RENUNGAN 71 TAHUN INDONESIA MERDEKA


merenungi peringatan ke 71 proklamasi indonesia.. kita tidak bisa menyamakan umur sebuah bangsa dengan umur manusia… 71 tahun untuk manusia memang sudah tua renta dan keriput… tetapi bagi sebuah bangsa, 71 tahun seperti bayi yang baru mulai berjalan tertatih-tatih… apalagi dibandingkan dengan negara-negara di eropa yang sudah merdeka dan kemudian melakukan kolonialisasi berabad-abad yang lalu…
 
saya lebih senang melihat indonesia sebagai sebuah negara bangsa yang didirikan oleh “orang-orang dewasa” yang rela berkorban apapun untuk melepaskan negeri ini dari belenggu penjajah.. lepas belenggu penjajahan seperti apa yang diinginkan??? merdeka untuk hidup dan mengatur diri sendiri… itulah semangat yang saya rasakan dari para pejuang yang rela berperang, berkawan sekaligus memusuhi penjajah…
 
kebanyakan para pendiri bangsa ini adalah orang-orang didikan belanda… mendapatkan ilmu pengetahuan di sekolah belanda… mungkin hanya beberapa nama yang kemudian murni mendapatkan pendidikan non belanda yang di waktu itu kebanyakan diselenggarakan oleh para ulama islam dalam bentuk islamic school yang sangat mandiri dan memakai kurikulum sendiri (atau lebih tepatnya melakukan inovasi dari kurikulum arab dan barat)…
 
mendirikan negara dengan pemerintahan sendiri memang sudah berhasil di tanggal 17 agustus 1945… pengetahuan teoritis dan pengalaman praksis membuat para founding fathers kita sangat visioner dalam merumuskan dasar negara dan arah pembangunan bangsa… meskipun yang terjadi kemudian adalah proses kompromi… ada proses mengalah untuk kepentingan yang besar dan untuk membuat semua komponen bangsa yang sangat majemuk bisa rela hati dan berada dalam satu barisan untuk membangun INDONESIA… proses mengalah dengan kedewasaan dan kebijaksanaan ini lahir dari sebuah pengalaman pahit yang benar-benar menikam menjadi titik krusial bagaimana rapuhnya NUSANTARA jika terus digiring dalam egoisme etnis, agama dan kepentingan sekelompok orang…
 
membangun sebuah negara tentu bukan tanpa cobaan… yang memegang tampuk kekuasaan kemudian memainkan peran dan melakukan langkah-langkah pembangunan Indonesia sesuai dengan tafsir terbaik yang mereka yakini… bibit2 perbedaan yang sebenarnya sangat kental di masa2 perjuangan, kemudian menguat kembali… perbedaan ideologis tentang mau dibawa kemana INDONESIA terus mewarnai sejarah bangsa ini… ada yang disingkirkan Soekarno.. ada yang dibasmi Soeharto… termasuk juga presiden di masa Reformasi… meskipun di antara mereka cuma SBY yang kemudian bisa bertahan 10 tahun…
 
mendirikan sebuah Negara tidak berhenti hanya pada prosesi Deklarasi Kemerdekaan… memang itu adalah pijakan awal untuk melangkah.. tetapi akan arif apabila kita melihatnya perjalanan 71 tahun ini sebagai bentuk-bentuk aplikatif tentang rumus2 ideologi yang kita yakini baik untuk Indonesia..
 
saat ini mungkin hanya beberapa persen saja penduduk Indonesia yang lahir di tahun 1945 dan sebelumnya.. mereka diberikan umur panjang oleh Allah agar kita bisa mengonfirmasikan/mengingat-ingatkan kembali CITA-CITA APA YANG SEBENARNYA DIINGINKAN OLEH PARA PAHLAWAN YANG DULU RELA MEREGANG NYAWA UNTUK SEBUAH KATA “MERDEKA”… namun, mayoritas yang sekarang hidup di negeri ini ataupun yang merasakan semangat “merah putih” membara di dadanya adalah anak2 muda dari rentang usia 20-40 tahun… mereka yang kemudian menjadi SENTRAL PENJALANAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA..
 
