Ingatanku kembali ke beberapa puluh tahun yang lalu. Saat masih duduk di bangku SMP. Masih bercelana pendek biru dengan malu-malu. Karena usia sudah akil baligh dan risih rasanya memakai celana sekolah di atas lutut. SMP ku terkenal dengan nama “SMP Parak Ubi” (SMP Kebun Singkong). Karena area di belakang sekolah yang bersebelahan dengan Sungai Batang Lembang yang bermuara ke Danau Singkarak ditanami singkong alias ketela pohon.
 
Aku masih ingat persis, kalau tak ada pagar tinggi yang mengelilingi SMP-ku. Sehingga kalau mau cabut (bolos), sangat mudah dan gampang. Apalagi kalau pakai jalur belakang. Tidak harus lompat pagar. Karena yang ada cuma rimbunnya kebun singkong. Tak seperti sekolah di zaman sekarang, dimana sekeliling sekolah dibeton pagar tinggi. Di atasnya dikasih kawat berduri plus pecahan kaca. Niatnya memang mencegah para siswa bolos. Tetapi secara psikologis, mencerminkan bahwa sekolah seperti penjara. Sehingga saat bel pulang sekolah berbunyi, para siswa girang dan gembira bukan mainnya. Karena sebentar lagi akan menghirup udara BEBAS.
 
Selepas makan siang dan sholat Dzuhur, aku biasanya tidur. Sore hari sudah on fire lagi untuk bermain sepakbola dengan teman-teman se-kelurahan. Cari keringat sekaligus berhibur diri bersama teman2 sebaya, yang lebih tua dan yang lebih muda. Maklumlah, lapangan bola mini di kampungku adalah area para bapak-bapak melepas penat selepas kerja, tempat ibu-ibu jalan-jalan bersama baby mungilnya dan tempat anak-anak muda sekampung unjuk kebolehan bermain bola. Malam selepas Magrib, belajar membaca alqur’an di rumah ustadz bersama beberapa orang kawan.
 
Kalaupun ada kesempatan luang di siang atau sore hari, aku bersama teman-teman biasanya mandi-mandi di sungai atau mencari keong mas di sawah atau sayuran di saluran irigasi untuk makan itik dan kelinci yang dipelihara ayah di rumah.
 
Malam hari selepas Isya adalah waktu membantu ibu memarut ubi dan membungkusi es manis kacang ijo. Shubuh sudah harus bangun lagi untuk menyiapkan aneka snack dan mengantarnya ke warung dan kantin-kantin sekolah dekat rumah.
 
Saya mengerti yang dimaksudkan Pak Muhadjir dengan wacana Full Day School. Beliau ingin mencegah anak-anak lepas dari kontrol guru dan orang tua di jam-jam krusial siang hari. Jam 2-5 sore. Tapi terus terang, jam segitu adalah jam yang paling enak untuk tidur. Ha2.. ha2.. Sungguh kasihan apabila anak-anak dipaksa untuk terus belajar, entah itu ekstrakuler apalah namanya. Tetap saja ngak enak main dan keluyuran di siang bolong. Apalagi belajar. Bawaannya sudah ngantuk…:)
 
Secara kesehatan, anak usia SD sampai SMP membutuhkan waktu tidur waktu tidur antara 10-11 jam sehari. Yang terdiri dari 8-9 jam tidur malam, dan 2 jam di siang hari. Salahnya pemerintah kita beberapa tahun belakangan ini yang mengorbankan anak-anak untuk berlomba-lomba mencari nilai UAN tinggi sehingga memaksa mereka ikut berbagai macam kursus dan bimbingan belajar sepulang sekolah. Jika angka-angka UAN hanya angka-angka imajiner soal kecerdasan, dan anak-anak kemudian miskin dengan penanaman nilai-nilai, buat apa pemerintah membuat sistem evaluasi yang begitu ketat sehingga anak-anak menjadi stres dan hidup penuh dengan beban. Jika kita hendak memberikan waktu bermain, sosialisasi dan pertumbuhan yang “normal” buat anak-anak, hilangkan sistem-sistem ujian itu.
 
Apa yang mesti dilakukan di masa SD dan SMP adalah pendidikan mengembangkan bakat. Di usia inilah guru bisa melihat dan menilai potensi seorang anak. Untuk menemukan bakat itu tentu saja harus melalui berbagai metode dan cara serta memberikan kesempatan elaborasi yang luas kepada anak-anak. Secara filosofis manusia itu unik dan dikarunia kelebihan-kelebihan tertentu. Ada yang suka seni, ada yang suka bahasa, ada yang suka otak-atik barang, ada yang suka bikin puisi, ada yang suka musik dan tari, ada yang suka olahraga, ada yang suka mikir, ada yang suka bicara, ada yang suka diam dan merenung, dan berbagai macam potensi lainnya.
 
