SEBUAH TANGGAPAN BUAT AKUN “YOGYA FERIZAL” YANG KATANYA LULUSAN JERMAN DAN MENGAKU ORANG MINANG)
religion can not do anything…. only people can act…. people can be influenced by religion/science/politics to do good or bad things but religion itself can not do anything….
sebuah statement menarik profesor dari Tina Beattie (Professor of Catholic Studies Roehampton University, London) untuk memberikan guidance kepada kita dalam melihat praktek agama yang dilakukan oleh manusia.. sebagai sebuah ruang yang bisa diinterpretasi dan “dimanipulasi” dalam bentuk apapun oleh manusia, sebagai sebuah konsep dan nilai dalam kehidupan sosial sebenarnya agama bisa ditarik kemanapun sesuai dengan kepentingan manusia…
sebagaimana dogma “berjuang untuk rakyat” selalu diucapkan oleh hampir semua politisi untuk menunjukkan bahwa ia adalah politisi baik.. meskipun dalam kenyataan mereka melakukan kerja-kerja bagaimana caranya untuk mengembalikan modal saat kampanye dan kalau bisa mendapatkan proyek selama menjabat agar bisa mengumpulkan modal untuk maju di kontestasi politik periode berikutnya…
teman-teman tentu akan heran kenapa BCA – bank konvensional yang menjadi bank swasta no 1 indonesia dan kebanyakan konsumennya adalah para pengusaha china juga – berlomba-lomba membuat lini BCA syariah… dalam kajian ekonomi tentu saja sebuah expansi bisnis terkandung sebuah misi untuk memperbesar profit untuk perusahaan…
namun di sisi lain, para idealis yang berjuang sejak awal untuk mengembangkan islamic banking di indonesia dan bahkan bela2in kuliah ke luar negeri adalah orang2 yang beranjak dari niat tulus bahwa nilai-nilai ekonomi syariah bisa menjadi solusi atas dominasi jeratan kapitalisasi ribawi yang sebenarnya dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk menjadi kaya raya dan menguasai ekonomi dunia…
siapapun yang belajar ekonomi pasti tahu tentang dunia hedge fund… dunia memperanakkan uang dengan mengkreasi sistem “fluktuasi” di pasar modal, saham dan currency… nilai-nilai ekonomi islam yang hendak dikembangkan ingin memberikan alternatif kepada masyarakat dengan semangat “menghidupkan ekonomi umat”… seperti adanya konsep pinjam pinjam tanpa bunga yang dalam konsep syariah disebut qardhul hasan… meskipun persentasennya masih kecil dilakukan oleh bank2 syariah yang ada saat ini, tetapi dalam tataran yang lebih kecil, masjid2 sudah mulai melakukan kegiatan simpan pinjam tanpa bunga ini…
bank syariah yang ada di indonesia memang tidak bebas dari kritik.. bahkan Dr. Muhammad Arifin Badri, MA seorang da’i salafi asli indonesia yang mendapatkan gelar doktor di universitas madinah secara serius membuat buku tentang “Riba dan Perbankan Syariah Definisi Fatwa Hukum Solusi”… yang memberikan secara konstruktif bagaimana membawa fenomena bank syariah menuju benar2 mengimplementasikan konsep syariah…
hal kedua yang dikritik adalah soal poligami dan jilbab.. kekerasan terhadap perempuan merupakan isu menarik dan orang-orang yang “sepertinya” sedang berjuang untuk memperjuangkan perempuan lepas dari keterikatan agama.. tetapi secara tidak sadar mereka sedang menunjukkan ketidak-tolerannya terhadap pilihan-pilihan perempuan…
