selepas transfer uang untuk tiket pesawat buat mudik di BNI UGM, terdengar sayup adzan ashar berkumandang… mumpung sejak dari rumah sudah koko-an, langsung saja aku arahkan motor astrea grand ku ke masjid kampus UGM…

suasana masjid masih lumayan ramai… aku dapat shaf ketiga… selepas sholat aku dikagetkan oleh 2 sosok yang sangat aku kenal… mas unggul dan kawan oce madril… ternyata kami sholat berderetan dan bersebelahan…

obrolanpun dimulai… maklumlah, kami jarang ketemu… mas unggul sibuk dengan bisnis fotografi dan bisnis onlinenya… oce sibuk ngajar di UGM dan beberapa kampus di jogja serta jadi salah satu direktur eksekutif di PUKAT UGM… sedangkan aku, teman2 sudah tahu dengan kerja-kerjaku untuk Gre Publishing…

banyak hal yang kami bicarakan dalam reunian kecil2an tadi… namun ada 2 hal yang menarik bagiku..

pertama, soal kabar teman kami febri diansyah yang beberapa tahun ini hilang dari media.. tak lagi muncul di ILC ataupun koran2 nasional dengan statement dan tulisannya yang bernas tentang korupsi… oce cerita kalau febri sekarang di KPK… sebuah pilihan yang memiliki konsekuensi.. salah satunya adalah tak bisa lagi begitu aktif di media seperti waktu di ICW dulu.. karena banyak rahasia2 negara dan aparatur negara yang tak bisa disampaikan ke publik…

kedua, soal penerbitan… di sesi ini obrolan kami lumayan lama… oce bilang di kampus banyak dana hibah penerbitan buku yang tidak memenuhi kuota karena tidak banyaknya naskah yang dibuat oleh akademisi di kampus… karena memang membuat sebuah buku masih menjadi problem dan pekerjaan yang berat bagi banyak dosen2 kita… dosen2 sudah disibukkan dengan jadwal mengajar dan jabatan2 administratif…

persoalan lain adalah masih sangat kurangnya buku2 referensi yang ditulis oleh dosen2 dari kampus2 terbaik di indonesia… sementara kebutuhan dan permintaan akan buku2 referensi tersebut sangat besar… akhirnya slot kosong itu kemudian diisi oleh kampus2 mediocare yang berani untuk mempublikasi naskah2 mahasiswa dan dosen2nya… meskipun banyak kritik soal kualitas, tetapi paling tidak kehadiran buku2 mereka telah mengisi situasi minimnya buku2 referensi kuliah di indonesia…

kembali ke judul tulisan ini… aku, oce dan unggul, 14 tahun yang lalu adalah mahasiswa culun di UGM yang kemudian ingin mencari aktivitas di kampus… Panitia Ramadhan di Kampus UGM kemudian mempertemukan kami.. pas dzuhur sudah stand by di sekretariat Jama’ah Shalahuddin UGM… masak air buat menu berbuka puasa untuk jamaah yang jumlahnya 1000-an… sehabis sholat tarawih, berbasah-basah mencuci gelas.. dan baru jam setengah sepuluhan pulang jalan kaki karena angkot sudah tak ada jam segitu…

14 belas tahun kami merintis jalan takdir masing2… dengan skill dan kemampuan yang dimiliki.. aku dan mas unggul lebih nyaman dengan status bebas sebagai pengusaha… boleh manjangin rambut, kemana2 ngak mesti harus pakai sepatu, kemeja dimasukin ke celana.. bebas pakai sandal jepit dan kaos oblong kemana-mana.. berbeda dengan jalan sebagai dosen yang dipilih oce… perform di depan mahasiswa harus diperhatikan.. dan tentu saja s3 dan kedalaman intelektual sangat diperlukan…

meskipun kami merintis dan menjalani profesi yang berbeda, ikatan ukhuwah itu selalu terjaga… dan pertemuan2 kadang2 itu lebih banyak terjadi di masjid kampus UGM… tempat kami pertama kali merasakan geliat dunia mahasiswa…:)

Iklan