Harato pusako ko ado 2 macamnyo…. Nan partama harato pusako tunjuak… Nan kaduo harato pusako ladiang panjang….:)
 
itulah cerita sehabis sholat dzuhur di musholla dekat rumah di kampung… mengingatkanku pada sebuah teori klasik tentang kepemilikan yang disampaikan oleh para ilmuwan sosialis… pada awalnya bumi ini tidak ada sekat2 kepemilikan.. semua orang bebas melakukan “aktivitas ekonomi” dan kebanyakan kegiatan2 itu adalah kegiatan bersama… orang membuka lahan, membuka hutan dan membangun rumah bersama2… sehingga tidak ada stratafikasi kelas sosial berbasis kekayaan yang ketat.. karena semua cair…
 
kepemilikan muncul ketika orang mulai memagar area tempat ia tinggal, beternak dan bercocok tanam… yang pertama membuka lahan merasa punya hak untuk memiliki kawasan tertentu… ia menunjuk saja sekehendak hati tanah yang “ingin” ia kuasai… ketika ada pendatang baru yang masuk ke “kawasan”nya, ia sudah memberikan “warning”, INI TANAHKU…
 
itulah kemudian yang dikenal sebagai harta pusaka “tunjuk”… yg asal mulanya hanya ditunjuk oleh orang pertama yg mengklaim “memiliki”…
 
harta pusaka “ladiang panjang” adalah penguasaan tanah lewat jalur2 kekerasan baik fisik maupun non fisik… salah satu contoh yang sangat nyata adalah soal “tanah negara”..
 
dengan kesewenangannya negara membuka dan memberikan izin kepada kapital untuk membuka lahan masyarakat adat… negara bebas melakukan eksplorasi karena menganggap itu adalah wilayahnya… tanah yang kini berstatus “tanah negara” sebenarnya adalah tanah milik masyarakat yang mungkin dulu ditinggalkan karena pergolakan perang atau tragedi bencana…
 
di saat harga tanah melambung tinggi… dan semakin banyak orang yang punya uang untuk membeli, legalisasi pemerintah menjadi senjata utama untuk menguatkan “pemilikan lahan” oleh kapital… ketika tanah sudah disertifikat, maka kemungkinan untuk ditransaksikan menjadi sangat besar…
 
kekuatan adat yang dulu sangat digdaya, kemudian menjadi sangat rapuh ketika harus berhadapan dengan “legalisasi negara”…. sehingga kontrak2 sosial berabad-abad dipegang dan diwariskan, tak lagi punya wibawa dan punya kekuatan…
 
dengan “izin” dari negaralah kemudian kapitalisme menghancur hutan.. membuka sekian juta hektar lahar baru… untuk massifikasi berbagai macam produk….
 
tanah telah menjadi asset yang luar biasa… di jalan protokol di jogja, 1 m tanah ada yang sudah ditawar di atas 30 juta…
 
dalam sebuah obrolan saya dengan seorang pengusaha properti sukses di jogja, beliau bilang harga tanah tidak akan pernah turun… akan terus naik dan naik… dan investasi tanah itu akan kelihatan dalam periodeisasi 5 tahun….
 
tak cukup tanah di daratan, pulau pun diusahakan dibuat orang.. reklamasi kata orang sekarang….
 
tanahlah yang membuat konflik tak pernah putus terjadi di minangkabau… tanahlah yang menjadi asal mula kapitalisme…. tanahlah yang membuat bangsa palestina rela meregang nyawa… tanahlah tempat manusia kembali… dikubur dan binasa dimakan bumi…