(Oleh: Anggun Gunawan – ICMI DI. Yogyakarta)
Sampai saat ini kok saya merasa tidak begitu setuju dengan aksi 212 yang akan dihelat 1 minggu lagi. Apalagi yang disasar kemudian bagaimana Pak Ahok bisa ditangkap dan dipenjarakan sementara sampai ada keputusan final dari pengadilan. Saya kemudian teringat dengan kata AA Gym, bahwa kita akan sangat RUGI apabila tidak menjadikan kejadian 411 dengan segala lika-likunya sebagai pelajaran berharga. Apalagi kemudian MUI membuat statemen yang cukup menohok bahwa Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) bukan termasuk dalam bagian struktural MUI.
Jika yang ditakutkan kemudian adalah kekuatan modal yang ada di belakang Pak Ahok, tentu genderang perang yang mesti dilakukan adalah langkah konkrit untuk membuat Bank Islam. Tetapi sampai detik ini saya malah tidak mendengar adanya pembicaraan serius dari tokoh-tokoh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) untuk mewujudkan lahirnya Bank yang benar-benar syariah dan berpihak kepada umat. Sampai sekarang para pengusaha muslim yang membutuhkan modal besar masih tergantung kepada bank-bank konvensional. Dan sesuatu yang tak dapat kita sangsikan adalah BCA masih menjadi bank swasta nasional yang masih menjadi favorit dari nasabah muslim. Pengalaman pribadi saya dalam transaksi online ataupun menyebarkan proposal bantuan, banyak yang meminta nomor rekening BCA.
Dengar-dengar di zaman Prof. Syafi’i Ma’arif, Muhammadiyah pernah mencoba merealisasikan kehadiran Bank Muhammadiyah. Sebuah ide yang brilian karena Muhammadiyah digadang-gadang punya sekian ribu sekolah dan perguruan tinggi, sekian ratus rumah sakit, dan sekian banyak amal usaha yang lain. Tetapi sayang seribu sayang, percobaan pertama gagal. Dan sekarang hanya menjadi wacana demi wacana di tataran Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah. Padahal kalau dibandingkan dengan asset dan sumber daya yang dimiliki, Muhammadiyah melebihi Sinar Mas atau MNC yang dengan sangat percaya diri – tanpa terlalu banyak berwacana – langsung membuat Bank sendiri. Paling tidak semua transaksi yang berhubungan dengan kerja-kerja bisnis mereka dan pembayaran gaji karyawan sudah dipegang sendiri.
Kita terlalu sibuk menyalahkan kawan-kawan etnis China. Tetapi lupa bahwa pepatah yang sangat masyhur mengatakan, “Carilah ilmu sampai ke negeri China…” Sudah dicatat oleh sejarah, bahwa sejak zaman dahulu China sudah tampil sebagai bangsa pedagang. Bacalah bagaimana “Silk Road” menjadi titik sentral dalam perdagangan dunia sampai abad pertengahan. Ketika saya berada di pusat kota Frankfurt, toko-toko souvenir Jerman dimiliki oleh etnis China dan yang dijualpun barang-barang “Made in China”. Kalau di Indonesia tak usah ditanya lagi. Dari spare part mobil sampai kresek plastik rata-rata yang dijual oleh saudara-saudara kita beretnis China dan tetap dengan logo “Made in China”.
Kenapa kita sebagai orang Islam tidak kemudian menekuni anjuran pepatah Arab di atas. Dengan sangat serius mempelajari cara orang China berbisnis dan etos apa yang mereka pegang sehingga bisa juga kita tiru dan terapkan dengan menjadikan payung syariat dan hukum-hukum kehalalan sebagai pedoman. Jika rasullulah mampu menjadi pedagang yang hebat, kenapa kemudian kita sebagai orang Islam tidak juga bertarung menjadi distributor dari sekian banyak barang-barang yang dibutuhkan oleh market Indonesia yang luar biasa besar.
