Sekitar jam 8.15, motor kami sudah sampai di depan rumah Buya Syafi’i Ma’arif, Perumahan Elok II Blok Halmahera D.76 Nogotirto Yogyakarta. Beberapa kali bel dipencet, tiada ada balasan dari tuan rumah. Pak Abdul Salam, Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Sumatera Barat, kemudian berinisiatif men-sms ke nomor Buya Syafi’i. Hanya jelang beberapa menit sms balasan diterima. “Mohon maaf, saya masih capek. Mungkin kita bisa bertemu agak siang.” Karena Pak Abdul Salam dan Sekretarisnya Pak Syamsurizal harus balik ke Padang dengan pesawat pukul 14.30, akhirnya kami gigih menunggu dan memencet bel. Hingga ada suara sahutan dari Ibu Syafi’i dari dalam rumah, “Siapa itu?” Dengan bahasa Padang, salah seorang di antara kami menyahut, “kami ibuk, yang dari Padang, yang datang kemarin sore.” Iya, kemarin sore kami sudah pula menyabangi rumah Buya. Tetapi hanya bertemu dengan istri Buya dan anak beliau serta sempat ngobrol sebentar.

Oleh Ibuk, pintu depan rumah dibukakan. Kami dipersilahkan duduk di kursi yang sudah diduduki oleh berbagai tokoh nasional dan internasional yang bertamu di rumah Buya. Jelang beberapa saat Buya pun keluar. Masih terlihat guratan lelah di wajahnya setelah perjalanan marathon dari Turki ke Jakarta dan terus ke Jogja. Baru jam 10 malam di hari Ahad 8 Mei 2016 Buya sampai di Jogja.

Awalnya Buya tampak tak begitu bersemangat memulai obrolan. Hanya beberapa kata yang keluar dari lisan beliau yang tampak masih berperang melawan lelah. Tetapi dengan pancingan ala orang Minang dan ketika mulai masuk pada beberapa hal sensitif, suara Buya yang mengelegar meluncur tiada henti. Hampir 2,5 jam obrolan berlangsung dengan tema-tema sangat serius tetapi beberapa kali kami terpingkal-pingkal tertawa lepas karena sindiran intelek Buya yang mengusik kesadaran. Yang kalau bagi saya pribadi menjadi bahan tertawaan menyindir diri sendiri karena beberapa kali saya membuat tulisan yang menolak pemikiran-pemikiran Buya Syafi’i Ma’arif.

Banyak sisi lain dari Buya Syafi’i yang membuat saya terlalu mudah terpengaruh dengan berita-berita miring yang berseliweran tentang Buya. Pelabelan pluralis dan liberalis yang tanpa pernah diverifikasi oleh orang-orang yang menuduh. Sehingga saya merasa perlu menyampaikan hal ini sedikit agar menjadi bentuk permaafan saya kepada Buya dan juga agar orang-orang yang hanya ikut-ikutan menyerang Buya bisa mendapatkan perspektif yang berbeda.

Perkawanan Buya yang global, lintas suku dan terutama agama yang sangat akrab dilatarbelakangi oleh semangat membumikan Islam rahmatan lil’alamiin. Kenyataan bahwa Allah menciptakan umat manusia beragam tidak hanya dari segi fisik tetapi juga dari segi keyakinan. Dengan fasih sambil menguraikan makna kata-kata per kata, Buya menyampaikan pemahamannya terkait Surat al-Nahl: 93:

ولو شاء الله لجعلكم امة واحدة ولكن يضل من يشاء ويهدى من يشاء ولتسئلن عما كنتم تعملون.

Artinya:

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”

Kelebihan orang Islam bagi Buya Syafi’i Ma’arif adalah soal keotentikan kitab suci yang masih bertahan sampai sekarang. Seharusnya keistimewaan dalam hal pewarisan wahyu ini menjadi kekuatan umat Islam untuk membuka pikiran seradikal alqur’an. Al Qur’an bagi Buya Syafi’i adalah kitab suci yang membebaskan manusia dari sektarian, fanatik buta, ashobiyah picik dan pikiran dangkal.

