pengalaman sebagai sekretaris panitia pembangunan masjid… saya begitu terharu dengan semangat warga yang sama2 mau berpikir dan mencari jalan untuk mendapatkan dana… baik itu dari tabungan pribadi, mengabarkan kepada keluarga besar, teman dan bahkan mencarikan link kepada yayasan2 yang biasa menyumbang untuk pembangunan masjid…

 
ada 1 yayasan di indonesia yang dipercaya oleh muhsinin dari timur tengah khusus untuk menyalurkan bantuan buat masjid2 yang akan dibangun di indonesia.. yayasan ini setiap tahunnya mengelola 40 paket bantuan untuk 40 masjid yang mau dibangun/direnovasi… berita gembiranya, yayasan2 seperti ini tidak hanya satu.. tetapi lumayan banyak….
 
dari seorang ustadz juga saya mendapatkan informasi bahwa ada donatur2 dari muslim eropa, amerika dan australia yang juga suka memberikan bantuan untuk pembangunan masjid… mereka biasanya melakukan searching dan googling di internet… agar bisa mendapatkan perhatian mereka, panitia pembangunan/renovasi masjid bisa membuat website berbahasa inggris…
 
hampir semua warga berpartisipasi… yang punya duit nyumbang duit… yang berpengalaman di birokrasi menguruskan izin pembangunan… yang punya tenaga ikut gotong royong… yang bisa listrik dan alat2 elektronik bantuin untuk berbagai urusan perlistrikan di masjid sementara… SUNGGUH LUAR BIASA…
 
di antara mayoritas yang bersemangat, tetap saja ada segelintir yang ingin mematahkan semangat… ada yang mengompori ibu2, ngak usah aja nyumbang buat masjid, sumbangkan aja ke panti asuhan… padahal yang saya ketahui, para muhsinin telah punya pos2 tersendiri ketika mereka mau berzakat atau berinfak.. sudah dibagi2 mana yang untuk masjid, mana yang untuk anak yatim, mana untuk orang miskin dan mana yang dalam bentuk beasiswa.. mereka melakukan diversifikasi sadaqah tanpa kita ketahui…
 
ada yang coba menghalangi dengan memunculkan syubuhat bahwa kalau bangun masjid yang baru, maka dana wakaf material dari donatur lama pahalanya akan hilang.. seolah2 mereka tahu dengan pencatatan amalan oleh malaikat.. padahal dari berbagai referensi dijelaskan bahwa pahala para waqif masjid yang lama akan tetap mengalir meskipun masjidnya sudah dibuat baru…
 
ada juga yang ingin mematahkan semangat dengan menyampaikan banyak teori dan masukan2 untuk memperlama proses pengerjaan.. ketika mereka diserahi amanah dan diminta kontribusi langsung ngacir… ada yang coba mengembosi dengan masalah dana dan perizinan.. tetapi tak mau bantu untuk mencarikan sumber dana dan memberikan solusi untuk mengurus perizinan…. karena tidak senangnya orang membangun masjid baru, kelompok ini yang biasanya masih sholat jamaah di masjid, kemudian tak lagi datang untuk berjamaah di masjid sementara… padahal di masjid sementara jamaah semakin ramai… dan masyarakat sudah tak sabar melihat masjid barunya segera dibangun… mereka berlomba2 memberikan apa yang bisa mereka lakukan dan sumbangkan…
 
begitulah lika-liku pembangunan masjid.. pasti ada yang tidak senang dan tidak suka… untuk menutup tulisan ini menarik dari Prof. Dr. Yunahar Ilyas tentang dinamika membangun masjid di masa Datuak Palimo Kayo, salah seorang kolega dekat kepercayaan Pak Natsir….
 
Jika Mampu Mengapa Harus Minta
 
Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas
 
Masjid di kampung kami sudah tua, entah kapan mulai dibangun, yang jelas sedari kecil aku sudah shalat di masjid itu. Bangunan semipermanen, di depannya ada sebuah kolam ikan. Di pinggir kolam ikan ada sebuah bangunan kecil tempat beduk digantungkan. Kami menamainya Rumah Tabuah. Di sampingnya, ada warung berlantai dua, tempat khatib tinggal dan berjualan. Beliaulah yang secara rutin mengurus masjid setiap hari.
 
Jamaah masjid mengusulkan agar masjid itu diperbarui menjadi lebih indah dan modern. Tetapi, usulan itu tidak kunjung diterima karena masih ada yang berpendapat masjid wakaf tak boleh dirobohkan, sebelum ada yang baru agar pahalanya tetap mengalir kepada waqif.
 
Pengurus masjid yang dipimpin khatib menemui Buya Datuak Palimo Kayo, ulama yang sangat berpengaruh di Sumatra Barat. Beliau orang sumando kampung kami. Buya Datuak menyetujui rencana pembangunan masjid baru. “Sekalipun masjid lama dirobohkan, lalu dibangun masjid baru yang lebih bagus, insya Allah pahalanya tetap mengalir untuk waqif masjid lama. Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan hambanya,” kata Buya Datuak meyakinkan. Persoalan wakaf sudah dianggap selesai, tinggal masalah dana.
Dalam rapat pertama Panitia Pembangunan Masjid, muncul usul cemerlang dari anggota panitia. “Buya Datuak kan sahabat dekat Pak Natsir. Sementara Bapak Natsir sangat dihormati dan dipercaya oleh beberapa negara Arab, terutama negara-negara Teluk yang kaya raya, seperti Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Sudah banyak bantuan pembangunan masjid yang disalurkan negara-negara kaya tersebut melalui Pak Natsir. Jadi, kita tinggal minta Buya Datuak menghubungi Pak Natsir.”
 
Usulan panjang lebar dari anggota panitia tadi segera disahuti dengan koor setuju oleh seluruh panitia. Memang benar, sebagai sesama tokoh Masyumi, Buya Datuak-lengkapnya Haji Mansur Daud Datuak Palimo Kayo-bersahabat karib dengan Dr M Natsir, tokoh Masyumi, mantan perdana menteri NKRI. Buya Datuak pernah menjadi duta besar RI untuk Irak. Setelah Masyumi bubar, dua tokoh ini sama-sama aktif di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Pak Natsir jadi ketua umum DDII di pusat, sementara Buya Datuak jadi ketua DDII Sumatra Barat dan sekaligus ketua MUI Sumbar.
 
Dengan harapan yang besar, panitia menemui Buya Datuak menyampaikan maksudnya. Di luar dugaan, Buya Datuak marah besar. “Angku-angku semua punya rumah bagus, punya toko, sawah, dan kebun, bukan orang miskin. Kenapa untuk membangun semua rumah Allah harus meminta-minta sampai ke Arab? Apa angku-angku tidak malu dengan Allah? Atau, angku-angku memang ingin dimiskinkan oleh Allah?”
 
Besoknya Buya Datuak meminta diadakan tabligh akbar. Dari atas mimbar, beliau menyampaikan berbagai pesan. “Ibuk-ibuk yang memakai perhiasan emas harap dilepaskan untuk pembangunan masjid. Bapak-bapak yang bawa dompet, harap mengeluarkan semua uang untuk pembangunan masjid.” Jamaah pun mematuhi permintaan Buya Datuak. Dan, terkumpullah dana awal untuk pembangunan masjid.
 
Beberapa tahun kemudian, masjid baru yang megah dan indah berdiri, tanpa harus meminta satu riyal pun dari negara Arab. Itulah pelajaran dari Buya Datuak. Jika kita mampu, mengapa harus meminta?