Air mata ini mengalir tumpah tak tertahankan saat sujud di rakaat pertama Dzuhur siang ini. Entah mengapa Ya Allah… Terasa begitu berat melepas dia . Belum terobati rasanya rindu yang kupendam selama ini, karena harus menjalin hubungan nan dipisahkan daratan dan lautan.

Dia yang datang di saat aku putus asa akan cinta. Dia bawa semangat baru dalam hidupku. Dia membuatku bangkit dan kembali memperjuangkan mimpi-mimpi yang hampir kukubur dalam-dalam.

Dia adalah gadis yang pertama dan terakhir yang ku kenalkan kepada Bapak. Saat Bapak terbaring lemah di rumah sakit, dia datang menjenguk. Ketika di bulan April lalu, Bapak dipanggil Allah, ia juga hadir melepas Bapak ntuk “beristirahat”. Dia datang sendiri dari kota Padang. Tanpa pernah tahu sebelumnya rumahku dimana. Ia juga bermalam di rumahku. Menemani Ibu dan turut melantunkan Surat Yasin dengan suaranya yang merdu.

Jum’at lalu ia datang ke Jogja. Karena terpilih sebagai salah satu pemakalah di History Week UGM 2016. Ini adalah pertemuan kedua ku dengannya di Jogja. Setelah pertemuan tak terduga pertama kali di Prawirotaman di bulan Agustus 2015 yang lalu.

Sejak pertama kali bersua dengannya, hatiku bergemuruh tak menentu. Bulir-bulir cinta perlahan hadir memenuhi ruang-ruang qalbu nan selama ini hampa dan sendu.

Kuberanikan diri ntuk mengajukan diri untuk berkenalan dengannya. Ia pun menyambut dengan tangan terbuka. Saat kusampaikan aku ingin bertemu dengan orang tuanya, Ibunya datang ke Padang di kosnya. Dan dengan sepeda motor Mio punya Mama aku berangkat sendirian ke Kota Padang. Di bulan Januari 2016, selepas Bapak diperbolehkan pulang setelah dirawat di rumah sakit hampir selama 3 Minggu karena kecapekan mengurus PILKADA dari pagi hingga larut malam.

Itulah pertemuan keduaku dengannya. Sehari sebelum kembali ke Jogja, aku bisa kembali bertemu dengannya di Masjid Kampus Universitas Negeri Padang. Sore selepas sholat Ashar. Saat gerimis rintik-rintik menyirami kota Padang. Kusampaikan  padanya, bahwa aku telah yakin sepenuh hati memilih dia untuk menjadi belahan jiwaku. Saat itu ia hanya tertunduk sambil mengucapkan, “Dengan Izin Allah Bang.”

Hari-hariku kemudian adalah hari-hari bersamanya meskipun harus terpisah jauh antara Padang dan Jogja. Pikiranku tak pernah lepas darinya. Selalu aku teringat padanya. Hatta itu di saat pekerjaanku sangat menguras pikiran dan tenaga.

Pada dirinya, kutemukan semua bayangan “gadis impian” yang kucari-cari belasan tahun lamanya. Tak pernah sedikitpun hatiku goyah ntuk berpaling. Karena yang teramat kucari telah kutemukan.

Pesona keshalehan dan intelektualnya lah yang membuat bertahan dan rela menunggu sampai hari wisudanya. Karena begitulah permintaannya kepadaku. Aku sangat menghormati semangatnya untuk menyelesaikan kuliah dulu sebelum menikah.

Setahun lebih telah kulewati hari-hari sepi menunggunya di Jogja.  Dan kini, aku harus kuat menunggunya setahun lagi.

Beberapa minggu lalu saat ia kirimkan WA pengumuman bahwa dirinya terpilih sebagai presenter untuk Seminar Nasional History Week di UGM, hatiku sangat berbunga-bunga. Senang tiada tara. Dari pagi sampai siang kutatap ia yang duduk sebagai pembicara di depan. Aku terkesima dengan uraian dan suaranya yang tegas tapi terasa lembut. Selepas Dzuhur, kamipun masih bisa duduk saling berhadapan. Ku perhatikan dengan seksama wajahnya dan mimiknya. Dan rasa cinta itu semakin kuat menghampiri hatiku.

Sore ini dia kembali pulang. Karena tugas di Jogja telah selesai. Tapi kenapa sejak kemarin siang, airmataku tak berhenti mengalir. BERAT…. SUNGUH SANGAT BERAT AKU MELEPASNYA…. BELUM JUGA TEROBATI RINDUKU UNTUK HABIS DETIK DEMI DETIK BERSAMANYA…

Dek Dila… Sungguh aku teramat menyintaimu dan menyayangimu. Moga penantian ini akan indah pada waktunya. Moga Allah berikan kesabaran dan kesetiaan di hati kita untuk melewati masa-masa penantian yang teramat berat ini.

I am really really love you dek……