Menyitir surat Al Hujurat ayat 13 yang artinya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa”, Buya Syafi’i sangat prihatin dengan perselisihan umat Islam selama beribu-ribu tahun karena tidak mampu melepaskan sikap-sikap ashobiyah dan fanatisme mereka. Fenomena habib-habib yang sekarang terjadi di Indonesia adalah bentuk pewarisan cara tradisional yang melenakan umat dalam keterpukauan pada “keistimewaan” orang-orang yang punya “darah nabi”. Dalam tataran yang lebih besar, Buya melihat perselisihan para puak-puak Arab dalam berislam telah memecah umat Islam dalam berbagai golongan yang dalam banyak kesempatan saling berhadap-hadapan, hantam-hantaman dan bunuh-bunuhan seperti yang terjadi di Syiria dan Irak saat ini. Keegoisan yang dijubahi oleh dalil-dalil teologis telah membuat para puak-puak Arab dengan tanpa rasa bersalah dan berdosa, termasuk di dalamnya berkonspirasi dengan negara-negara Barat, membunuh ribuan orang dan mengusir jutaan orang dari kampung halamannya dengan menjadikan negeri-negeri muslim sebagai arena perebutan hegemoni yang ujung-ujungnya bermuara pada kepentingan ekonomi dan pelanggengan kekuasaan para elite puak-puak Arab. Sayangnya tidak banyak ulama-ulama yang bersuara lantang di depan para puak-puak Arab itu, dan malahan para ulama itu menjadi stempel kerakusan serta ambisi para penguasa dengan mencarikan pembenaran teologis atas tradegi kemanusiaan dengan mencarikan dalil-dalil agama yang sesuai dengan kepentingan.

Ketika Arab sudah hancur lebur dengan perang saudara, para puak-puak itu belum juga puas. Dengan gelondongan dana tak berdigit, mereka kemudian mengirim agen-agennya yang seringkali juga berlabel ulama untuk menciptakan konflik di Indonesia. Lewat tangan-tangan ustadz berkebangsaan Indonesia, kemudian semangat permusuhan ala Timur Tengah itu dimassifkan di Indonesia lewat pengajian-pengajian. Baik itu secara sadar karena mereka dengan senang hati menerima sponsor dana dari puak-puak Arab, atau yang tidak sadar karena ketidakmampuan mereka membaca peta global dunia. Kenapa Indonesia menjadi menarik? Karena Indonesia adalah negara muslim terbesar di bumi ini, mengalahkan populasi umat Islam yang ada di negara-negara Arab.

Bagi Buya Syafi’i kemampuan untuk membaca situasi inilah yang belum banyak dimiliki oleh tokoh-tokoh Islam dan para alim ulama Islam di Indonesia sehingga mereka terjebak pada konflik yang tidak sepenuhnya mereka sadari dan terbawa arus permainan global. Karena merasa terancam, mereka kemudian membuat sekat-sekat yang sangat rapat dan mulai mengkategorisasikan mana musuh – mana lawan. Sikap resistensi inilah yang kemudian membuat mereka semakin eksklusif dan merasa sudah cukup dengan bacaan terekomendasi dari sebagian kecil ulama yang mereka anggap “lurus”. Kemampuan berdialog dengan pihak-pihak bersebarangan semakin tumpul karena sudah duluan menutup diri dan merasa benar sendiri. Akhirnya proses-proses dialektik yang sangat dianjurkan Nabi, wa jadilhum hiya ahsan, menjadi barang langka.

