Oleh: Anggun Gunawan (Pernah Jadi Anggota HMI MPO FEB UGM 2002-2003 – Ketua Korps Instruktur IMM Cabang BSKM yang menaungi UGM dan UNY 2007-2008, Pernah jadi Anggota LDK Jama’ah Shalahuddin UGM 2002-2003, pernah dan sampai sekarang masih senang ngaji bersama ustadz-ustadz Salafi)
 
Ekses dari aksi 4 November 2016 kemarin adalah penangkapan 5 aktivis Himpunan Mahasiswa Islam dan beberapa kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah termasuk Kabid Hikmah DPP IMM yang dituding oleh aparat kepolisian melakukan aksi-aksi provokasi yang mencoba untuk membenturkan peserta aksi damai dengan aparat. Belakangan juga diberitakan bahwa Fahri Hamzah (Wakil Ketua DPR RI – Mantan Ketua KAMMI) juga akan dipanggil polisi untuk dimintai keterangan soal statemen-statemen dalam orasi yang ia sampaikan dan keterlibatannya dalam aksi 4 november 2016.
 
Cara-cara represif penangkapan dan membungkam suara rakyat dengan melakukan “pressure psikologis” lewat pemanggilan tokoh-tokoh aktivis Islam yang terlibat dalam aksi damai 4 november merupakan ancaman demokrasi di Indonesia. Apalagi ada berita yang beredar aksi penangkapan ini akan diiringi dengan pencidukkan secara paksa kepada beberapa nama yang dicurigai polisi sebagai “provokator”. Saya sepakat kita harus melawan setiap upaya-upaya “anarkis” yang dilakukan polisi dalam menyelesaikan “pelanggaran” hukum atas aksi-aksi menyuarakan aspirasi umat dan rakyat, yang dalam arti lebih luas bisa dikatakan sebagai aksi PEMBUNGKAMAN penguasa kepada kekuatan gerakan mahasiswa lewat perang psikologis. Sehingga kemudian TAGLINE template background foto yang dikeluarkan oleh PB HMI adalah KAMI TIDAK TAKUT.
 
Menelisik kepada kekhawatiran pada kemungkinan-kemungkinan terjebaknya beberapa elemen umat Islam kepada perasaan ashobiyah adalah pada kecenderungan kita untuk memfokuskan diri kepada pembelaan eksklusif kepada teman dan organisasi sendiri.
 
Setelah santer diberitakan penangkapan terhadap beberapa aktivis mahasiswa HMI, PB HMI langsung membuka pendaftaran “Pengacara Bela Aktivis HMI” yang terakhir kemudian bisa mencapai angka 200 orang pengacara yang bersedia menjadi pembela dan penasehat hukum untuk 5 kawan-kawan HMI yang ditangkap polisi. Pembelaan terdekat dan kepada teman satu Organisasi (di sini saya tidak memakai kata SEIDEOLOGI karena sejauh pengamatan saya saat aktif sebagai kader HMI di UGM dan pengalamatan selepas tidak lagi aktif sebagai kader, saya menyimpulkan bahwa kader HMI itu tidak satu ideologi. Karena ada juga kader-kader HMI terutama di Indonesia Timur yang menganut aliran syiah dan ada juga oknum kader HMI yang bahkan diperkenankan untuk ikut LK -2 dan belum dipecat dari keanggotaan HMI sampai sekarang merupakan pelaku pelecehan alqur’an yang sama atau lebih parah daripada yang dilakukan ahok) merupakan sesuatu yang wajar dan sangat rasional.
 
Tetapi dalam pikiran saya, sangatlah elok apabila kemudian apabila PB HMI melakukan komunikasi lintas gerakan mahasiswa dan organisasi Islam yang kader dan anggotanya juga menjadi “korban” penangkapan paksa dan pemanggilan tak semena-mena oleh kepolisian terkait aksi 4 november yang lalu. saya sangat berharap Tim Pengacara yang dibentuk tidak berhenti pada TIM PENGACARA BELA KADER HMI, tetapi kita kuatkan lagi kepada TIM PENGACARA MUSLIM UNTUK KORBAN AKSI DAMAI 411. Di sinilah kemudian kita semakin menguatkan ukhuwah islamiyah di antara sesama muslim antar lintas gerakan.
 
