Oleh: Anggun Gunawan (Seorang Pemuda Biasa Yang Sedang Menjemput Rizki Allah Lewat Usaha Penerbitan Buku)
 
beberapa hari yang lalu mas rangga, menantunya pak amien rais, menuturkan kepada saya dan teman2 peserta darul arqam madya ikatan mahasiswa muhammadiyah bulaksumur karang malang (UGM-UNY) bahwa suatu ketika pak amien rais pernah ditawari untuk membuat “Amien Rais Institute”… sang tamu menyatakan kesanggupannya untuk membiayai dari A sampai Z kehadiran lembaga kajian yang akan digawangi dan membawa nama tokoh reformasi itu… seperti biasa, tawaran profesional disertai dengan proposal yang berisi poin2 kesepakatan di antara pak amien dan sang pemberi donasi…
 
pergilah sang tamu dan pak amien kemudian mulai membuka lembaran demi lembaran tawaran menggiurkan yang bisa semakin menguatkan kibarnya sebagai tokoh muslim indonesia… pak amien tersentak dengan beberapa poin yang disebutkan dalam proposal itu… setelah merenung beberapa hari, beliaupun telah menyiapkan sebuah jawaban ketika sang tamu datang lagi untuk mengonfirmasi kesediaan beliau…
 
di suatu hari, kemudian datanglah sang tamu kembali… dengan senyum dan harapan besar pak amien mengamini tawaran yang telah mereka sampaikan… setelah membuka pertemuan dengan saling menanyakan kabar kemudian masuklah kepada inti niat dan maksud yang ingin didengarkan jawabannya… pak amien kemudian berujar, “terima kasih mas atas tawarannya… tapi rasanya saya tak memerlukan amien rais institute.. cukuplah saya punya sekolah kecil di jogja untuk kemudian turut berkontribusi sedikit buat anak bangsa ini….”
 
pak amien rais telah membaca bahwa ada terms and conditions yang membuatnya tidak bisa lagi dengan lantang menyuarakan pembelaan terhadap islam… ada poin-poin yang akan membuatnya tak bisa lagi mengenggam idealisme yang selama ini beliau suarakan kemana-mana… daripada harus mencoreng muka sendiri, pak amien memilih untuk tetap hidup biasa-biasa saja di jogja daripada menyebarkan pemikiran2 yang kemudian membuat orang melihat “INI BUKANLAH AMIEN RAIS YANG DULU”…
 
teman2.. tawaran-tawaran menggiurkan seperti itu banyak mendatangi tokoh-tokoh muslim kita… dan saya yakin, pengalaman serupa pernah dialami oleh prof. syafi’i ma’arif, cak nur, gus dur dan nama2 lain2..
 
dan kemudian kita pun melihat mana di antara tokoh2 tersebut yang menyambut baik dan mana yang menolak… dan kehadiran ma’arif institute adalah bukti sebuah penerimaan terbuka dari dana-dana sponsor bermuatan agenda itu…
 
di luar negeri sana memang banyak uang-uang bertebaran yang digunakan khusus untuk program-program liberalisasi, perjuangan ham, kesetaraan gender, advokasi untuk minoritas, termasuk juga bantuan untuk LGBT… dana tidak ketulungan dan berseri banyak serta bisa diakses dan secara mudah diberikan kepada siapapun lembaga yang dianggap mampu untuk menyuarakan agenda-agenda pesanan tersebut di indonesia…
 
menariknya, yang disasar adalah tokoh2 muslim berpengaruh dan lembaga-lembaga pendidikan berpengaruh… saya tahu persis ada sebuah program pascasarjana di universitas gadjah mada yang bisa hidup makmur, membuat sekian banyak riset dan bisa memberikan beasiswa kepada hampir seluruh mahasiswa yang diterimanya setiap tahun dari kepintaran dosen-dosen mereka untuk mengakses dana-dana besar itu lewat proposal2 riset tentang persoalan agama kaum minoritas, isu-isu pelik keagamaan di indonesia serta kasus-kasus LGBT….
 
