Alam bawah sadar saya lumayan terusik ketika ada seorang pengurus DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang memproklamasikan diri sebagai “Gadis Ahok”. Saya mencoba untuk menelisik dari sisi ideologis, pragmatis dan etis terkait persoalan ini.
 
Sebagai kader IMM, meskipun cuma pensiun sebagai Ketua Instruktur Cabang IMM BSKM yang menaungi komisariat Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta, saya punya tanggung jawab moral buat siapapun yang ingin masuk Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah terkait dengan ideologi Muhammadiyah dalam memilih pemimpin. Persoalannya bukan pada apakah haram memilih pemimpin kafir atau tidak. Tetapi sebagai organisasi yang punya ghirah melahirkan pemimpin dan berbakti kepada umat, setiap kader Muhammadiyah punya semangat untuk melahirkan pemimpin dari rahimnya sendiri. Semangat itu pulalah yang kemudian membuat Muhammadiyah kemudian mendirikan PKU-PKU dan Sekolah-Sekolah yang berbeda dari rumah sakit dan sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial. Mahasiswa baru yang ikut DAD sudah dibekali dengan sejarah berdirinya Muhammadiyah dan menjadi berbeda seperti ini. Artinya, semangat yang seharusnya dimiliki oleh seorang kader Muhammadiyah adalah melahirkan, bukan mendompleng kepopuleran pada sosok atau lembaga yang sudah berkuasa. Apalagi sosok yang kemudian didukung penuh dengan kontroversi.
 
Bergabungnya kader-kader hebat Muhammadiyah ke arus non mainstream sebenarnya dipicu oleh masalah eksistensi pribadi. Beberapa dari mereka memang tidak mendapatkan ruang-ruang yang “layak” di partai yang berbasis massa Muhammadiyah dan amal-amal usaha yang dimiliki oleh Muhammadiyah. Sementara mereka butuh ruang-ruang berekspresi. Ketika ada tawaran yang mengiurkan, yang tidak saja membuat mereka berkibar dari sisi kepopuleran, tetapi juga mendapatkan fasilitas untuk hidup berkecukupan, akhirnya merekapun tergoda untuk bergabung dengan kelompok ataupun partai yang dari sisi ideologis berbeda jauh dengan ideologi Muhammadiyah.
 
Sebutlah seorang mantan petinggi IMM yang dulu mendirikan Partai Matahari Bangsa. Namun karena PMB hanya jadi partai gurem dan kemudian membubarkan diri, terpaksalah ia kemudian mencari labuhan yang lain. Nasdem menjadi labuhan keduanya. Tapi karena HT pecah kongsi dengan SP, iapun kemudian memilih gerbong HT dan sekarang berkiprah di Perindo dengan fasilitas mewah dan jabatan penting di partai baru yang setiap hari menyapa kita di televisi ini. Dengar-dengar fasilitas yang didapatkan oleh mantan petinggi DPP IMM ini adalah sebuah apartemen mewah, kantor eksklusif di menara menjulang terkenal di ibukota, mobil plus sopir pribadi dan uang saku rp. 50 juta/bulan.
 
Nah kembali kasus petinggi DPP IMM yang sekarang jadi “gadis ahok”, saya melihat ada faktor ketersingkiran dan faktor pragmatisme ini.
 
Kalau kawan-kawan berkunjung ke laman/website “Teman Ahok”, akan ditemui laporan keuangan yang berisi berapa pemasukan yang diterima oleh “Teman Ahok” setiap bulannya dari penjualan merchandise, sumbangan donatur (terutama dari cukong-cukong cina yang simpati dan berkepentingan dengan tetap berkuasanya Ahok) dan hasil dari ads di youtube. Ratusan juta tiap bulannya teman-teman. Dan dari sana, “Teman Ahok” bisa hidup dan kalaupun mengambil sebagian untuk “gaji”, rasanya sudah cukup untuk hidup layak di Jakarta. Jadi sebenarnya gerakan-gerakan yang katanya bersifat sukarela dan tanpa pamrih, tak luput dari sisi pundi-pundi money dan sebenarnya bisa menjadi mesin uang dengan sangat cepat dan banyak.
 