Gelora dan agitasi 212 bagi saya menunjukkan kegagalan para ulama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) melakukan komunikasi dengan pemerintah/umara’/penguasa dan ulama-ulama mainstream dari Muhammadiyah dan NU. Sehingga umat kemudian terbelah dan kehilangan arah panutan. Bagi yang pro ulama-ulama GNPF, Muhammadiyah dan NU dianggap sebagai organisasi yang “penakut” dan terlalu lembek terhadap penguasa karena sudah banyak kepentingannya yang diakomodir oleh penguasa seperti jatah menteri. Bagi yang pro ulama-ulama NU dan Muhammadiyah. GNPF dianggap sebagai gerakan yang membuat persoalan bangsa ini semakin rumit dan memperkeruh suasana. Dan pecah-belah di antara umat begitu vulgar tampil belakangan ini.
Jikalau mereka adalah ulama-ulama yang hanif dan mau menurunkan ego serta duduk bersama untuk membicarakan persoalan umat secara komprehensif dan dipecahkan bersama, rasanya banyak yang bisa dilakukan untuk umat ini. Orang Indonesia secara keseluruhan sebenarnya sudah bosan dengan wacana demi wacana sementara kehidupan ekonomi mereka tidak kunjung membaik.
Jika tidak suka dengan seorang sosok, maka dalam alam demokrasi, pertarungan yang fair adalah dengan menghadirkan petarung yang melebihi kapasitas sosok yang kemudian “tidak disukai”. Tapi proses menghadirkan pemimpin-pemimpin istimewa yang mampu membawa perubahan serta teruji kapasitas dan integritas inilah yang kemudian tidak pernah menjadi fokus utama kita.
Para pemuda-pemuda potensial kemudian dibiarkan berjuang sendiri tanpa sokongan dan ruang-ruang ekspresi yang memadai. Karena keterdesakan hidup mereka terpaksa menerima beasiswa dari pihak luar ataupun berkarier politik di luar partai-partai Islam.
Pernahkah para ulama yang ingin perubahan mendasar di negeri ini berpikir menyediakan dana 1 triliyun rupiah untuk menyekolah anak-anak terbaik dari umat ini, menempuh pendidikan di universitas-universitas top rank dunia. Agar mereke bisa mempelajari secara serius bidang politik, sejarah, ekonomi, militer, pendidikan, teknologi, informasi, kedokteran dan bidang-bidang lainnya yang dibutuhkan oleh umat agar bisa berjaya???
Saat ini banyak para aktivis HMI, PMII, IMM dan KAMMI yang binggung ketika menghadapi realitas pasca wisuda. Bahwa kemudian setelah menjadi sarjana, mereka harus menghidupi diri sendiri dan lepas dari kiriman uang orang tua. MEREKA LUAR BIASA DARI SISI WACANA. TETAPI GALAU MAU KERJA DIMANA.
Dalam masa-masa kegalauan inilah pinangan-pinangan dari luar datang. Mereka pun akhirnya sibuk dengan status baru dan mencoba bersikap realistis dengan hidup serta banyak yang kemudian lupa dengan slogan-slogan perjuangan ketika masih menjadi mahasiswa. Kalaupun ada yang tetap idealis, langkah mereka terganjal oleh banyak hal. Terutama masalah sampai sejauh mana suara yang mereka sampaikan mendapatkan perhatian dalam kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.
Menciptakan keunggulan-keunggulan inilah yang sebenarnya menjadi kunci keberhasilan umat ini untuk melakukan alih kekuasaan dalam rangka mewujudkan perubahan yang lebih baik untuk Indonesia. Dan proses ini harus melalui langkah-langkah konkrit. Dan yang sangat urgen menurut saya sekarang adalah DIRIKAN BANK ISLAM YANG BENAR-BENAR SYAR’I, BERIKAN MODAL YANG MEMADAI UNTUK PARA PENGUSAHA MUSLIM, MUNCULKAN KANDIDAT-KANDIDAT PEMIMPIN YANG PUNYA KAPASITAS DAN INTEGRITAS ISTIMEWA, DIRIKAN PUSAT-PUSAT KEUNGGULAN UNTUK MENCIPTAKAN KADER UMAT YANG MENGUASAI BERBAGAI BIDANG DAN KEAHLIAN, DAN SIAPKAN BEASISWA 1 TRILIYUN RUPIAH UNTUK MEYEKOLAHKAN PEMUDA-PEMUDI TERBAIK UMAT AGAR BISA MENEMPUH PENDIDIKAN DI UNIVERSITAS-UNIVERSITAS TERBAIK DI DUNIA.
Iklan