saya tergelitik untuk ngomongin soal pencopotan pak anies baswedan… yang apapun argumentasi para pembela pak anies, lagi2 harus dipahami bahwa jabatan menteri adalah jabatan politis yang sangat penuh dengan intrik “hak preogratif” presiden…
 
tetapi kita abai untuk menelisik lebih jauh soal “tanggung jawab” pak anies dalam posisinya sebagai mendikbud dengan fokus pekerjaan pada pendidikan dasar dan menengah… karena untuk pendidikan tinggi sudah dihandle oleh menristek-dkiti…
 
indonesia mengajar yang telah melambungkan nama pak anies berawal dari keprihatinan beliau tentang keadaan sekolah2 dasar di pelosok yang tidak saja kekurangan guru berkualitas tetapi juga kekurangan “kuantitas guru”… sementara setiap tahunnya perguruan tinggi pendidikan kita meluluskan ratusan ribu sarjana baik itu dari jurusan pendidikan yang dipunyai perguruan tinggi negeri maupun yang dimiliki oleh perguruan tinggi swasta… KETIDAKMAMPUAN PERGURUAN TINGGI PENDIDIKAN ITULAH yang membuat pak anies melakukan terobosan dengan melakukan roadshow dan motivator kepada para fresh graduate di universitas negeri umum kawakan dan terbaik di indonesia seperti UI, ITB, UGM dan yang lain untuk bergabung dalam program spektakuler “mengabdi dan menginspirasi anak indonesia” yang bernama indonesia mengajar… harapan pak anies adalah dengan kehadiran anak2 muda dari kampus2 terbaik ini bisa membangun mimpi anak2 pelosok yang masih terbatas jangkauan imajinasi dan sarana komunikasi serta telekomunikasinya… kalaupun sekarang sudah muncul pengajar muda dari kampus berbasis pendidikan, tetapi jumlahnya tak sampai 10%….
 
terkait dengan indonesia mengajar ini, di situlah keterbatasan gerak pak anies.. karena beliau tidak memiliki ruang yang lebar untuk mengotak-atik sistem dan kurikulum perguruan tinggi berbasis pendidikan di indonesia.. karena itu adalah domainnya menristek-dikti… sehingga implementasi penguatan kompetensi guru yang menjadi ujung tombak pendidikan dasar dan menengah tidak begitu massif bisa dilakukan oleh pak anies.. kecuali memakai cara2 pendekatan kultural dan pendekatan tradisional melalui pelatihan dan penataran buat guru2… sementara aplikasi indonesia mengajar dengan kekuatan alumni terbaik dari perguruan tinggi terbaik non kependidikan terhambat oleh dihapusnya program akta 4 oleh menteri pendidikan sebelumnya…
 
soal lain adalah pencapaian sekolah2 dasar dan menengah pertama berstatus negeri… kita menyaksikan trend dimana kelas menengah ke atas terutama di perkotaan untuk menyekolahkan anak2nya ke sekolah2 milik swasta yang menawarkan konsep pendidikan baru… terutama sekali pada sekolah2 yang punya basis agama… atau sekolah2 yang memberikan pelajaran agama dan umum secara seimbang… maka SDIT menyamur.. SMPIT menjamur… termasuk juga sekolah2 alam yang sangat berbeda konsepnya dengan sekolah negeri… artinya, ketika ada alternatif di luar SD dan SMP negeri di tempatnya, orang tua lebih cenderung untuk mengirim anaknya ke sekolah2 yang menawarkan konsep2 baru itu…
 
beranjak ke SMA… dari statistik kita mendapati bahwa yang masuk2 ke perguruan2 tinggi negeri terbaik di indonesia mayoritas adalah anak2 yang sekolah di SMA2 negeri favorit di masing2 kota/kabupaten di indonesia.. tetapi 1 hal yang harus kita sadari bahwa keberhasilan anak2 SMA tersebut masuk perguruan tinggi favorit karena mereka meluangkan banyak waktu di lembaga-lembaga bimbingan belajar.. keberhasilan mereka lebih banyak disebabkan oleh faktor pembekalan di bimbel-bimbel…
 
agak geli rasanya jikalau ada yang mengatakan bahwa pendidikan itu bukan untuk NYARI KERJA… dalam perspektif idealis aktivis, saya bisa memahami pandangan ini… tetapi satu hal yang hal kita pahami, pendidikan adalah eskalator terbaik untuk memperbaiki taraf hidup (ekonomi)… artinya, dengan pendidikan anak2 muda mendapatkan pekerjaan yang berbasis aspek intelektual dan nilai2 kreativitas… mau profesor ataupun mana orang sehebat sri mulyani yang bergaji 8 miliar dari bank dunia sekalipun sebenarnya masuk kategori PEKERJA… mereka menggunakan kemampuan intelektualitas untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih elegan dan bukan pekerjaan otot… JADI BUKAN BERARTI PENDIDIKAN TIDAK BERORIENTASI KEPADA PEKERJAAN.. tetapi ada pembeda dari tipe, jenis, cara dan inovasi yang tampak dari pekerjaan yang dilakukan oleh seorang yang berpendidikan dengan orang yang tidak berpendidikan… TOH PROFESI DOSEN DI PERGURUAN TINGGI YANG LEBIH BANYAK MENJELASKAN TEORI-TEORI JUGA TERMASUK JENIS PEKERJAAN..
 
berhubungan dengan persoalan SMK yang berorientasi kepada pemenuhan lapangan kerja… tidak ada yang salah.. karena apabila tidak semua orang sanggup dan cocok untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.. tetapi yang menjadi aspek penting dalam pendidikan vokasi di SMK adalah bagaimana kemampuan praktis yang diajarkan di sekolah benar2 mactching dengan kebutuhan industri… okelah, apabila industri adalah bagian dari kapitalis.. tetapi industri bisa dikembangkan dengan sistem lain.. misalnya dengan sistem koperasi atau alumni SMK itu sendiri membuka unit usaha.. sehingga mereka berdikari.. dan kembali kepada program indonesia mengajar… jangan lupa bahwa program indonesia mengajar itu didanai oleh CSR-CSR dari perusahaan2 beromzet besar yang juga merupakan pilar2 kapitalis…
 
saya tak peduli mau menteri pendidikan indonesia itu siapa… tetapi paling tidak ia harus mampu mengimplementasi konsep revolusi mentalitas yang digaungkan jokowi… mentalitas untuk berdikari yang sesungguhnya… ia harus mampu menjadikan pendidikan sebagai eskalator kesejahteraan… bukan sekedar ajang bisnis yang kemudian yang melahirkan para pengangguran…