saya punya logika seperti ini… secara tidak sadar stratafikasi jurusan di perguruan tinggi dikuatkan dan dimassifkan oleh guru2 kita di sekolah… mereka sendiri punya kecenderungan inferiority dengan profesi mereka… sehingga jarang guru2 di SMA dan SMK yang menyarankan dengan serius agar siswa2 briliannya untuk menjadi guru…

sementara, guru2 itu lahir dari perguruan tinggi pendidikan.. artinya, ada sebuah penanaman kebanggaan yang hilang pada dosen di perguruan tinggi pendidikan akan profesi guru… kalau mereka sendiri sudah merendahkan, apalagi orang lain… jadi kebanggaan itu harus dimulai dari dosen2 perguruan tinggi pendidikan…

dengan sebuah sikap mental bahwa mereka lebih baik dari dokter atau daripada teknisi… jika itu sudah massif dan mengakar, jalan kedua yang mesti ditempuh adalah menanamkan kesadaran filosofis bahwa manusia itu unik dengan kemampuannya masing2… dan coba mengurangi marginalisasi secara sadar ataupun secara tak sadar kepada jurusan2 tertentu… misalnya di masyarakat kita masih kuat stigma mencibir untuk jurusan olahraga… padahal kalau seorang yang berprofesi sebagai atlet bisa mengalahkan gaji seorang dokter… gaji ronaldo per minggu mengalahkan gaji2 dokter di indonesia selama setahun…

ada juga masyarakat kita yang mencibir bahwa jurusan musik dan tari itu adalah jurusan yang ngak bergengsi… tapi teman2 saya di isi padangpanjang lebih sering ke luar negeri dibandingkan kawan2 saya yang dari jurusan bahasa dan sastra inggris… jadi kalau landasan bahwa manusia ini unik dan berikanlah pendidikan sesuai keunikannya, maka stratafikasi jurusan tidak akan berlaku lagi….

di ranah lain banyak contoh lembaga pendidikan yang dibangun oleh orang yang bukan dari perguruan tinggi pendidikan.. misalnya kalau di padang prof. irwan prayitno yang lulusan psikologi bisa membuat Adzkia…. ustadz irsyad bisa melambungkan ar risalah…

kenapa alumni perguruan tinggi pendidikan tidak berinisiatif menciptakan lembaga2 pendidikan mentereng… sementara mereka sudah punya kemampuan “mendidik” yang mumpuni… jadi persoalannya ada pada perguruan tinggi pendidikannya itu sendiri..

kemampuan bersaing itu sangat ditentukan oleh stakeholders perguruan tinggi pendidikan itu sendiri… tak perlu menunggu gaji guru dibuat puluhan atau ratusan juta sebulan… karena gaji alumni UI, UGM dan ITB yang jadi PNS hampir sama dengan gaji guru yang PNS… jadi tak ada hubungan kuatnya dengan salary… saya melihat banyak perguruan tinggi swasta tinggi yang mampu bergerak mandiri dan menjadi kampus unggulan… seperti UMY, UII dan UAD.. mereka bisa meraih akreditasi A… kemudian mereka sangat mendorong para dosennya untuk melanjutkan studi keluar negeri… pola pikir yang dibangun seharusnya adalah bagaimana merubah keadaan.. bukan menyalahkan keadaan sehingga menerima saja kekalahan dari UGM. UI dan ITB…:)

satu hal lagi yang harus dipikirkan oleh perguruan tinggi pendidikan adalah bagaimana caranya rektor2 mereka dilirik oleh penguasa menjadi menteri pendidikan.. sehingga kebijakan2 pendidikan nasional di indonesia bisa dikonsep dengan baik oleh ahli pendidikan itu sendiri..:)

sehubungan dengan strategi menarik para bintang juara di SMA dan SMK mau untuk kuliah di perguruan tinggi pendidikan… pesona dan popularitas sebuah jurusan atau perguruan tinggi bisa dibangun oleh perguruan tinggi itu sendiri… kemampuan mereka menawarkan dan mempromosikan dirinya…