Analisis terakhir yang ingin saya sampaikan di sini adalah soal penamaan “Gadis Ahok”. dari segi etika, saya merasa ada nuansa perendahan derajat kaum wanita di sini. “Gadis Ahok” adalah term yang menimbulkan ambiguitas. Gadis dalam artian apa??? Apalagi foto-foto yang dipajang oleh “Gadis Ahok” seperti foto-foto pameran mobil yang berisikan gadis-gadis cantik. Apakah modal yang hendak ditekankan adalah memanfaatkan pesona “gadis” untuk “merayu” pria-pria untuk masuk dalam jerat untuk “memilih ahok”? Apakah yang ditonjolkan “kegadisannya” atau lebih kepada aspek intelektual yang ditandai dengan kepada kampanye-kampanye yang memperlihatkan intelektualitas dan rasionalitas kenapa masyarakat lebih baik memilih Ahok???
 
Terlepas dari itu semua, pilihan yang diambil oleh siapapun termasuk sang petinggi DPP IMM punya segala konsekuensi. Dan saya selalu percaya bahwa pilihan yang didasarkan nurani dan hati sanubari yang disinari cahaya ilahiyah akan menuntun kepada jalan kebaikan. Dan setiap pilihan yang diambil karena faktor mencari popularitas dan menggadaikan ideologi untuk mencari kemapanan finansial hanyalah kemenangan semu yang menggelisahkan dan meresahkan. Yang kemudian membutuhkan justifikasi-justifikasi dari sosok-sosok yang senada dan seirama dengan pilihan pragmatisnya. Dan kalau dicari, di setiap zaman pasti ada setiap pembenaran dan sangkutan justifikasi dari setiap pilihan. Tetapi yang perlu dipikirkan adalah apakah kita punya argumentasi yang kuat ketika berdiri di hadapan Tuhan untuk mempertanggung-jawabkan pilihan yang kita buat hari ini. DAN ITULAH YANG BERAT…
 
dan apakah ratusan ribu orang yang berdemo kemarin adalah para pendemo bayaran??? siapa yang berani bayar mereka dan sanggup siapin duit sekian ratus miliar??? mereka adalah orang-orang yang tulus dan hanya mengharapkan bayaran yang lebih dari sekedar duit miliaran di dunia… mereka adalah orang-orang yang mengharapkan bayaran dari Allah… tak lebih dan tak kurang… tak ada yang bisa menggerakan hati sekian juta orang untuk bergerak dari pagi hingga malam kecuali mereka digerakkan oleh nuraninya…. jangan anda samakan dengan pengumpulan 1 juta KTP untuk Ahok (yang akhirnya g dipakai sama sekali) yang sangat jelas punya mahar….
 
dan cobalah serahkan tafsiran agama kepada ulama…. dan tokoh muhammadiyah yang anda jadikan sebagai rujukan untuk menjustifikasi pilihan anda, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau dan jasa beliau kepada muhammadiyah dan bangsa indonesia, bukanlah seorang scholars agama… beliau adalah professor bidang sejarah, bukan professor tafsir alqur’an… dan anda lihatlah, ustadz-ustadz kami yang memimpin demo kemarin… mereka adalah ulama2 rujukan umat.. mereka menempuh pendidikan agama secara formal di universitas-universitas islam yang diakui dan punya alumni di seluruh penjuru dunia…. dan tidak mungkin sekian banyak umat mau turun ke jalan kalau mereka itu adalah ustadz-ustadz yang sesat lagi menyesatkan…
 
tapi beginilah repotnya kalau menafsirkan agama… semuanya seolah-olah punya otoritas…. beda dengan kalau kita datang ke rumah sakit… ndak ada ceritanya kalau ibu hamil yang mau memeriksakan kandungannya datang ke polimata…. pastilah si ibuk itu akan datang maunya diperiksa oleh dokter kandungan…. mudah2an fikrah keagamaan kita tetap lurus dengan bimbingan para ulama-ulama yang juga lurus… amiin…