tidak banyak yang tahu bahwa Rahmah el-Junisiyah, sang pendiri sekolah fenomenal Diniyah Putri – perempuan pertama indonesia yang mendapat gelar Syaikhah dari Universitas Al-Azhar Mesir, bercerai di usia muda (22 tahun) dan tidak menikah lagi setelah itu…..
 
usia enam belas tahun Rahmah menikah dengan seorang alim dan mubaligh bernama Haji Bahauddin Lathif dari Sumpur Padang Panjang. Perkawinan ini tidak berlangsung lama, hanya enam tahun, pada tahun 1922 keduanya bercerai atas kehendak kedua belah pihak dan selanjutnya menganggap sebagai dua orang bersaudara. Dari perkawinan ini Rahmah tidak mempunyai anak. Sejak perceraian tersebut, ia tidak bersuami lagi hingga akhir hayatnya….

 
pada tokoh perempuan minangkabau yang lain saya juga menemukan kasus yang unik soal rumah Rasuna Said.. jurnalis, aktivis politik, anggota KNIP dan anggota DPA di masa orde lama… Rasuna Said disebutkan pernah menikah 2 kali dan kedua2nya berujung cerai…
 
Pada saat itu, Rasuna sebetulnya sudah menikah. Akan tetapi, karena Ia terlanjur meleburkan diri dalam pergerakan, Rasuna jarang bertemu dengan suaminya. Ia pun bercerai.
 
Rasuna kemudian menikah lagi dengan seorang aktivis kiri, Bariun AS. Akan tetapi, pernikahan dengan orang Medan ini juga tidak berumur panjang. Ia kembali bercerai. Rupanya, Rasuna terlanjur hidup di alam pergerakan.
 
banyak faktor yang membuat 2 pahlawan perempuan minangkabau ini memilih hidup “sendiri”… baik itu soal situasi politik, keadaan budaya dan lain sebagainya…
 
tetapi kembali kepada perkataan rasulullah bahwa pernikahan itu adalah sunnahku, tentu menjadikan rumah tangga sebagai tempat berjuang pertama untuk melahirkan generasi pejuang masa depan sekaligus tempat pertama untuk membangun jalan ke sorga jadi pilihan yang LEBIH BAIK….
 
# tidak ada manusia yang sempurna…