ketika merekonstruksi sejarah, kita tidak dapat menghindarkan diri dari kecenderungan untuk kembali membuka luka lama dan menghidupkan kembali permusuhan lama… ada dendam yang ingin ditumpahkan… ada kerinduan masa lalu yang hendak diwujudkan…
 
kecenderungan psikologis manusia untuk membela keluarga dan kelompoknya, menuntut hak-hak yang dulu pernah dirampas dan selalu mengingatkan kekejaman “musuh” telah membuat kita sulit untuk berdamai dengan masa lalu yang telah membuat kita terpuruk teramat dalam…

 
erich fromm, seorang pakar psikologi berdarah yahudi, pernah menyiratkan bahwa alienasi masa lalu yang terus hinggap di alam bawah sadar generasi baru telah membuat revolusi harapan berubah menjadi dendam untuk “membinasakan” dan “menenggelamkan” eksistensi “lawan”… sehingga yang ada adalah kontestasi untuk mengalahkan pihak seberang…
 
begitulah paradigma yang sampai sekarang masih dikampanyekan di dunia ini… sehingga pelanggengan dendam ini membuat kita melupakan akan cita-cita kemanusiaan untuk menciptakan dunia yang damai…
 
bagaimana caranya kemudian agar generasi lama tidak berposisi sebagai “provokator kebencian” dan generasi baru tidak terbebani masa lalu yang dia sendiri tidak tahu menahu kenapa sebuah peristiwa tragis bisa terjadi sekian tahun yang lalu menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah…
 
mengambil jarak dari pihak-pihak yang bertikai di masa lalu, bisa menjadi “starting point” agar kita tidak terjebak pada pengulangan-pengulangan sejarah kelam masa lalu… yang berbeda kemudian hanya pemain dan waktu…
 
aktivis 65 yang berhasil menggulingkan diktatorship orde lama, kemudian sebagiannya menjadi penyokong zaman non demokratik di zaman orde baru… aktivis 98 yang menggulingkan soeharto demi kebebasan bersuara dan penghilangan kkn, kemudian sebagiannya menjadi pasien pesakitan KPK dan sebagian yang lain tak lagi bersuara lantang kepada rezim yang sedang berkuasa karena sudah mendapat jatah komisaris BUMN… meskipun rezim yang sedang berkuasa itu juga melakukan kesalahan-kesalahan yang dulu dia teriakan dengan sangat lantang…
 
perselihan sunni dan syiah dalam konteks sejarah islam, telah pula memecah umat islam menjadi 2 kutub, pembela keluarga ali dan pembela klan muawiyah… diskusi partisan kemudian membuat kita gagal untuk menempatkan peristiwa karbala sebagai momen refleksi yang penting bagi umat islam bahwa nafsu untuk berkuasa telah membuat darah sosok yang mulia keturunan rasulullah ditumpahkan dengan sangat mudah dan dianggap sangat murah tiada berharga… sehingga kontestasi perebutan pengaruh dan pewarisan dendam kekhalifahan terus memakan korban yang saat ini begitu nyata terjadi di bumi anbiya’, irak dan syiria….
 
dualitas HMI DIPO dan HMI MPO yang tak kunjung bisa diselesaikan karena sama2 merasa paling islami dan paling heroik menyelamatkan organisasi menjadi contoh lain bagaimana keegoan dan penonjolan siapa yang berjasa masih sangat kuat di kalangan aktivis islam… padahal persoalan ideologi yang menjadi sumber masalah tak lagi eksis dan sudah selesai di zaman reformasi ini… tetapi kenapa islah dan kerukunan tak kunjung bisa dicapai.. padahal simbol dan lambang organisasi persis sama tanpa ada perbedaan yang signifikan…
 
pelajaran sikap pemaafan menjadi kunci untuk bangkit lepas dari traumatik masa lalu… meskipun pernah di penjara oleh bung karno, tetapi buya hamka bersedia menjadi imam untuk menyolatkan bung karno… meskipun pramoedya sangat benci kepada Hamka, tetapi ketika seorang laki2 hendak menikahi putrinya, pram menyuruhnya untuk belajar islam dulu kepada buya Hamka… untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih besar di antara kaum muslimin, hasan dengan rela hati menyerahkan hak kekhalifahannya kepada muawiyah…
 
sejarah kebesaran hati orang-orang besar inilah yang seharusnya kita ulang-ulangi agar dendam masa lalu tak lagi diwariskan kepada generasi baru… bahwa apapun isme dan gerakan-gerakan yang telah melukai dan menghancurkan nilai2 kemanusiaan di masa lalu harus dibasmi dan tidak boleh dihidup2kan lagi adalah suatu poin penting untuk membangun peradaban baru… nilai-nilai kemanusiaan baru bisa kita bangun dengan lebih baik tentu harus mendapatkan sentuhan pengkajian mendalam akan masa lalu…
 
dengan itulah, energi kita kemudian tidak habis untuk terus berkonflik…. ketekunan kita mempelajari sejarah kemudian menjadi modal kita untuk TIDAK MENGULANGI KESALAHAN “SEJARAH”… di sinilah kemudian pendidikan sejarah yang diajarkan di sekolah2 dan kampus2 serta didapatkan dari berbagai bacaan dan buku menemukan “keberhasilan” nya dalam proses intelektual membangun peradaban yang baru bagi ras unik yang bernama manusia..
 
#renunganmalam