(Anggun Gunawan – Alumni Filsafat UGM)
 
Belakangan ini saya mencoba mencari jawaban atas beberapa suara yang saya dengar sendiri dari kiri dan kanan. “Kenapa untuk menjatuhkan seorang Ahok, umat Islam harus turun ke jalan sekian juta orang? Apa yang mesti ditakutkan dari seorang Ahok?” Kemudian di berbagai media sosial dan grup chat, kita disuguhi berbagai macam info dan foto, soal peran Naga di belakang Ahok, kehadiran perusahaan – modal – tenaga China di berbagai proyek baru di Indonesia dan kedatangan/kebangkitan kembali ideologi komunis di Indonesia.
 
Penodaan Al Qur’an (yang menjadi entry point kebencian kepada Ahok) merupakan hal sangat sensitif dan sangat menyinggung perasaan umat Islam. Tetapi menurut penilaian saya, ketidaksukaan Ahok kepada Al Qur’an banyak didorong oleh kepentingan politisnya untuk maju sebagai pemimpin di negeri dengan mayoritas berpenduduk muslim. Karena di sisi lain, Ahok merasa sangat berhutang budi dengan tetangganya yang muslim. Oleh keluarga muslim itu Ahok (selepas lulus kuliah) kemudian dikasih kerja bagus dan beberapa tahun kemudian dibuatkan perusahaan, yang akhirnya menjadikan ia sebagai pengusaha sukses (modal besar Ahok untuk meloncat ke dunia politik).
 
Pada ranah yang berbeda, kita sendiri menyaksikan masih banyak orang Barat dan di Barat yang memberikan stigmatisasi kepada Al Qur’an. Masih sering kita dapati, orang Amerika yang mengatakan Al Qur’an sebagai sumber inspirasi serangan WTC. Masih berkembang kampanye bahwa Al Qur’an adalah kitab suci diskriminatif terhadap perempuan.
 
Di Indonesia sendiri, saya masih menemukan seorang oknum aktivis HMI yang melecehkan Al Qur’an dengan sangat vulgar. Kampus tempatnya kuliah telah melakukan pemecatan (dikembalikan kepada orang tua). Tetapi HMI malah memberikannya ruang untuk berkreasi lebih tanpa ada hukuman sanksi administratif. Apalagi membawa kasus penistaan pelecehan Al Qur’an oleh kadernya sendiri itu ke ranah hukum. Alasannya, itu hanyalah kegenitan seorang kader muda yang masih galau dalam pencarian kebenaran.
 
Jika kita elaborasi lebih luas, penghinaan terhadap Al Qur’an sebenarnya bisa dikategorikan dalam beberapa varian:
 
1. Stigmatisasi dan Pandangan bahwa Al Qur’an sebagai sumber inspirasi untuk diskriminasi dan kekerasan (ini terjadi pada kasus Ahok dan Islamophobia khususnya di Eropa dan Amerika).
 
2. Kampanye Keraguan terhadap Otentitas Al Qur’an (ini digerakkan oleh Orientalis dan murid-muridnya)
 
3. Tafsiran Liberalis terhadap Al Qur’an (ini kebanyakan dilakukan oleh Para Cendikiawan Muslim yang belajar di Barat atau terpukau dengan metodologi dari Barat)
 
4. Komodifikasi Al Qur’an untuk kepentingan bisnis dan mencari uang (ini banyak dilakukan oleh beberapa pendakwah dan bisnisman muslim)
 
5. Pengacuhan terhadap syariat-syariat Islam. Misalnya tidak mengerjakan sholat 5 waktu, mengabaikan zakat serta tidak membantu fakir miskin anak yatim (pelakunya adalah orang Islam sendiri).
 
6. Pelecehan sarkastis verbal dan fisikal terhadap Al Qur’an. Misalnya kasus pelemparan Al Qur’an ke lantai oleh mahasiswa di kampus-kampus Islam saat orientasi mahasiswa baru karena beranggapan bahwa “buku” Al Qur’an hanyalah kumpulan bundelan kertas yang digoresi tinta.
 
