(Anggun Gunawan – Pemilih Prabowo Subianto di Pilpres 2014)
 
Biasanya saya akan membagikan thread yang saya buat di status facebook ke beberapa Grup. Untuk tulisan “Agenda Mendesak Untuk Umat: Rasanya Bukan 212” saya mendapatkan like dan pujian yang lumayan di grup facebook Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada… dan mendapatkan kecaman dan serangan di grup facebook Palanta Urang Awak… saya kemudian berpikir, pro dan kontra adalah bagian yang tak bisa dilepaskan dari dunia sosial media kita saat ini… kita biasanya bereaksi atas ketersinggungan saja…. sehingga tak salah kemudian yang dikumpulkan info2 yang mendukung apa yang kita pahami dan menutup diri dari memahami pihak di luar kita…. bagi saya pilihan menjadi independen dengan pemikiran dan tulisan2 sendiri lebih mencerdaskan… daripada ikut arus pro sana dan pro sini….
 
dan saya merasakan bahwa tembakan 212 bukan lagi kepada kasus Ahok… yang disasar memang Jokowi… dari sekian banyak sikap ketidaksukaan orang kepada jokowi, saya melihat tidak ada yang mampu membuat narasi argumentatif kenapa Jokowi mesti dilengserkan… poin2 konstitutifnya tidak pernah dielaborasi dengan jelas… yang digembar-gemborkan kemudian hanya soal tenaga kerja china, kerjasama yang semakin intens antara indonesia dengan china, dan masalah ketidakadilan serta masalah kesejahteraan masyarakat…
 
dalam konteks global, pertarungan hegemoni antara China dan Amerika merupakan situasi yang tak bisa kita elakkan… menempatkan diri dalam posisi berimbang sangatlah sulit terutama dalam konteks ekonomi… ekonomi bebas telah menjerumuskan indonesia sebagai tempat pertarungan market dari berbagai produk impor. dan harus diakui di tataran ekonomi grassroot, china mendominasi. sementara dalam ranah kebijakan, para petinggi kita terutama dengan kehadiran bu Sri Mulyani sebagai menteri keuangan, amerika masih menjadi kiblat acuan dan mitra yang tetap dijaga.
 
dari sisi sejarah, sebenarnya poros Jakarta – Peking dilakukan dengan sangat intens oleh Soekarno… tetapi langkah Soekarno lebih banyak ditolerir oleh orang-orang zaman sekarang karena persoalan soekarno sebagai proklamator sementara jokowi masih dianggap belum apa2. meskipun pak harto punya kebijakan rasis terhadap etnis tiongha indonesia, tetapi pengusaha2 kelas kakap beretnis china merupakan kawan akrab pak harto…
 
kehadiran tenaga kerja china yang begitu meresahkan dikarenakan tingkat pengangguran di indonesia sangat tinggi. sehingga dengan sangat mudah isu ini diolah dan digelintirkan sebagai bola panas. tetapi kemudian kita tidak menyadari bahwa ada sekian banyak tenaga2 profesional asing yang mendapatkan gaji berlipat-lipat dibandingkan orang indonesia di berbagai perusahaan nasional dan perusahaan multinasional yang punya lini bisnis di indonesia… padahal menurut penuturan kawan-kawan yang bekerja di perusahaan yang sama, para expatriat ini tidak begitu menonjol bahkan ada yang sama saja skillnya dengan orang Indonesia…
 
dari konteks islam, kehadiran orang asing dengan berpakaian terbuka di bali dan beberapa pulau destinasi objek wisata di indonesia yang terkesan dibiarkan saja bisa menjadi persoalan serius… di bali sudah sangat jelas bagaimana minuman keras diperjual-belikan dan aurat diumbar dengan bebas. ada adagium dalam islam yang mengatakan bahwa masalah moralitas adalah penyebab utama dari kehancuran sebuah bangsa… bahkan banyak di antara orang Islam yang menjadikan Bali sebagai tempat berlibur dan jalan-jalan… (saya pribadi sampai saat ini belum pernah ke bali)…
 
kelemahan-kelemahan yang dilakukan oleh Jokowi dalam soal menyejahterakan rakyat indonesia sebenarnya menjadi persoalan presiden-presiden indonesia sebelumnya…. jadi ini murni bukan kesalahan pak jokowi… tapi adalah bagian dari persoalan perenial yang dari masa ke masa terjadi di republik ini…
 
satu hal yang harus kita apresiasi dari jokowi adalah keberaniannya untuk menggulirkan regulasi tax amnesty… sehingga mata kita pun terbuka dengan jumlah asset orang-orang kaya indonesia yang sering disebut2 oleh forbes…. arah pemasukan APBN dari sektor pajak semakin jelas karena sudah ada laporan kekayaan yang mendekati angka riil… di era jokowi ini kita melihat bagaimana pemerintah berani mengejar Google dan Facebook yang enggan membayar pajak dari hasil bisnisnya di indonesia…
 
seorang presiden pasti akan mengambil keputusan berdasarkan masukan-masukan dari staf ahli dan pembantu-pembantunya… dan saat ini kita sedang mengakui bahwa banyak di antara kita yang tidak menyukai para pembisik dan pembantu pak jokowi di kabinet. sekaligus membuktikan bahwa umat ini gagal menghadirkan penasehat yang dipercaya oleh pemerintah…
 
jikalaupun jokowi mesti dilengserkan, pertanyaan seriusnya adalah SIAPAKAH SOSOK YANG BISA MEMBAWA PERUBAHAN KONKRIT DAN BISA MEMBERIKAN GAGASAN-GAGASAN PEMBANGUNAN BARU YANG MELEBIHI IDE-IDE PAK JOKOWI DENGAN GERBONGNYA??? JANGAN-JANGAN KITA HANYA MENJADI ALAT DARI ELITE KONTRA JOKOWI, DAN KETIKA JOKOWI BISA DILENGSERKAN, YANG MEMEGANG TAMPUK PIMPINAN DI NEGARA INI TETAP SAJA BUKAN DARI KALANGAN TERBAIK UMAT ISLAM INDONESIA…
 
dan kejadian itu sudah kita rasakan pada 98… pak harto berhasil digulingkan, tetapi yang menjadi pemain inti mengatur negeri ini tetap saja pemain lama… jadi persoalannya bukan sekedar bisa menurunkan seorang presiden… tetapi seberapa sanggup umat ini memegang amanah kepemimpinan baik dari segi kematangan konsep, pengalaman birokratis dan ketinggian integritas…
 
saya secara pribadi lebih memilih, lebih baik umat islam yang anti jokowi melakukan persiapan2 serius dalam alih kepemimpinan di tahun 2019… MEREKA HARUS MEMANTASKAN DIRI UNTUK MENJADI PEMIMPIN DI INDONESIA…. dan bertarung dengan baik dan fair di pemilu 2019…. dari sekarang lakukanlah program2 yang bisa mengambil hati dan bermanfaat untuk rakyat indonesia… lakukan pengkaderan serius kepada 1-2 orang kader terbaik dari umat islam untuk maju bertarung di pilpres 2019.. siapkan amunisi dana untuk kampanye.. lakukan konsolidasi dengan partai-partai islam.. kalau perlu partai2 islam itu diakuisisi oleh ulama2 dari kalangan umat islam itu sendiri…
 
di zaman kolonial belanda saja, orang islam mampu melakukan perubahan signifikan untuk umat.. masak kemudian di pemerintah jokowi yang menteri2nya juga banyak orang2 islam yang baik tidak ada kemajuan yang bisa dilakukan di luar program-program pemerintah…