Membaca dan mengkategorisasi potensi anak inilah yang seharusnya dimiliki oleh para guru, sehingga kemudian anak-anak mendapatkan treatment yang bisa mengembangkan bakat dan potensi yang mereka miliki. Sangat membantu sekali apabila bakat dan potensi itu sudah terpetakan. Sehingga ketika anak-anak memasuki jenjang pendidikan menengah, mereka sudah tahu akan mau jadi apa dan mau mengasah keterampilan atau hendak fokus menekuni bidang keilmuan apa. Agar kemudian ketika memasuki jenjang perguruan tinggi mereka sudah ready dan semakin melejitkan diri serta tak ada keluhan SALAH AMBIL JURUSAN.
 
Proses penemuan dan elaborasi bakat dan potensi ini sebenarnya tak butuh Full Day School. 4 sampai 6 jam di sekolah sebenarnya sudah sangat cukup.
 
Satu hal yang tidak disadari oleh Pak Menteri adalah guru-guru kita mereka juga ayah dan ibu untuk anak-anak mereka. Mereka butuh waktu untuk mendidik anak-anaknya sendiri. Ketika mereka diberikan beban yang luar biasa berat dengan Full Day School, besar kemungkinan akan sekian juta anak-anak guru yang ditelantarkan.
 
Sudah menjadi rahasia umum bahwa sekolah tak cukup mampu untuk memberikan “bekal menempuh ujian” kepada siswa-siswanya. Kemudian ruang kosong ini dimanfaatkan oleh lembaga-lembaga belajar untuk memberikan tambahan pelajaran yang bisa mengantarkan seorang anak “lulus” ujian sekolah dan ujian nasional. Bahkan bayaran di lembaga kursus ini lebih mahal dibandingkan biaya sekolah. Maka tak salah kemudian, yang melejit nilainya pas ujian kebanyakan adalah anak-anak yang mendapatkan fasilitas tambahan belajar ini dengan konsekuensi tambahan biaya ini. Alhasil, anak-anak yang tak beruntung bisa masuk lembaga belajar hanya mengandalkan apa yang mereka terima dari guru. Kadang itu cukup sebagai bekal dan bisa mengantarkan jadi juara kelas sebagaimana yang saya alami saat SD dan SMP dulu. Tetapi seringkali tidak memadai, sehingga anak-anak yang tak ikut les hanya menjadi siswa-siswa dengan rangking biasa-biasa saja.
 
Kalau mau kita tarik ke atas, problem persoalannya bukan di masalah menambah jam belajar. Tetapi perlu ada perbaikan konten kurikulum nasional. Amatlah tepat apabila materi-materi yang sifatnya keilmuan dikurangi dan digantikan dengan memperbanyak konten-konten untuk penanaman nilai-nilai semangat belajar, disiplin, penghormatan kepada orang tua, penanaman nilai-nilai kejujuran dan lain sebagainya. Dan saya termasuk orang yang merasa memberikan PR bukanlah solusi untuk menambah jam belajar anak-anak di rumah. Karena itu semakin menambah beban orang tua yang sudah capek seharian bekerja.
 
Banyak kemudian, anak-anak mengerjakan PR di tempat les. Kalau saya dulu malah bikin PR itu pada saat guru masuk kelas atau jam-jam istirahat. Dan kebanyakan adalah sistem menyalin punya teman yang pintar di sekolah… ha2.. ha2.. Tapi alhamdulilah, pas ulangan ataupun ujian saya berikrar untuk tidak menyontek kepada teman sebelah. Ya, kalau PR terpaksa. Paling tidak untuk modal lepas dari kemarahan guru di kelas…he2.. he2.. he2..
 
Satu lagi kelemahan wacana Pak Muhadjir adalah “Urban Mindset”. Yang dipikirkan oleh beliau hanyalah situasi anak-anak di kota-kota besar. Bukan saja ditinggal oleh orang tua yang bekerja, anak-anak ini juga minim tempat bermain yang free. Semuanya bayar. Pakai lapangan bayar, berenang bayar, nyebur di sawah juga bayar… wkkk…wkkkk….
 
Berbeda dengan situasinya di sekolah-sekolah di desa-desa yang masih asri dan ruang-ruang bermain untuk anak masih luas. Mereka ngak perlu masuk sekolah alam untuk nyebur ke kali ataupun berlumpur di sawah. Semua sudah tersedia di muka mereka. Free, Gratis dan Asri.
 
Mereka tak perlu berlama-lama di sekolah untuk belajar agama. Karena di kampung mereka sudah ada masjid, musholla, surau tempat belajar mengaji dan agama. Yang kadang juga ditambah dengan bekal beladiri dan mempelajari seni budaya.
 