sebenarnya tidak persoalan dengan cara orang berpakaian entah ia dipengaruhi oleh doktrin agama ataupun ideologi tertentu… misalnya pilihan orang untuk berjilbab ataupun bercadar, mereka melakukan itu dengan perjuangan… misalnya di daerah yang berudara panas.. memakai jilbab lebar dan berlapis2 sungguh membutuhkan kesabaran luar biasa untuk menahan panas.. mereka memakai itu dan tidak menganggu orang… itu soal pilihan mereka… ketika kita memperolok-olok mereka, sesungguhnya kita sedang MELAKUKAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN…
terkait dengan poligami.. harus diakui ada beberapa ustadz yang getol mengkampanyekan dan memposisikan diri sebagai praktisi poligami… tetapi pilihan mereka adalah pilihan personal yang sangat subjektif… jika kita kembalikan kepada nash-nash syariat, maka ada banyak ancaman yang diberlakukan kepada para pelaku poligami… seperti ancaman nabi ini:
“Barangsiapa memiliki dua isteri, lalu dia cenderung kepada salah satu dari keduanya (yakni tidak adil), (maka) dia akan datang pada hari Kiamat, sedangkan lambungnya miring” (HR Abu Dawud, no. 2133, Tirmidzi, no. 1141. an-Nasaa-i, no. 3942, Ibnu Majah, 1969. Dishahihkan al Albani. Lafazh ini milik Abu Dawud, bukan lafazh yang tercantum dalam Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah)…
hal kedua yang perlu dipahami lagi bahwa dalam islam ada 5 hukum.. dan poligami tidak melulu sesuatu yang disunnahkan… poligami bisa jadi sesuatu yang diharamkan ketika sang laki-laki tidak memenuhi syarat untuk masuk dunia bersama lebih dari 1 istri ini… seperti tidak mampu berlaku adil.. tidak memiliki kemampuan memberikan nafkah… jadi poligami tidak semata hanya persoalan “nafsu”….
bahkan seorang nabi muhammad pun tidak merelakan anaknya Fatimah dimadu… dalam sahih muslim ada hadist:
Artinya : “Dari miswar bin makhramah beliau pernah mendengar saat nabi berada di atas mimbar beliau bersabda : sesungguhnya bani hisyam bin mughirah meminta izin mereka untuk menikahi ali dengan putri mereka, lalu rasulullah bersabda: aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, kecuali sesungguhnya aku lebih mencintai ali bin abi thalib menceraikan putriku, daripada menikahi dengan putri mereka. Karena putriku adalah darah dagingku aku senang dengan apa yang telah darah dagingku senang dan aku merasa tersakiti dengan apa yang telah darah dagingku merasa tersakiti dengan hal itu” .
sebagai akademisi, kita harus melihat sesuatu secara komprehensif… tidak karena kebencian kita kepada satu kelompok kemudian kita berlaku tidak adil.. yakni tidak melihat lebih dalam dan melarikan persoalan jauh dari apa sebenarnya yang dimaksudkan oleh teks agama…
sangat disayangkan ada orang islam yang mengaku pernah menjadi aktivis islam dan paham tentang islam, kemudian menjustifikan “kesalahan” pada satu kelompok untuk menolak nilai-nilai kebaikan yang diajarkan oleh Islam dan menjelek-jelekkan orang yang dia sendiri tidak mampu melampaui kebaikan orang-orang yang dia rendahkan…
di antara orang-orang yang mempercayai SYARIAH bisa menjadi norma yang bisa memperbaiki masyarakat adalah orang2 baik yang memberikan sumbangsih luar biasa pada kemanusiaan.. di antara mereka adalah orang-orang yang sangat rendah hati dan punya nominal zakat dengan nilai miliaran.. membantu orang miskin, membuka lapangan kerja buat orang lain.. mereka tidak pernah ragu untuk menyumbangkan harta pribadi mereka ratusan juta bahkan miliaran rupiah untuk kebaikan masyarakat… mereka buka pendidikan gratis untuk anak2 di sekitar mereka dan bahkan mengirimkan uang untuk membantu anak2 di daerah terpencil…
