Terlepas dari sesat pikir dalam logika generalisir Saut Situmorang, salah seorang pimpinan KPK, terkait dengan kiprah alumni HMI sebagai pejabat negara, yang kemudian dibalas oleh Ketua PB HMI DIPO dengan seruan untuk melaporkan Saut ke Polres masing-masing cabang HMI di seluruh Indonesia, rasanya momen “sindiran sarkas” ini perlu menjadi renungan buat HMI yang sampai saat ini masih menjadi organisasi mahasiswa Islam yang sangat berpengaruh di Indonesia. Perkara moralitas sebenarnya memang tidak bisa hanya semata-mata dihubungkan dengan afiliasi tempat orang pernah menempa diri pada saat berstatus mahasiswa. Ada banyak faktor yang melatari orang melakukan tindak tertentu, terutama dalam hal tindakan penyalahgunaan wewenang sebagai pejabat negara, melakukan tindak pidana korupsi, dan tindak pelanggaran asusila seperti pelecehan seksual dan perselingkuhan.

Pengalaman personal saya mengikuti proses pengkaderan di HMI dan mencermati kiprah HMI selama belasan tahun, ada dua hal dominan yang dikembangkan HMI dari masa ke masa kepada kader-kadernya: penguatan wacana dan orientasi politis. Debat menjadi daya tarik yang sudah diperkenalkan kepada kader baru di LK 1. Metode penalaran Islam dengan metode diskursif menjadi keumuman dalam berbagai jenjang pelatihan di HMI. Kemampuan dialektik dan retorika inilah yang kemudian menjadi kekuatan bagi kader-kader HMI terjun di dunia politik. Dimulai dari politik kampus dengan keberhasilan HMI menempatkan kader-kadernya di Badan Eksekutif dan Senat Mahasiswa serta menguasai pertarungan di Himpunan Mahasiswa tingkat fakultas dan jurusan. Meskipun sejak awal reformasi hingga saat ini dominasi HMI banyak digantikan oleh KAMMI.

Sukses menjajal politik kampus merupakan jalan tol untuk mengakses dunia politik praktis. Banyak kemudian alumni-alumni HMI yang duduk pada posisi-posisi strategis di partai-partai politik terutama di Golkar. Terjun di dunia politik Indonesia tak ubahnya seperti “berkubang di dalam sawah”. Sangat jarang yang kemudian bisa selamat dari cipratan lumpur. Yang membedakan mungkin kadar “ketercemaran”, ada yang cuma sebatas betis, tetapi ada juga yang sampai berkubang sampai kepala.

Biaya suksesi politik yang sangat mahal serta dominannya proses-proses transaksional mau tak mau mau membuat siapapun yang terlibat di dalamnya terbawa arus. Alumni-alumni HMI yang termasuk massif terjun dalam dunia politik Indonesia tentu saja tidak bisa mengelak dari situasi yang pelik ini. Jika banyak di antara mereka yang kemudian berurusan dengan KPK, itu hanyalah efek dari cengkraman sistemik politik Indonesia yang pragmatis, oportunis dan kapitalis.

Kemarahan banyak kader HMI termasuk KAHMI terhadap pernyataan Saut sesungguhnya dapat dipahami apabila kita mencermati bentuk-bentuk persuasif yang dilakukan oleh HMI dalam merekrut anggota baru. Foto-foto dan kesuksesan alumni menjadi media kampanye yang masih sangat efektif untuk menjaring mahasiswa-mahasiswa memilih bergabung dengan HMI. Ketika senjata ampuh itu dilumpuhkan oleh Saut, tak salah kemudian kader-kader HMI dari seluruh Indonesia naik pitam karena mereka masih belum menemukan cara lain yang efektif dalam rekrutmen anggota baru.

Sebagai organisasi mahasiswa berlabel Islam, HMI saat ini kalah bersaing (terutama dari segi kuantitas) dengan KAMMI yang secara cerdas memanfaatkan fenomena kesadaran spiritual yang sejak reformasi sangat kuat gejalanya di Indonesia. Perhatian pada aspek-aspek ibadah, akhlak dan syariat menjadi kekuatan KAMMI mengakuisisi kedigdayaan HMI di masa Orde Baru. Dari sisi kajian-kajian keislaman progresif, HMI juga tertinggal dari PMII meskipun alumni-alumni HMI sendirilah yang mengenalkan konsep-konsep baru dalam menafsirkan teks-teks keislaman seperti Islam progresif moderat liberal yang diusung Nurcholis Madjid yang nota bene adalah perumus NDP, kitab suci perjuangan HMI dan Dawam Rahardjo. Dalam tataran general kehidupan kampus, HMI berhadapan tren posmo, dimana mahasiswa lebih tertarik untuk bergabung dengan komunitas-komunitas yang lebih praktikal dibandingkan gerakan mahasiswa ideologis. Sebut saja komunitas bahasa, komunitas hobby, komunitas riset, komunitas bisnis dan lain sebagainya.

HMI semakin kehilangan taji dan sampai saat ini belum mampu merumuskan tawaran baru bagi menarik bagi mahasiswa secara keseluruhan. Kebanggaan historis akan kesuksesan alumni bukanlah bentuk agitasi efektif di zaman sekarang. Apalagi semakin lama kepengurusan HMI di tingkat Cabang, Badko dan Pengurus Besar tidak lagi diisi oleh kader yang status sebagai mahasiswa. Pengurus Besar rata-rata digawangi oleh alumni dan beberapa top leader sudah berkepala tiga. Yang menandakan suksesi kepemimpinan di HMI sangat lamban.

Apa yang perlu dijawab oleh HMI dalam pola-pola pengkaderannya adalah pengembalian HMI sebagai gerakan mahasiswa dengan ruh Islam. Artinya, poin-poin penguatan spiritualitas dan moralitas yang saat ini banyak diabaikan oleh para pengurus HMI mesti dikembalikan lagi. Saat banyak mahasiswa Islam terpukau dengan konsep-konsep Islam Timur Tengah yang ditawarkan oleh Salafi, HTI dan Tarbiyah, HMI bisa memberikan tawaran baru akan Islam Keindonesiaan yang sebenarnya menjadi core kehadiran HMI yang founding fathers- nya didominasi oleh pejuang dan tokoh-tokoh bangsa Indonesia.

Nafsu politis HMI sebenarnya bisa diredam dengan mencarikan saluran-saluran praktis buat kader sesuai dengan basis keilmuan. Merintis Lembaga Bimbingan Belajar bagi komisariat-komisariat HMI yang berada di kampus-kampus kependidikan, membuat lembaga-lembaga kajian politik – hukum – energi – transportasi – pertanian budaya – agama – sosial untuk kader-kader HMI yang kuliah di jurusan-jurusan eksak dan sosial serta mendirikan lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat dalam hal kemiskinan, kenakalan remaja, anak jalanan dan mendirikan laboratorium wirausaha. Diharapkan dengan pendekatan baru ini akan menjadikan HMI lebih punya peran luas dari segi kelembagaan di samping mengikis dominasi politis HMI yang sudah menjadi rahasia umum.

Iklan