Pak Muhadjir gagal melihat local wisdom yang sampai hari ini masih dipertahankan oleh para pemangku adat dan budaya di berbagai daerah di Indonesia. “Jakarta Mindset” terlalu kuat mempengaruhi mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.
 
Kembali kepada judul di atas. Bagi saya, guru itu adalah pendidik kedua setelah orang tua. Apa yang telah diajarkan oleh guru sangat tergantung kepada suasana di rumah dan lingkungan masyarakat. Jangan berikan beban sepenuhnya kepada guru untuk “mengembleng anak-anak Indonesia”. Program Full Day School adalah bentuk “pemaksaan” dan “pelepasan” tanggung jawab pendidikan utama yang berada di pundak orang tua. Apa bahayanya??? Akan terbangun pemikiran massif bahwa tugas orang tua hanya mencari uang, soal penjagaan dan pendidikan anak adalah tanggung jawab sekolah. Ini tidak hanya salah secara psikologi pendidikan tetapi juga menyalahi tuntunan agama.
 
Seolah-olah Pak Muhadjir mengamini situasi ketidakberdayaan orang tua untuk mendidik anak karena masalah bekerja. Di sisi lain, Pak Muhadjir juga menyerah dengan situasi tidak kondusif yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
 
Kalau saya malah berpandangan orang tua dan masyarakatlah yang kemudian harus diajak untuk membangun paradigma baru bahwa pendidikan anak adalah pendidikan bersama. Orang tua mengambil peran utama, guru mengambil sebagian dan masyarakat turut memikul beban. Trilogi inilah yang kemudian tak bisa disinergikan oleh Pak Muhadjir. Akibatnya, Full School Day ditawarkan dan orang tua serta masyarakat dipinggirkan.
 
Rekayasa sosial sebenarnya bisa kita lakukan di masyarakat sebagai pengontrol anak-anak. Apabila dipahamkan kepada masyarakat bahwa ketika mereka juga mau menjaga anak tetangga, sesungguhnya mereka telah menjaga anak mereka sendiri. Karena seorang anak butuh teman. Dan yang akrab dan dekat adalah teman-teman sebayanya yang bersebelahan rumah. Kalau misalnya ada yang berperilaku tidak wajar dan melanggar, maka kehadiran satu atau dua anak ini akan mempengaruhi teman-teman sepermainan mereka. Nah, kalau ada kontrol yang baik, kalau ada anak tetangga yang berlaku tak pantas atau melanggar norma, kemudian banyak yang berinisiatif mengingatkan dan iapun serta orang tuanya mau diingatkan, maka ekses-ekses buruknya tidak akan menjalar ke teman-temannya yang lain.
 
Pendidikan komunal inilah yang perlu kita bangun lagi. Para perangkat desa ataupun tokoh-tokoh masyarakat bisa menyediakan ruang-ruang itu kepada anak-anak. Misalnya membuat perpustakaan anak di pos kambling atau balai RW atau RT, menyediakan ruang terbuka sehingga anak-anak bisa bermain dan berinteraksi sesamanya adalah bentuk-bentuk pendidikan komunal yang bisa dilakukan oleh masyarakat.
 
Penyadaran kepada orang tua bahwa merekalah GURU PERTAMA bagi anak sangat perlu digalakkan. Menceritakan dongeng2 daerah atau kisah-kisah kepahlawanan akan membuat anak punya imajinasi yang luas dan turut juga membangun menara imajiner cita-citanya. Nilai-nilai kepribadian akan sangat mudah dimasukkan lewat model-model bertutur menjelang tidur ini. Itu tak lama. 15-30 menit sudah cukup untuk mendekatkan emosi anak kepada orang tua sekaligus memberikan pengajaran karakter kepada anak. Dan hal ini bisa dilakukan apabila anak2 tidak dibebani PR yang membuat mereka harus berjaga malam dan tidur kelelahan. Gantilah PR itu dengan waktu buat orangtua berdongeng untuk anak-anaknya menjelang tidur.
 
menempatkan guru sesuai dengan porsinya adalah cara yang tepat untuk memperbaiki sistem pendidikan di indonesia. guru itu bukan baby sitter yang menjaga anak-anak dari bangun tidur hingga tidur lagi. Guru juga bukan security yang bisa mengawal anak-anak di sebuah bangunan pengawasan bernama sekolah. Tempatkanlah guru itu sebagai sosok inspirasi dan teladan dengan kapasitas mereka sebagai pendidik yang membantu anak-anak tumbuh dengan potensi dan bakat uniknya masing-masing. Lihatlah guru sebagai manusia biasa yang juga punya anak dan tanggung jawab sosial lainnya. Sehingga tak seharusnya semua tanggung jawab orang tua, masyarakat, bangsa, negara dan agama dibebankan kepada mereka.