ini adalah discourse lama yang sampai saat ini belum ditemukan patron dan design yang benar ampuh2.. UIN yang sejak beberapa tahun terakhir mengadang2 proyek integrasi sains dan agama juga masih kelabakan… bahkan dalam beberapa sisi anak2 UIN malah semakin ngak religius.. sementara anak2 perguruan tinggi umum semakin getol belajar agama…. dalam tataran lebih internasional seperti proyek OKI dalam bentuk International Islamic University di Malaysia dan Pakistan juga masih berproses untuk melahirkan alumni ilmuwan qurani…
 
yang menarik adalah di UGM… banyak mahasiswa kedokteran yang hafal qur’an… tetapi untuk masuk ke level mufassir, rasanya masih butuh mempelajari secara khusus ilmu tafsir…
 
kalau mau menafsiran alqur’an secara science yang okey2 aja sieh… cuma resiko bisa seperti ini.. kalau kita mengabsolutkan tafsiran mereka kita akan terjebak pada sekedar mencocok2an alqur;an dengan keilmuan baru…
 
harun yahya sebenarnya dalam filsafat ilmu islam sendiri sebenarnya punya banyak kelemahan metodologis… dan kecenderungan hanya mencocok2an ilmu pengetahuan yang termutakhir dengan ayat2 yang ada dalam alqur’an… toh sebenarnya dalam sejarah keilmuan banyak juga ilmuan barat yang menolak teori evolusi darwin…
 
dr. Zakir Naik saya tidak pernah menemukan teori baru yang beliau sampaikan terkait dengan kedokteran sebagai core latar belakang pendidikan beliau.. yang saya pahami zakir naik lebih dikenal sebagai ahli perbandingan agama dibandingkan ahli bidang kedokteran.. misalnya menemukan solusi2 terbaru dalam penyakit2 terbaru berdasarkan pembacaan dari ayat alqur’an…
 
ada sebenarnya resiko metodologis ketika kita menempatkan alqur’an sebagai kitab science… kita bisa menempatkan alqur’an sebagai inspirasi untuk menemukan teori2 baru dari science… tetapi kita tidak bisa mengatakan inilah teori yang qurani… karena sifat science itu adalah berubah2 sesuai dengan perkembangan bukti dan kecanggihan penelitian… sementara alquran kebenarannya absolut sepanjang zaman… kalau saya lebih suka memakai kata inspirasi dibandingkan kata tafsir dalam konteks qur’an untuk perkembangan ilmu…:)
 
coba baca saja baca buku harun yahya… apakah beliau buat teori baru atau sebenarnya mengumpulkan teori2 kontra evolusi dari ilmuan barat… yang kemudian beliau carikan ayat2nya dalam alqur’an… buku2 harun yahya soal teori penciptaan alam semesta.. meminjam teori bing bang.. dan menjadikan teori itu sebagai teori yang mendekati ayat2 dalam alqur’an….
 
coba juga telisik satu per satu video dan karya publikasi Dr. Zakir Naik.. apakah beliau punya karya monumental dalam bidang kedokteran??? coba kasih contoh tafsiran alqur’an beliau dalam bidang kedokteran???
 
jangankan seorang muslim… pengakuan bahwa kandungan ilmiah ayat2 alqur’an telah juga diakui dan dibuktikan oleh ilmuwan2 non muslim yang tidak hafal alqur’an sekalipun… ini salah satu contohnya…
 
Dr. Moore was a former President of the Canadian Association of Anatomists, and of the American Association of Clinical Anatomists. He was honoured by the Canadian Association of Anatomists with the prestigious J.C.B. Grant Award and in 1994 he received the Honoured Member Award of the American Association of Clinical Anatomists “for outstanding contributions to the field of clinical anatomy.”
 
“For the past three years, I have worked with the Embryology Committee of King cAbdulaziz University in Jeddah, Saudi Arabia, helping them to interpret the many statements in the Qur’an and Sunnah referring to human reproduction and prenatal development. At first I was astonished by the accuracy of the statements that were recorded in the 7th century AD, before the science of embryology was established. Although I was aware of the glorious history of Muslim scientists in the 10th century AD, and some of their contributions to Medicine, I knew nothing about the religious facts and beliefs contained in the Qur’an and Sunnah.”[2]
 
At a conference in Cairo he presented a research paper and stated:
 
“It has been a great pleasure for me to help clarify statements in the Qur’an about human development. It is clear to me that these statements must have come to Muhammad from God, or Allah, because most of this knowledge was not discovered until many centuries later. This proves to me that Muhammad must have been a messenger of God, or Allah.” [1]
 
Professor Moore also stated that:
 
“…Because the staging of human embryos is complex, owing to the continuous process of change during development, it is proposed that a new system of classification could be developed using the terms mentioned in the Qur’an and Sunnah. The proposed system is simple, comprehensive, and conforms with present embryological knowledge.
 
“The intensive studies of the Qur’an and Hadith in the last four years have revealed a system of classifying human embryos that is amazing since it was recorded in the seventh century A.D… the descriptions in the Qur’an cannot be based on scientific knowledge in the seventh century…”
 
jadi kalau hanya soal konfirmasi dan afirmasi terhadap kebenaran alqur’an sebenarnya sudah banyak diakui dan diterima oleh ilmuwan barat tentang sisi kebenaran beberapa penjelasan natural sciences dalam alqur’an…
 
yang menjadi discourse kita adalah soal tafsir… apa yang maksud dengan menafsirkan dalam konteks ilmu2 kealaman??? apakah sekedar mengafirmasi dan mencari kecocokan alquran dengan penemuan saintifik terbaru… atau ada tujuan yang lebih ambisius.. yakni bagaimana dari bacaan alqur’an ilmuwan bisa membuat penemuan2 baru…
 
menyamakan persepsi ini sangat penting.. agar tidak ada kekeliruan dalam mengonsep pendidikan yang qurani.. apakah yang kita inginkan adalah ilmuwan yang hafal alqur’an… atau ilmuwan yang bisa membuat teori berdasarkan perenungannya atas ayat2 alqur’an…..
 
kalau yang maksudkan adalah bagaimana caranya mengungkap misteri alam yang sampai sekarang belum bisa dijelaskan oleh ilmuan ya itu butuh 2 kemampuan… kemampuan di bidang keilmuannya itu sendiri.. yang kedua adalah kemampuan di bidang tafsir qur’an beserta perangkat2nya… dan kita berharap akan lahir ilmuwan cum ulama seperti itu…
 
tetapi kalau yang dicontohkan adalah harun yahya dan zakir naik, rasanya kok tidak bisa dikategorikan dalam kelompok ini.. rasanya kita butuh mencari sosok lain yang memenuhi kriteria itu sebagai role model dalam pembelajaran kita di indonesia… karena sampai sekarang UIN sendiri yang mengusung integrasi keilmuan agama dan ilmu umum masih gamang… IIUM yang juga mengusung misi ini juga masih berproses dan belum bisa melahirkan sosok multitalented itu….
 
# mengenang kuliah filsafat ilmu bersama dengan bu rury yang lulusan amerika dan mengenang kembali debat2 seru di forum instruktur ikatan mahasiswa muhammadiyah UGM-UNY…:)