dalam kesempatan mengisi training di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah kemarin, saya mencoba untuk menawarkan pendekatan baru dalam memandang “yang lain”… bagi saya Islam itu adalah sebuah rumah besar yang harus dirawat bersama-sama… oleh karena itu sudah tidak ada urgensinya lagi ketika training perkaderan di organisasi pergerakan mahasiswa Islam untuk saling merendahkan dalam meraih simpati dari kader-kader baru yang masih “culun” dan “miskin pengalaman”…
saya katakan kepada para kader baru, “HMI, PMII, KAMMI adalah saudara kita… kita saling mengisi dalam ranah dakwah yang sangat luas di kampus….” sehingga ketika semangat penegasian “the others” untuk menaikkan pamor organisasi itu sudah mulai dihilangkan, energi kita yang selama ini habis untuk saling menghantam dan mencari kelemahan sesama aktivis pergerakan islam bisa kita alihkan kepada berbagai kegiatan yang lebih bermanfaat kepada diri kader secara personal dan memberikan kemaslahatan lebih luas kepada umat…. tak akan ada lagi kejadian, kalau yang jaga masjid mahasiswa aktivis salafi kemudian pamplet-pamplet publikasi anak KAMMI dipreteli… kalau yang jaga masjid mahasiswa aktivis KAMMI, publikasi acara anak IMM dicabut dan raib dalam waktu sekejap….
aktivis pergerakan mahasiswa Islam saat ini mengalami kegalauan menafsirkan dan menempatkan positioning di dalam arus intelektual kaum muda dan bangsa kontemporer… kita masih terjebak pada heroisme lama yang terus dihidup-hidupkan oleh para alumni… ketika aktivis zaman kini kebinggungan, organisasi ini mau dibawa kemana??? karena tantangan yang mereka hadapi jauh berbeda dari masa-masa puluhan tahun yang lalu… yang lebih susah adalah dakwah amar ma’ruf nahi mungkar yang meski mereka hadapi adalah para alumni mereka sendiri yang sekarang sudah berganti baju sebagai pejabat publik baik itu di legislatif, yudikatif dan eksekutif….
kebesaran-kebesaran organisasi di zaman dulu dengan torehan para alumni yang kemudian kita jadikan sebagai alat kampanye untuk menarik minat mahasiswa-mahasiswa baru untuk bergabung rasanya sudah tidak terlalu efektif ketika kebutuhan mahasiswa masa kini tidak lagi hanya soal mengenang sejarah masa lampau…. kita juga tidak ingin menjadikan training-training perkaderan sebagai prosesi ritual untuk mensahkan diri sebagai kader organisasi ini dan itu….
apalagi setelah berkiprah di organisasi, kemudian terjadi kontestasi perebutan pengaruh dan kuasa yang membuat organisasi pergerakan mahasiswa Islam terjebak memilih siapa dan hendak mendukung siapa untuk pimpinan cabang, daerah dan pusat…
kehadiran organisasi pergerakan akan kehilangan daya tarik ketika posisi mereka sebagai wadah pembelajaran bagi mahasiswa telah tergantikan oleh lembaga-lembaga mahasiswa lain yang sifatnya lebih spesifik dan pratikal serta lebih menunjang masa depan pasca wisuda… sehingga mau tidak mau, organisasi pergerakan kampus harus menafsir ulang muatan ideologis dan praktis apa yang harus mereka rancang dan tawaran kepada mahasiswa secara keseluruhan… tawaran-tawaran itu tentu seharusnya harus mempertimbangkan nuansa intelektual yang kuat sebagai ciri khas dunia akademis… salah satunya adalah mengembangkan kemampuan riset dan analisis sosial…
saat ini setiap proker dan protes yang dilakukan oleh mahasiswa masih minim dari data.. misalnya soal ketika mereka protes tentang biaya kuliah, mereka tidak melakukan kajian mendalam, berapa anggaran yang harus dikeluarkan kampus untuk mengadakan menghelat proses-proses pembelajara dan dari mana saja sumber dana yang mereka dapatkan??? aksi-aksi di jalan lebih kepada penjagaan harga diri dan marwah organisasi yang sifatnya sangat emosional dan sporadis…
oleh karena itu penguatan kemampuan riset dan analisis sosial saya pikir menjadi tema besar yang harus didiseminasikan kepada setiap kader…. kemampuan ini pula yang menjadi kekuatan mereka nanti untuk berkiprahi di dunia pasca menjadi mahasiswa… baik itu sebagai birokrat, politisi, akademisi maupun sebagai entrepreneur…
dari hasil riset dan analisis serius itulah kemudian kita bisa menguasai wacana… wacana yang berbasis landasan kajian dan kaedah-kaedah ilmiah… sehingga agitasi yang kita lakukan secara luas kepada masyarakat tidak sekedar ungkapan retoris yang miskin dari fondasi data dan fakta…. bisa menjadi tawaran-tawaran yang kredibel dan dapat diterima oleh publik…
mungkin itu yang bisa saya tangkap dari kegelisahan teman2 yang masih aktif maupun kader2 baru yang hendak mengabdikan diri mereka di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM dan UNY dalam 2 hari training ini…
dan yang paling saya suka dari mereka adalah meskipun habis-habisan berpikir dalam membahas berbagai macam problema kemahasiswaan dan dunia Islam secara umum hingga jam 2-setengah 3 pagi, tetapi dengan semangat juga mereka kembali terbangun dari tidur sekejap untuk sama kembali memenuhi panggilan adzan shubuh di jam 4 pagi….
terima kasih untuk pengalaman berharga 2 hari ini buat teman-teman immawan dan immawati panitia, instruktur, pengurus cabang dan komisariat serta para peserta DAD IMM Ibnu Khaldun Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dari Unnes Semarang, UAD Yogyakarta, IAIN Surakarta, UGM Yogyakarta…
Iklan