berkali-kali buya ditanya… kenapa harus jauh-jauh menerbitkan buku ke jogja… di sumatera barat kan juga banyak penerbitan…

ada juga penerbit besar di jakarta..yang sangat ingin menerbitkan buku buya.. tetapi tidak buya kasih…

buya bilang kepada mereka… buya punya anak-anak di jogja.. anak-anak minang juga… mereka mungkin memang belum ahli.. tetapi paling tidak mereka sudah punya basic keilmuan karena menimba ilmu di universitas terbaik di indonesia… mereka adalah masa depan minang… anak-anak rantau yang masih belum tercemar dan masih sangat tinggi kecintaannya kepada ranah minang… buya ingin mempercayakan buku-buku buya kepada mereka sebagai latihan… mempersiapkan mereka memperbaiki minang dari luar…

kalimat2 itu masih tergiang-giang di telingaku… saat mengendarai motor pulang dari hotel menuju kos… aku teringat kembali pada obrolanku di hotel flemings jerman dan saat di atas U-Bahn Hauptbahnhof – Festhalle/Messe – Bockenheimer Warte, Platz, Hauptwache – Industriehof bersama seorang bapak pemilik penerbit yang banyak menerbitkan buku2 ustadz jusuf mansur…

“mas anggun, sebagai orang minang kita bisa saja memilih usaha lain… jualan baju di tanah abang… atau buka rumah makan padang… tapi beruntunglah mas anggun memilih masuk ke dunia penerbitan… penerbitan adalah bisnis intelektual… dengannya mas anggun bisa bertemu dengan orang-orang hebat dan penulis-penulis brilian yang kata-katanya mampu menyihir jutaan orang…”

# obrolan panjang, 4 mata.. bersama seorang buya yang bela2in datang dari padang untuk mempersiapkan buku perubahan masa depan.. selama 3 hari dalam kerja-kerja editan yang serius…. karena sang buku sudah ditanyakan oleh orang nomor 2 di indonesia… hari2 ke depan adalah masa-masa menunaikan amanah dengan baik dan sepenuh hati.. untuk masa depan gre publishing..

Iklan