Kasus Ahok seharusnya menjadi momen penyadaran bagi umat Islam Indonesia untuk lebih melakukan pembelaan komprehensif kepada Al Qur’an, terutama kepada semangat untuk membumi nilai-nilai Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
 
Dalam kaitannya dengan kebangkitan gerakan komunis di Indonesia, maka penghormatan terhadap syariat zakat adalah langkah besar untuk menghadang ideologi yang pernah berjaya di pertengahan abad 20 di Indonesia itu.
 
Secara teoritis dan praktis, ideologi komunis bisa tumbuh subur ketika kemiskinan dan ketidakadilan ekonomi terjadi di sebuah negeri. Dan gejala-gejala itu sudah tampak di depan mata. Tidak hanya terjadi pada masyarakat dengan pendidikan rendah, tetapi telah merambah kelompok masyarakat yang memiliki ijazah perguruan tinggi.
 
Kampus-kampus kita selalu dengan bangga dengan capaian jumlah mahasiswa yang mereka terima dan wisudakan. Tetapi abai dipikirkan bagaimana nasib para sarjana itu selepas wisuda. Hingga kebanyakan sarjana menjadi pengangguran dengan gengsi tinggi. Hanya mau kerja enak di ruang ber-ac, plus miskin keberanian untuk membuat usaha sendiri.
 
Anehnya, Naga China yang begitu massif dimusuhi sebenarnya telah berposisi sebagai kaum borjuis kapitalis yang menjadi musuh nomor wahid dari ideologi komunis. Dan mau tidak mau kita harus mengakui bahwa sekian juta rakyat Indonesia menggantungkan hidup dari perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh naga-naga china tersebut. Begitu juga halnya dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Banyak dari kita yang sangat terbantu dalam perjalanan jauh antar kota dengan kehadiran maskapai Lion Air. Kita bolak-balik ke toko spare part handphone punya orang china. Beli mobil atau motor di dealer punya orang China.
 
Lucunya lagi, kebanyakan kita bereuforia ketika Tontowi dan Liliyana meraih emas di olimpiade. Disambut dan diarak bak raja. Dipuja dimana-mana. Tetapi kita lupa bahwa peran Djarum dalam kesuksesan mereka itu. Dan bukankah pemilik Djarum itu adalah termasuk dari bagian dari Naga yang dibenci itu?
 
Akhirnya, kebencian kepada Ahok karena ada kekuatan modal naga china di belakangannya beralih kepada kebencian sumir karena kita sebenarnya sulit untuk “move on” dari sesuatu yang berbau china.
 
Apakah ini kemudian seperti kampanye pemboikotan kepada produk-produk yang “katanya” menyumbang kepada Israel. Kita disuruh memboikot facebook karena Mark Zuckerberg karena ia punya darah yahudi dan banyak menyumbang kepada Israel. Tetapi yang terjadi kemudian, ustadz-ustadz kita masih disuguhi minuman berlabel aqua dan kita masih menjadi member setia facebook.
 
Ambivalensi inilah yang kemudian menurut saya membuat kita hanya terjebak pada kebencian sesaat. Seperti kebencian ibuk-ibuk pengajian saat AA Gym memutuskan untuk poligami. Tetapi sekarang AA Gym kembali disenangi dan sudah mulai dipanggil mengisi ceramah dimana-mana.
 
Kita kemudian gagal melakukan memikirkan perjuangan yang lebih sistematis dan jangka panjang. Terutama sekali untuk perang menghadapi dominasi naga dan mengatasi pengangguran yang semakin mengerikan di negeri ini. Butuh langkah-langkah nyata. Karena orang lapar harus dikasih makan terlebih dahulu bukan malah diceramahi. Pemboikotan sebuah produk harus diimbangi dengan kehadiran produk lain yang setara/lebih kualitas dan harganya. Termasuk juga kemampuan kita mempersiapkan pemimpin-pemimpin yang siap terjun dan mampu menunjukkan kualitas kerja.
 
JIKA TIDAK ADA USAHA KE ARAH ITU, MAU BERAPA JUTAPUN UMAT YANG BERGERAK DI 212, KITA TETAP MENJADI BANGSA YANG TERGANTUNG KEPADA NAGA CHINA… YANG MEMEKIK KERAS MEMBENCI CHINA, TETAPI SETIAP BARANG YANG KITA PAKAI SEHARI-HARI BERLABELKAN “MADE IN CHINA”…