atas dasar itulah, memikirkan masa depan Indonesia sangat ditentukan bagaimana majority group of age 20-40 years old mampu merumuskan PANDANGAN KEINDONESIAAN MEREKA sekaligus PUNYA IKATAN BATIN YANG KUAT DENGAN SEJARAH NEGERI INI… mereka adalah generasi perubahan yang apabila dibiarkan galau akan menjadi bom waktu yang akan menghancurkan negeri di masa mendatang.
 
mereka berada di titik persimpangan… dikabuti oleh kenyataan bahwa sebagian besar kekayaan alam yang menjadi modal pembangunan sudah dihabiskan dengan sangat singkat oleh generaso bapak atau kakek mereka… dalam waktu tak sampai 1 abad hampir seluruh kekayaan alam negeri ini beralih kepemilikan kepada kapitalis baik asing maupun kapitalis negara.. hanya beberapa saja yang kemudian bisa menyumbang kepada devisa negara dan bisa mengisi pundi-pundi APBN… apa yang digarap oleh kapitalis asing lebih banyak terbang ke luar negeri.. apa yang dihasilkan oleh BUMN lebih banyak lari kepada karyawan dan keluarganya serta dengan sangat tragis dan miris kebanyakan unit2 usaha negara ini harus merugi setiap tahun sehingga suntikan dana APBN ataupun hutang menjadi penyambung hidup mereka…
 
kalau dibandingkan 71 tahun yang lalu… jumlah teknokrat, pemikir, ilmuwan dan kaum terdidik kita jauh berkali-kali lipat.. tetapi kenapa impian untuk menghadirkan kesejahteraan kepada masyarakat, keadilan untuk semua warga negara dan kestabilan berpolitik dan berekonomi tak jua kunjung bisa diraih???
 
dari perspektif optimis sebenarnya keadaan Indonesia hari ini jauh lebih baik dibandingkan dengan kondisi 71 tahun yang lalu.. karena kita punya anak2 muda yang secara kreatif bisa mengembangkan diri untuk mandiri.. mereka mungkin tidak terlalu paham sejarah, tidak hafal UUD 1945 atau bahkan tidak bisa menyebutkan 5 butir pancasila… tetapi mereka tumbuh menjadi generasi baru yang melampaui perdebatan ideologis dan lebih berpikir pragmatis dalam artian positif.. mereka tak terlalu larut dengan romantika sejarah, tetapi mencoba membuat SEJARAH BARU dengan keahlian dan keilmuan serta bakat yang mereka miliki.. satu hal yang mengembirakan mereka menyintai Indonesia dengan cara yang baru… tidak terpaku pada heroisme jalanan dan slogan-slogan, acara-acara seremonial upacara bendera dan tirakatan… tetapi mereka memberikan ruang-ruang baru kepada banyak orang untuk paling tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari…
 
satu hal yang harus kita sadari hari ini adalah politik kita sudah disandera oleh ekonomi… tidak banyak sekarang orang yang bisa bertahan hidup menderita dan cuma punya rumah serta kendaraan sederhana.. sayangnya penyakit kronis ini menimpa sebagian besar segmen masyarakat yang dulu bergelut di dunia aktivis… ketika mata mereka tergiur dengan harta di saat berkuasa, maka idealisme berganti dengan semangat ingin turut mencicipi HASIL JERIH PAYAH PERJUANGAN..
 
entah siapapun di zaman ini, sedang berpikir keras untuk bisa survive hidup secara ekonomi… berbagai cara dilakukan agar bisa tetap makan dan kalau bisa meningkat agar bisa hidup sedikit mewah… itu adalah hal yang lumrah dan manusiawi…
 
agar bangsa ini tidak tergadaikan – biasanya lewat skenario-skenario politik – kita harus mandiri secara ekonomi… kita masih bisa berharap pada “sisa-sisa” kekayaan alam yang kita miliki.. karena meskipun sudah dieksploitasi habis-habisan, Tuhan masih berbaik hati kepada kita untuk menyimpankan berbagai kekayaan itu untuk generasi mendatang… di lain sisi, kita bisa mengeksplorasi lebih giat dan kreatif lagi dunia ekonomi yang digit uangnya tak bernominal alias tak terhingga… itulah industri kreatif yang sangat mudah kita temukan pada deretan orang-orang terkaya di dunia yang mampu melejitkan raihan finansial mereka dengan kreasi dan inovasi…
 