di ranah yang berbeda, saya pun kemudian menemukan banyak aktivis-aktivis organisasi islam yang kemudian berputar haluan untuk membela “yang lain”… terutama sekali mereka-mereka yang berada di jakarta…
 
tadi pagi saya nonton acara menarik di metro tv… bagaimana kaum muda millineal di kota2 metropolitan harus bisa mengikuti gaya hidup hedonistik… nongkrong di mall.. beli barang-barang branded… mejeng di cafe yang beli aqua aja bisa rp. 50 ribu satu botol kecil… sementara kebanyakan mereka masih minta duit sama orang tua… sebagian memang sudah bekerja… tetapi masih dengan gaji pas-pasan yang hanya cukup untuk makan dan bayar kos-kosan…
 
dilema yang sama juga dialami oleh para aktivis mahasiswa islam yang sudah berstatus sebagai pengurus Dewan Pimpinan Pusat… sebagian di antara mereka masih berstatus sebagai mahasiswa S2… sementara gaya hidup di jakarta memaksa mereka untuk tampil stylish karena harus berhubungan dengan orang-orang beken… kalau janjian ketemuan pun juga di cafe, mall dan restauran beken… sementara kalaupun bekerja, mereka hanya bisa kerja part-time… orang tua di kampung juga hanya bisa kirim uang buat kuliah, makan dan bayar kos-kos-an… ketika ada tawaran untuk bergabung di partai atau organisasi bikinin pengusaha tertentu, mereka pun silau… memutuskan untuk bergabung, meskipun agenda-agenda yang dibawa bertolak belakang dengan nilai-nilai ideologis yang mereka tempa sekian tahun dari level komisariat, cabang, daerah/wilayah sampai ke DPP… tetapi semuanya harus berkontestasi dengan keterdesakan survival hidup dan keinginan untuk hidup lebih layak secara ekonomi…
 
inilah persoalan besar yang dialami oleh para tokoh2 muslim yang kebanyakan hanya bekerja sebagai dosen dan kawan2 aktivis organisasi islam yang kebanyakan mereka belum punya pekerjaan yang jelas (kalaupun ada, gaji2nya sangat pas-pasan)…
 
saya pun berkawan dan punya kenalan dengan bapak2 dan teman2 yang memilih jalur berbeda… mereka buat usaha sendiri.. bikin bisnis sendiri… ada juga yang punya kemampuan akademik bagus dan kemudian bisa bekerja di berbagai BUMN dengan gaji okey punya…
 
ada seorang bapak yang dikenal sebagai orang kaya di kampung wilayah kos saya… dari bisnis yang sudah beliau geluti sekitar 15 tahun terakhir, di rumahnya sekarang ada 7 mobil yang parkir di garasi… yang paling mahal itu jaguar di atas 1 M-an gitu lah…. yang paling murah adalah honda brio… kalau biaya perawatan dan bensin dirata-rata habis rp, 1 juta/mobil/bulan, maka budget yang harus dikeluarkannya untuk mobil saja sudah rp. 7.000.000/ bulan…. bagi teman2 penulis, nilai itu sama dengan honor yang didapatkan kalau menulis 6-7 artikel di the jakarta post atau nulis 14 artikel di republika, atau punya 8-10 artikel yang nonggol di koran kompas…
 
nah.. bapak yang satu ini malah sering sholat berjamaah… kalau ngomong yang penting2 saja… singung2 masalah agama ngak pernah.. apalagi jualan agama untuk mendapatkan uang… JAUH BANGET…
 
ada juga saya kenal teman yang bergelut di bidang penerbitan… beliau bisa membelikan kaos ataupun kemeja seharga 3-7 juta rupiah untuk hadiah ulang tahun salah seorang anggota keluarganya.. penerbitannya besar dan g usah ngomongin soal best seller sama beliau.. karena meskipun tidak disebut2 koran dan majalah tentang buku2 yang diterbitkannya, penjualan buku2 yang beliau sebar sudah melebihi nominal minimal buku2 kategori best seller di indonesia… :) kepada keluarganya beliau tetap menyebarkan nilai2 keislaman… mendidik anak2nya dengan ghirah keislaman…. anak yatim dan orang miskin menjadi prioritas sadaqah dan zakatnya…
 