menutup tulisan pendek ini saya ingin mengatakan,
BETAPA BANYAK ORANG YANG MENGKRITIK SESUATU/SESEORANG/KELOMPOK, TETAPI APA YANG IA LAKUKAN TIDAK LEBIH BAIK BAHKAN DI BAWAH DARI APA YANG IA JELEK-JELEKKAN…
sebenarnya sudah banyak scholars yang bahas tentang praktek yang tak syar’i dalam produk2 pinjaman yang ditawarkan oleh bank syariah.. seperti buku  serius membahas tentang riba dan tinjauan kritis perbankan syariah yang ditulis oleh seorang doktor ilmu syariah dari madinah university… kalau kita telusuri lagi banyak akademisi di IAIN dan universitas yang mengkritisi praktek tak syar’i dari bank syariah…
menariknya adalah karena melihat pasar yang potensial bank2 konvensional berlomba2 membuat bank syariah…. bahkan BCA pun sangat bersemangat membangun kantor2 baru untuk BCA Syariahnya karena mereka melihat keuntungan yang besar juga di sana… perbedaan kemudian, para pejuang ekonomi syariah yang sejak awal ingin mengimplementasi sistem perbankan syariah murni di indonesia mereka mengambil sikap kritis sekaligus mencoba masuk dan berdiskusi dengan para praktisi dan pengambil kebijakan di BI untuk melakukan perbaikan2 dari sebuah sistem yang sebenarnya baru diterapkan di indonesia… mereka punya semangat PERBAIKAN…
berbeda dengan para pembenci syariah… mereka hanya bersemangat mengkritisi tapi enggan untuk memberikan solusi… yang mereka sasar adalah kejelekan dari pihak yang tidak mereka suka, kemudian mencoba untuk melakukan pembunuhan karakter bahwa yang saat ini sedang memperjuang syariah adalah para perusak peradaban… padahal banyak yang kemudian berjuang untuk implementasi syariah dengan cara2 yang santun dan serius memperjuangkan konsep2 syariah yang mereka yakini sebagai solusi dari persoalan… jadi pembela syariah itu tidak 1 varian… ada yang memanfaatkan situasi masyarakat, ada yang benar2 berjuang dengan ketulusan dan keyakinan, ada juga yang dilatarbelakangi oleh nafsu dan menggunakan justifikasi agama…
PERSOALAN KITA TENTU TIDAK HANYA SEKEDAR BERHASIL MENGUNGKAP DAN MEMBEBERKAN PRAKTIK2 TIDAK SYAR’I PADA BANK SYARIAH YANG ADA SAAT INI… TETAPI SATU HAL YANG LEBIH PENTING, BAGAIMANA KEMUDIAN PRAKTEK2 YANG DISEBUT2 SEBAGAI PRAKTEK LEBIH NGERI DARI PADA RIBA BANK KONVENSIONAL BISA DIHILANGKAN DARI PERBANKAN SYARIAH KITA… DI SANALAH DIBUTUHKAN PARA PEJUANG2 TANGGUH… DAN ALHAMDULILLAH DI INDONESIA MASIH ADA ORANG2 SEPERTI ITU….
untuk sekelas alumni UGM yang sudah senior dan punya pengalaman luar negeri apalagi kuliah di ekonomi, rasanya pasti bapak punya teman2 yang saat ini duduk dan bekerja di BI ataupun bahkan jadi petinggi di bank2 syariah tersebut…
DARIPADA CUMA BILANG BANK SYARIAH SEKARANG ITU LEBIH PARAH DARI BANK KONVENSIONAL, LEBIH BAIK APABILA BAPAK MEMBERIKAN NASKAH AKADEMIK SOLUTIF… SEHINGGA ADA SEBUAH PROSES PERBAIKAN DARI KESALAHAN2 YANG ADA SAAT INI…
di sanalah kemampuan negosiasi dan debat untuk sebuah perbaikan menjadi lebih bermanfaat… daripada memancing kebencian orang kepada hal2 berbau syariah…. karena harus diakui di grup kagama ini banyak varian orang.. yang paranoid dengan syariah juga banyak… ya apabila bapak ternyata juga yang paranoid dengan hal2 yang berbau syariah dan tidak mau menjelaskan apa sieh pemaknaan syariah yang sebenarnya, ya sampai kiamat pun bapak akan sangat mudah mencari2 kesalahan2 dari pihak2 yang bapak benci… karena sudah jadi sifat manusia penuh dengan salah dan dosa…