mungkin di zaman materialistik ini agak susah kalau kita mengkampanyekan agar masyarakat bersabar dalam kesusahan… karena mereka dikelilingi oleh dunia yang serba berkaitan dengan uang… saya merasa doktrin yang mesti dikampanyekan adalah MARI KITA KAYA BERSAMA-SAMA… artinya ada sharing revenue yang terjadi di tengah-tengah masyarakat… nilai idelogis dan agama kemudian menjadi guidance terbaik untuk menciptakan masyarakat sejahtera yang punya rasa empati, simpati, kemurahan hati…
 
bagaimana caranya agar bisa sama-sama kaya??? pertama, berikanlah pendidikan yang terbaik untuk setiap anak bangsa sesuai dengan bakat dan potensi mereka secara gratis.. baik mereka berasal dari kalangan kaya maupun dari kelompok tak berpunya… jangan seperti sekarang… tetap saja terjadi disparitas keilmuan… memang di sekolah2 negeri orang tua bisa menyekolahkan anaknya gratis.. tetapi anak2 dari kalangan berada mendapatkan akses ke lembaga-lembaga pendidikan tambahan selepas sekolah.. tetap terjadi ketimpangan pengetahuan… apalagi sekolah lebih menekankan aspek formalitas… sedangkan untuk akselerasi kemampuan anak-anak banyak mendapatkannya di pendidikan setelah pulang sekolah…
 
kedua, negara harus melakukan renovasi pendidikan tinggi.. sehingga yang dihasilkan oleh perguruan tinggi bukanlah pengangguran ataupun para job seeker yang bermental birokratis dan tak berani keluar dari zona nyaman… pusat2 keunggulan harus dibangun di masing2 universitas untuk penciptakan inovasi baik secara fisik maupun secara pemikiran konseptual… dua hal ini harus disinkronkan dengan baik.. apabila terlalu kuat aspek pemikiran konseptualnya, maka kita hanya akan menghasilkan para sarjana yang idealis utopis… jika yang ditekankan adalah aspek fisiknya, maka kita sesungguhnya sedang menciptakan robot-robot untuk sekedar memenuhi target-target produksi…
 
ketiga, menstabilkan disparitas yang terlalu tajam antara pendapatan orang kaya dan miskin harus dimulai… pajak progresif menjadi solusi untuk menghancurkan ketimpangan ini… negara harus berani memaksa orang-orang kaya untuk memberikan kontribusi besar kepada negara…
 
keempat, gerakan-gerakan berkelompok untuk bahu-membahu menyejahterakan diri perlu dikuatkan pada masyarakat ekonomi lemah… mereka harus dibantu untuk mendapatkan sumber-sumber penghasilan yang mereka mendongkrak status ekonomi mereka…
 
saya punya keyakinan, apabila mayoritas orang di negeri ini bisa mencapai keberhasilan finansial dan diikuti oleh kesadaran pengabdian, saya pikir secara psikologis kita punya kebanggaan dan tidak lagi di bawah tekanan… yang terjadi sekarang adalah APBN kita minus, sehingga harus cari pinjaman ke sana-sini selain upaya pengetatan anggaran yang dilakukan… apabila secara APBN kita sudah bisa mandiri, apabila Kepala Daerah berpikir keras bagaimana bisa mendapatkan PAD yang mampu menutupi kebutuhan tahunan di kota/kabupaten/provinsi mereka, kita percaya dalam tataran minor, masyarakatpun sangat bisa untuk melakukan kerja keras untuk mencapai tingkat kemapanan ekonomi keluarga….
 
menutup renungan ini, saya ingin mengutip pernyataan Hatta:
 
“… Merdeka tidak tergantung pada jumlah jiwa yang melek huruf, tetapi pertama-tama adalah soal adanya lembaga-lembaga demokrasi dan semangat kaum intelektualnya…..”
 
Lembaga demorasi adalah untuk mengawal penyelenggaraan negara sesuai dengan rambu-rambu konstitusi… Semangat kaum intelektual yang mengelora adalah lentera ketika rakyat berjalan di tengah kegelapan berbangsa….
 
DIRGAHAYU INDONESIAKU…..
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s