sebagai contoh… dulu jurusan psikologi tidak dikenal oleh orang.. tapi karena kemampuan mereka menyakinkan dunia kerja bahwa psikologi dibutuhkan, maka psikologi perlahan jadi jurusan favorit… di UGM ada jurusan baru yang peminatnya mengalahkan jurusan2 punya jejak historis panjang di UGM… namanya jurusan pariwisata… karena ada daya tawar yang bisa mereka elaborasi… tak perlu ditangisi bahwa para juara di SMA dan SMK tidak memilih perguruan tinggi pendidikan… karena mereka punya passion masing2…

bagi saya tidak ada mahasiswa yang bodoh… yang paling krusial itu adalah bagaimana para dosen di perguruan tinggi pendidikan bisa membuat mahasiswanya brilian dan ahli di bidang pendidikan… keahlian itulah yang membuat mereka tidak terkalahkan atau bidang mereka diakuisisi oleh orang dari perguruan tinggi umum….:)

kalau mau jujur sebenarnya saat ini banyak anak2 cerdas SMA yang tertarik untuk menjadi guru.. apalagi setelah ada kebijakan luar biasa dari pemerintah untuk menaikkan gaji guru…:)

masalah sosialisasi juga sangat penting..:) karena masyarakat kita belum tercerahkan soal prospek jurusan2 di perguruan tinggi.. saya ada kawan lulusan bahasa inggris.. kerja sebagai translator untuk naskah2 di DPR… translate dokumen yang beberapa halaman saja dihargai puluhan juta… saya punya senior alumni filsafat… kerja sebagai konsultan UNDP… juga bisa kaya… midnset itulah yang seharusnya dirubah .. dan sangat disayangkan apabila stakeholders di perguruan tinggi sendiri mengamini pandangan masyarakat… kalau bahasa aktivisnya, kalah bertarung dengan keadaan…:)

terkait dengan keinginan perguruan tinggi pendidikan untuk mendapatkan mahasiswa2 baru yang brilian.. juara umum ketika di SMA… saya punya ide seperti ini… kita bisa buat program beasiswa kuliah gratis, kos gratis dan uang saku kepada juara2 umum di SMA2 unggulan yang mau masuk ke perguruan tinggi pendidikan… taroh lah masing2 jurusan menganggarkan 10 kuota beasiswa… saya pikir ini akan menarik bagi mereka..

kemudian, jalin kerjasama dengan lembaga2 pendidikan favorit… sekarang banyak SD, SMP, dan SMA yang mematok uang masuk puluhan sampai ratusan juta.. sekolah2 elite ini memberikan metode pendidikan yang tidak biasa dan unik kepada peserta didiknya… tawarkan lulusan2 terbaik perguruan tinggi pendidikan kepada lembaga2 itu.. dengan negosiasi gaji yang di atas rata2… misalnya 10 juta per bulan… tetapi kualifikasi yang dimiliki oleh lulusan pendidikan guru tersebut harus istimewa sehingga sekolah yang memakai jasanya bisa menjadikan guru2 tersebut sebagai promosi dan menyakinkan kepada orang tua bahwa guru2 yang mereka miliki adalah guru2 brilian yang bisa membuat anak2 mereka punya kemampuan melebihi yang sekolah di tempat lain…

kalau itu bisa dilakukan, saya melihat stigma bahwa perguruan tinggi pendidikan sebagai lembaga kelas 2 bisa terhapus secara signifikan…. dan perlu juga dipikirkan oleh dosen2 di perguruan tinggi pendidikan untuk membuat lembaga belajar sebagai labor2 bagi mahasiswanya untuk mengembangkan diri… dari sanalah kita kemudian bisa mendapatkan dosen cum aktivis…:)

atau bisa juga membuat program ikatan dinas.. bagi 10 lulusan terbaik masing2 jurusan perguruan tinggi pendidikan langsung diangkat menjadi PNS dengan status gaji sama dengan guru yang bersertifikasi… ini akan membuat masyarakat semakin tertarik… banyak kawan2 hebat saya pas SMA yang masuk polisi, masuk IPDN masuk STAN dan sekolah2 kedinasan lainnya karena faktor ada jaminan kerja pasca wisuda ini… karena yang berbau ikatan dinas ini masih cukup digemari oleh masyarakat kita… apalagi di tengah situasi susah nyari kerja… mungkin perguruan tinggi pendidikan bisa mencoba cara itu dengan modifikasi tentunya….