menelisik lebih agak jadul… teman2 tentu kenal dengan buya hamka… buya hamka tak gentar ketika diancam oleh pak harto akan diberhentikan sebagai ketua MUI dan pegawai Kementerian Agama ketika menyinggung prinsip teologis yang beliau pegang… buya hamka tak takut kehilangan jabatan dan gaji sebagai PNS…. karena tak ada gaji itupun beliau masih bisa hidup dengan baik lewat menulis artikel, novel dan buku…
 
buat teman2 aktivis dan teman2 yang punya keilmuan di bidang agama… godaan terbesar kita memang bersabar dalam kemiskinan… saat kita melihat kawan2 di sebelah mengenggam iphone baru atau samsung S7, janganlah kemudian kita melepaskan genggaman keimanan dari hati kita… saat tetangga sebelah kos bepergian nyaman dengan mobil tanpa takut kehujanan dan kepanasan, jangan pula kita memilih pergi meninggalkan agama untuk bisa juga beli mobil seperti mereka… saat yang lain bisa beli rumah bertingkat dengan perabotan mewah, jangan pula teman2 menjual agama untuk bisa pesan kampling di kompleks perumahan mewah…
 
karena sebenarnya Allah memberikan jalan-jalan terhormat tanpa harus menjual agama untuk mendapatkan kemapanan finansial dan pundi-pundi dunia.. buat2 teman2 aktivis yang punya basic bahasa inggris/bahasa asing, coba tekuni bidang penerjemahan… setahu saya, ada sekian banyak dokumen-dokumen negara yang di DPR dan berbagai kementerian yang harus ditranslate ke bahasa inggris… dan bayarannya luar biasa… di UGM, translate 1 abstrak bahasa inggris untuk skripsi, tesis dan disertasi dikenai biaya rp.50ribu sampai rp. 100.000…. kemarin pas heboh2 frankfurt book fair 2014, komite buku nasional menyediakan dana rp. 300.000/halaman buku buat penerjemah yang bisa merampungkan penerjemahan buku2 bahasa indonesia ke versi inggris dan jerman…
 
atau teman2 juga bisa bikin counter HP… jualan pulsa, service dan assesoris.. biaya untuk memperbaiki hp yang hang saja, bisa rp. 70.000… meskipun jualan pulsa hanya untung beberapa ratus rupiah, tetapi kalau teman2 bisa mendapatkan pembelian sekian ratus per hari, maka dalam beberapa bulan keuntungan teman2 sudah bisa beli motor racing seperti si boy anak jalanan… bisa bergaya ala valentino rossi di jalanan aspal biasa indonesia…:) bahkan, tetangga saya bisa dapat bonus mobil honda jazz karena ia bisa melewati target premium penjualan pulsa selama beberapa tahun…
 
buat yang bisa bahasa arab dan paham ilmu2 fiqih agama… teman2 bisa ikut atau buka biro perjalanan haji dan umrah… ustadz2 saya yang selama ini berhujan berpanas pakai motor buntut dari satu masjid ke masjid untuk ngasih pengajian, setelah buka usaha biro travel haji dan umrah, bisa pula beli mobil dan rumah yang bagus…
 
banyak jalan untuk bisa hidup kaya tanpa harus menjual agama… dan kenapa kita tidak memilih jalan yang “netral” itu… dan ketika Allah mudahkan rezeki kita, banyak hal yang bisa lakukan untuk menjayakan dan meninggikan islam… banyak panti asuhan, orang2 miskin, kawan2 yang terjerat hutang yang bisa kita bantu… ada sekian banyak pesantren, rumah tahfizd dan masjid yang bisa kita bantu…