al maidah 51 itu memang adalah salah satu ayat yang sensitif dalam alqur’an…
 
ini saya cuplikan terjemahannya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Maidah: 51)”…..
 
ayat ini ditafsirkan berbeda oleh para ulama… karena saya bukan ahli tafsir qur’an, saya membatasi diri untuk mengulasnya…
 
ada sieh tafsiran yang cukup moderat bahwa ayat ini direalisasikan dalam konteks masyarakat yang monolitik.. artinya, dalam masyarakat islam seharusnya yang dipilih jadi pemimpin adalah orang islam sendiri…
 
namun, ada juga yang menafsirkan bahwa ayat tersebut berlaku umum dalam masyarakat majemuk.. dimana orang islam dilarang untuk menjadikan non muslim sebagai pemimpinnya dalam kehidupan mereka…
 
tentu saja ayat ini sangat sensitif untuk sebuah negara yang bhineka seperti indonesia yang berdasarkan pancasila dan uud 45… sehingga selama puluhan tahun para ulama islam di indonesia tidak secara vulgar menyampaikannya dan cenderung untuk mendiamkannya agar tidak terjadi konflik sosial di tengah2 masyarakat….
 
tetapi di era keterbukaan ini, semuanya dibahas secara terbuka dan dalam beberapa sisi ditampilkan secara vulgar… di sisi lain ada sebuah gerakan kultural dan sosial dimana masyarakat muslim indonesia semakin banyak yang belajar agama… hal ini bisa dilihat dari semakin banyaknya pengajian2… termasuk juga pengajian ibuk2…
 
dan pak ahok sebagai orang yang melek informasi juga tahu tentang keberadaan ayat yang 1 ini.. karena beliau mungkin sering mendengar ayat ini dipakai untuk menghadang karier politiknya….
 
sebenarnya di sinilah letak kegalauan atau dalam bahasa konfliknya terjadi pro dan kontra… bagi sebagian muslim, mereka ingin menjadikan ayat ini bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari2 termasuk dalam konteks pilpres, pilkada dan pemlihan pemimpin di level apapun… bagi kelompok muslim yang lain, ketika hidup di negara bernama indonesia, maka yang jadi acuan utama adalah hukum2 konstitusional… dan selama yang mencalonkan diri itu adalah WNI, maka ia berhak untuk dipilih dan maju berkontestasi…
 
HAL INI SEBENARNYA ADALAH HAL YANG KOMPLEKS…
 
SAYA TIDAK YAKIN BISA MENJAWABNYA… KARENA DARI SEGI LOGIKA TERBALIK, KETIKA AYAT ITU DIUCAPKAN OLEH SEORANG MUSLIM, APAKAH KEMUDIAN IA TIDAK MELANGGAR UNDANG2 YANG BERLAKU DI INDONESIA SENDIRI… KARENA AYAT INI BISA DISTIGMATISASI SEBAGAI TEKS KEAGAMAAN YANG DISKRIMINATIF DALAM KONTEKS KEHIDUPAN BERNEGARA DI INDONESIA…
 
oleh karena itu memang sulit untuk mengkompromikan antara dasar-dasar konstitusional NKRI dan dasar-dasar teologis islam dalam konteks al maidah 51 ini…
 
sehingga menurut saya memang, biarlah ayat itu menjadi konsumsi internal umat islam dengan berbagai penafsiran yang mereka yakini… karena secara tekstual, orang islam tidak mungkin menolak satu ayatpun dalam alqur’an…. sehingga untuk konteks politik, agak riskan apabila ayat ini dijadikan alat kampanye oleh siapapun.. baik yang bernada kanan ataupun yang bernada kiri…