indonesia hanya mendapat jatah 39 triliyun rupiah di tahun 2017 ini.
 
tahukah teman-teman… untuk meningkatkan rangking perguruan tinggi pada jajaran top level dunia (Times Higher Education Statistics menurut saya adalah rujukan yang lebih baik dibandingkan lembaga perangkingan lainnya) sejak tahun 2005 Jerman membuat program ambisius dengan nama “German Excellence Initiative”…. untuk program 5 tahun (2012 – 2017) Jerman sudah menyiapkan dana €2.7 billion alias 39 triliyun rupiah (7,8 triliyun per-tahun). Dana itu hanya dibagikan kepada 45 graduate schools, 43 clusters of excellence and 11 institutional strategies atau kepada 99 institusi (di Jerman ada 379 perguruan tinggi – dari Jumlah itu hanya 5% perguruan tinggi yang berstatus swasta). … Artinya, kalau dipukul rata, masing-masing institusi akan mendapatkan 78 miliar/tahun. Dan apabila masing-masing institusi itu fokus pada 1 riset saja, rasanya duit 78 miliar cukup untuk menghasilkan penemuan baru yang bisa menghasilkan sesuatu yang signifikan.
 
sementara di Indonesia, untuk tahun ini pemerintah menganggarkan Dana Riset untuk perguruan tinggi sebesar Rp1,73 triliun Jumlah perguruan tinggi negeri di Indonesia ada 378… Sedangkan perguruan tinggi swasta ada 4115. Jika dana riset itu hanya dialokasikan untuk perguruan tinggi negeri saja, maka secara rata-rata dana riset yang diterima masing-masing perguruan tinggi adalah 4,5 miliar… jika di masing-masing perguruan tinggi negeri itu ada 100 proposal riset, maka masing-masing riset hanya mendapatkan dana 45 juta… kira2 untuk riset serius untuk menghasilkan temuan terbaru yang bisa dipakai massif oleh masyarakat luas dan bisa diaplikasi dalam dunia industri, apakah uang 45 juta itu CUKUP??? belum lagi kalau misalnya jumlah 1,73 triliyun itu dibagi-bagikan kepada 4000-an perguruan tinggi swasta yang ada.
 
Ketika berbagai perguruan tinggi di Indonesia berlomba-lomba mendaulat diri sebagai Universitas Riset, rasanya perlu ada regulasi khusus dan fokus khusus. Dana APBN yang terbatas untuk dana penelitian bagi perguruan tinggi hanya menjadi sia-sia ketika hanya berbasis kepada masalah “keadilan” jatah dan hanya sekedar mengikuti trend saja. Perlu dibuat skala prioritas. Misalnya perguruan tinggi kependidikan, cukup fokus pada riset-riset yang berkaitan dengan pengembangan dan inovasi pembelajaran saja. Untuk UGM, misalnya, cukup diberikan alokasi untuk riset strategies di bidang ekonomi. UI untuk riset bidang kebijakan publik. ITB untuk pengembangan IT. Ketika ada skala-skala prioritas di masing-masing perguruan tinggi, ada sesuatu yang jelas dan terukur yang bisa dihasilkan dari dana riset yang sudah dianggarkan.
Sumber Bacaan:
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s