seorang pimpinan MUI di sebuah daerah yang terkenal dengan slogan “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” mempertanyakan bagaimana caranya agar lembaga yang ia pimpin bisa berwibawa… beliau mengeluhkan sikap acuh tak acuh pemerintah daerah dengan keberadaan MUI… dan mengharapkan pemerintah punya kepedulian kepada ulama dan bisa mengalokasikasi dana BAZNAS untuk operasional MUI…
persoalan eksistensi MUI memang sudah menjadi persoalan lama di Indonesia… sebagai organisasi yang mendeklarasikan dirinya sebagai lembaga independen, rasanya MUI perlu memikirkan bagaimana wibawa mereka dalam soal pendanaan bisa tetap dijaga… sebenarnya keputusan pemerintah sejak tahun 2015 yang menghentikan bantuan dana kepada MUI bisa menjadi jalan untuk menguatkan status MUI sebagai lembaga independen…

sudah jadi rahasia umum bahwa uang telah membuat pertingkaian di antara para ustadz… banyak organisasi islam yang pecah gara2 masalah uang… saling tahdzir… saling bermusuhan.. bahkan keluar dan bikin ormas baru karena masalah uang…
kalau kita rujuk kepada ulama salaf, maka kita akan melihat bagaimana para ulama dahulu rela hidup miskin untuk menjaga wibawa… mereka menolak pemberian penguasa untuk menjaga muruah diri… mereka rela jadi kuli, jadi tukang batu, dan bekerja kasar demi sekedar melanjutkan hidup… di zaman inipun kita mendapati sosok syaikh albani yang untuk membiayai kehidupan sehari2nya beliau menjadi tukang reparasi jam…
di antara para ustadz ada memang telah terfitnah dengan dunia… banyak yang ngak sabaran pengen punya mobil bagus dan rumah bagus sebagaimana ustadz2 selebriti yang sering dikritik cuma bermodal “ilmu cetek”… tapi bisa memaksimalkan kekayaan karena popularitasnya…
di zaman ini saya melihat gerakan spiritual yang luar biasa di tengah2 umat… banyak saudagar yang rela menginfakkan uang puluhan bahkan ratusan juga untuk kegiatan2 agama… donasi-donasi dari timur tengah entah berapa miliar mampir ke indonesia dengan berbagai macam peruntukkan… dan di antara dana-dana itu ada pula yang dialokasikan spesial untuk kesejahteraan sang ustadz yang diamanahi tanggung jawab mengelola dana…
belum lagi kemurahan hatian Allah membukakan pintu2 rezeki yang luar biasa kepada para ustadz di indonesia… biro umrah dan haji telah menjadi sumber rezeki yang luar biasa di zaman ini…. buku2 keislaman diborong oleh umat… bahkan salah seorang ustadz saya bisa bangun rumah 2 lantai hanya dari penghasilan penjualan bukunya yang jadi best seller…. sekarang umatpun sudah tahu, kalau mengundang ustadz tak cukup hanya dengan ucapan terima kasih…. umat sudah bisa menghargai ustadz yang berceramah dengan amplop yang setara dengan keilmuan sang ustadz…
kita kembali persoalan dana operasional MUI…. setahu saya, tokoh2 yang duduk di MUI adalah “perwakilan” dari ormas-ormas islam yang ada di indonesia… setahu saya, masing2 ormas2 tersebut punya lembaga ZIS sendiri… bagaimana kalau sekiranya sekian persen dari dana umat yang berhasil dikumpulkan oleh LAZIS milik ormas2 islam tersebut diberikan kepada MUI untuk operasional… bisa untuk biaya listrik kantor, biaya konsumsi rapat, gaji untuk pegawai di kesektariatan termasuk untuk beli mobil operasional… mungkin yang setara dengan innova-lah…
sertifikasi halal yang saat ini dikelola oleh MUI konon katanya dalam pengurusannya juga ada uang registrasinya… kelolah dana itu secara profesional dan transparan… sehingga bisa diketahui berapa margin profit yang terkumpul sehingga sehingga bisa dialokasikan kepada MUI-MUI di daerah….
sebagai organisasi yang memikirkan masalah umat, saya kok berpikiran dana CSR sebenarnya bisa diakses oleh MUI… dari sekian banyak BUMN yang ada dengan raihan laba ratusan miliaran, rasanya kalau 1 persen alokasi dana CSR nya untuk MUI, tentu akan sangat membantu MUI dalam kerja2nya memberikan panduan spiritual kepada umat…
dan rasanya tidak menjadi AIB bagi MUI untuk membuat DOMPET MUI atau apalah namanya, dimana umat yang merasakan kehadiran MUI dan berkeinginan untuk membantu MUI bisa menyalurkan donasinya ke pos yang jelas dan akuntabel laporan keuangannya…
terlepas dari itu semua… saya merasa kok akan lebih istimewa apabila pengurus MUI juga memperlihatkan gaya hidup bersahaja di tengah2 umat… mencari jalan2 rizki yang terhormat daripada mengemis2 kepada umat yang kebanyakan hidupnya juga lebih sengsara daripada ustadz di MUI… jika ada pengurus MUI yang punya usaha travel haji, tidak salah jika zakatnya sebagian untuk kegiatan umat yang dijalankan oleh MUI… jika ada ustadz2 MUI yang jadi ustadz kondang dan ketika sekali mengasih pengajian bisa menerima amplop puluhan juta rupiah, tidak ada salahnya kemudian apabila beberapa amplop disedekahkan untuk ustadz2 MUI di daerah yang hidupnya susah…
untuk menjaga muruah MUI perlu adanya kebersamaan dan kebersahajaan… kebersamaan di antara ustadz yang diberikan kelimpahan rizki oleh Allah dengan ustadz2 yang diuji oleh Allah dengan minimnya pendapatan… kebersahajaan dimana umat juga melihat para pengurus MUI tidak hidup dalam kemewahan, akan membuat umat juga bersimpati kepada mereka dan akan membuka pintu hati penguasa dan pengusaha untuk memperhatikan MUI secara lembaga karena mereka melihat ada manusia-manusia malaikat yang ikhlas dan tanpa lelah memikirkan umat sepanjang hayatnya….
sebagai organisasi, MUI seharusnya harus dikelola profesional baik dalam hal manajerial maupun keuangan. domain-domain apa saja yang mau dikelola dan diurus MUI harus jelas.. sehingga tidak tumpak tindih dengan kerja2 ormas2 islam… seperti ngak mungkin MUI bikin sekolah… karena soal sekolah sudah dikerjakan oleh muhammadiyah, nu dan ormas2 islam yang lain.. jadi memang perlu adanya kejelasan kerja yang nantinya bisa diestimasi berapa biaya operasional yang dibutuhkan MUI selama setahun… dari estimasi anggaran itulah kemudian MUI bisa berpikir, pos2 sumber dana apa saja yang bisa diakses dan didapatkan… bagaimana penggunaan anggaran itu, apa sudah sesuai dengan program kerja… termasuk nanti harus ada laporan keuangan tahunan yang bisa diakses oleh publik, misalnya dengan diberitakan di koran dan dipublish di website MUI… transparansi kegiatan dan pendanaan ini menjadi kunci untuk mendapatkan kepercayaan umat dan pemerintah… sehingga dari sanalah MUI secara perlahan bisa meninggalkan sistem organisasi tradisional yang saat ini masih sangat kental mewarnai MUI…