Keterjebakan kita kepada ashobiyah adalah ketika porsi energi, status facebook dan tulisan-tulisan yang kita buat kemudian lebih didominasi oleh pembelaan kita kepada penistaan terhadap organisasi yang kita bergabung di dalamnya dibandingkan dengan porsi yang kita berikan kepada inti persoalan yang disuarakan dalam aksi 4 november yang lalu itu, yakni DUGAAN PENISTAAN ALQUR’AN YANG DILAKUKAN OLEH AHOK. indikator pertama kita bisa hitung dan rasakan sendiri lewat berapa rasio jumlah status kita di sosial media yang mengulas secara argumentatif dan rasional untuk membuktikan bahwa ahok “telah” menghina alqur’an. indikator kedua adalah seberapa heroikkah aksi kita untuk “membela alqur’an” dibandingkan dengan “heroisme” yang kita rasakan dan tunjukkan untuk “membela teman seorganisasi…
 
lanjutan dari indikator kecintaan kita ‘MEMBELA ALQUR’AN” harus diiringi dengan melakukan perlawanan yang keras kepada siapapun yang melakukan pelecehan dan penistaan terhadap alqur’an. artinya, kasus-kasus pelecehan alqur’an yang dilakukan oleh oknum-oknum yang berstatus sebagai kader HMI dan alumni HMI harus juga mendapatkan perhatian serius dan harus dilakukan proses investigasi serta harus diberikan sanksi hukum. Nah, dalam konteks ini, perjuangan untuk melawan ahok karena dia “telah” melecehkan alqur’an akan terjebak kepada ashobiyah apabila aksi-aksi serupa seperti ditudingkan kepada ahok yang dilakukan sendiri oleh kader-kader HMI tidak kemudian menjadi bahasan serius dan dan tidak ditindak tegas oleh PB HMI.
 
hal ketiga yang harus kita lakukan untuk meminimalisir perasaan ashobiyah menuju ukhuwah islamiyah adalah klarifikasi terkait dengan pemberitaaan soal peserta aksi beratribut HMI berhadapan dengan kawan2 FPI yang berusaha melindungi aparat dari upaya “serangan” atau tindakan provokatif. bagaimana caranya untuk meredam isu itu??? kawan-kawan PB HMI bisa bersilaturahmi ke markas FPI untuk duduk bersama dan melakukan tabayyun terhadap “gesekan kecil” tersebut, kemudian diakhiri dengan pers conference bahwa HMI dan FPI tetap satu hati dan satu barisan dalam aksi 4 november 2016 termasuk untuk aksi-aksi bela islam selanjutnya. Sehingga upaya-upaya adu domba yang dilakukan oleh pihak-pihak penangguk air keruh bisa langsung dikonfrontir dan publik menyaksikan bahwa tidak ada masalah apa2 dengan peserta aksi beratribut HMI dengan FPI di TKP aksi 4 november kemarin.
 
secara umum, saya sangat mengapresiasi keterlibatan dan keterpanggilan kawan2 gerakan mahasiswa islam untuk turun dan ambil bagian dalam aksi 4 november 2016. dan sebagai anak bangsa yang pernah bergabung dengan HMI dan IMM saya percaya bahwa masih terlibatnya mahasiswa dan para alumni mahasiswa dalam berbagai gerakan aksi membela Islam, mengkritisi penguasa dan mengawal kepentingan rakyat adalah obor penyemangat sekaligus menjadi tameng dari cibiran-cibiran yang mengatakan mahasiswa sekarang banyak apatis dan tudingan-tudingan aktivisme hanya pada saat jadi mahasiswa tapi saat berkuasa mereka terlena dengan jabatan/kursi yang sedang didudukinya.
 
karena saat ini kita hidup di dunia sosial media, dimana banyak yang mengaskses informasi dari “dunia ini”, maka alangkah baiknya kita juga menunjukkan aktivisme lewat tulisan yang naratif dan argumentatif yang agak panjang (tidak hanya 1-2 kalimat saja atau cuma 1-2 paragraf saja) di status facebook, whatsapp ataupun blog kita. sehingga sisi intelektualisme organis terasa lebih kuat. dan di sinilah kemudian yang membedakan seorang “aktivis” dengan “awam”…
 
karena selain melakukan aksi, aktivis islam juga punya tanggung jawab untuk mengedukasi masyarakat “awam” dengan argumentasi-argumentasi lewat narasi yang logis dan rasional. di sisi lain juga, dalam konteks ahok, teman-teman aktivis islam juga harus mampu berdiskusi dan menyampaikan bantahan-bantahan bernas dan ilmiah kepada kelompok seberang yang membela ahok… karena saya juga bersinggungan langsung tidak hanya secara ideologis tetapi juga secara personal dengan kawan-kawan pembela ahok yang punya latar belakang akademis yang sangat bagus (beberapa mereka sangat aktif menulis di koran-koran nasional – bahkan jurnal internasional, di antara berlatar belakang pesantren dan punya kemampuan bahasa inggris serta bahasa arab yang mumpuni, sebagian pembela ahok punya degree master dan doktor dari universitas terbaik di negeri ini bahkan ada yang punya degree dari universitas-universitas ternama di luar negeri, sebagian pembela ahok adalah juga para aktivis mahasiswa islam bahkan bahkan pernah menduduki posisi penting di level nasional), maka teman-teman yang memposisikan diri sebagai “pembela alqur’an” dalam konteks kasus ahok harus juga bisa berdialog dan berargumentasi secara bernas dan mumpuni dengan kelompok seberang itu..