Ada 3 hal yang menjadi PR besar umat Islam Indonesia agar naik kelas dan lepas dari keterkungkungan fanatik buta, ashobiyah, dan menjadi mainan dari pihak-pihak bertingkai di tingkatan global. Pertama, umat Islam harus banyak membaca, tidak hanya kitab-kitab klasik tetapi juga kitab kontemporer. Menurut Buya Syafi’i, apapun bentuk-bentuk pemikiran soal Islam yang muncul setelah meninggalnya Nabi Muhammad dari ulama mazhab manapun, semuanya adalah produk ijtihad. Sehingga bagi pemikir Islam di zaman ini harus mampu menafsirkan teks-teks keagamaan dengan konteks kekinian. Sangat penting bagi aktivis dan da’i Islam untuk juga membaca karya-karya kontemporer pemikir Islam seperti karya-karya Fazlur Rahman dan Tafsir Al Azhar Buya Hamka untuk mendapatkan inspirasi dalam melihat Islam kontemporer dan Islam keIndonesiaan. Satu poin yang berkali-kali ditekankan oleh Buya Syafi’i dalam 2,5 jam dialog kami tadi adalah kembalilah kepada Al Qur’an. Membaca alqur’an dengan fikrul shahih dan qolbun salim akan membuat orang Islam akan terlepas dari penafsiran-penafsiran keagamaan yang sarat dengan kepentingan tertentu dan akan membawa umat Islam kembali bersatu.

Di titik inilah Buya Syafi’i mengidentifikasi dirinya melampaui afiliasi salah satu mahzab, Sunni atau Syiah. Sebab bagi Buya, Sunni-Syiah adalah produk politis yang seharusnya ditinggalkan oleh umat Islam yang benar-benar mau berislam secara kaffah dan murni. Kembali kepada ajaran Nabi akan membuat umat Islam selamat dari fitnah-fitnah yang melelahkan.

Buya Syafi’i melihat masih dan semakin massifnya kampanye saling membenci antara Sunni dan Syiah tak lepas dari kepentingan geopolitik Saudi dan Iran. Dalam tataran normatif, pelanggengan konflik Sunni dan Syiah adalah bentuk belum mampunya kita berdamai dengan sejarah.

Terkhusus soal kelompok Syiah, Buya Syafi’i menilai ada keanehan-keanehan ajaran-ajaran teologis Syiah yang sulit untuk dipahami. Sehingga Buya mengatakan, “melelahkan juga berdialog dengan orang-orang Syiah yang fanatik”. Ritual Assyura yang merupakan manifestasi kesedihan Karbala menurut Buya adalah bukti yang kuat bahwa “dendam” masih menaungi alam bawah sadar dan diwariskan oleh penganut Syiah. Sementara di sisi lain, orang Sunni masih terjebak pada pembelaan ala quraisy. Secara tidak sadar, permakluman orang Sunni atas tradegi Karbala menjadi indikasi keberpihakan Sunni kepada kekejaman Yazid. Padahal Yazid tidak bisa pula dikatakan sebagai Khalifah yang adil dan tidak pula alim-alim banget. Dua posisi inilah yang membuat Sunni dan Syiah tidak bisa berdamai. Dan solusi yang ditawarkan Buya untuk mengatasi konflik historis ini, baik dari pihak Sunni maupun pihak  Syiah ialah harus kembali kepada mata air jernih ajaran Nabi, bukan malah memperuncing masalah dengan menghadirkan konsep-konsep teologis baru berbalut dendam dan persaingan yang kemudian takkan mungkin menyelesaikan masalah.

Penyakit kedua yang menjangkiti umat Islam adalah tidak luas dan luwes dalam bergaul. Mereka seperti paranoid berhadapan dengan pihak-pihak yang mereka identifikasi sebagai “musuh”. Ibarat orang mengintai musuh, mereka hanya bersembunyi di balik tembok dan gunung. Tak punya keberanian untuk bertemu “musuh” secara face to face. Ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya tidak kuatnya rasa percaya diri, kelemahan kemampuan diplomasi dan minimnya ilmu untuk berargumentasi.

Buya menceritakan, ketika beliau bersama tokoh-tokoh Islam Indonesia bertemu dengan Bush, presiden USA sebelum Obama, banyak pihak yang kemudian mencibir Buya sudah menjadi kaki tangan Amerika. Namun dengan paradigma lain Buya memberikan penjelasan. “Ketika saya bertemu dengan Bush, itu adalah bentuk keberanian saya dan rasa percaya yang tinggi. Pada saat itu saya katakan kepada Bush bahwa Amerika punya segala untuk membuat dunia damai. Maka gunakanlah power anda itu untuk kemanusiaan dan membuat dunia ini menjadi lebih baik.” Jadi kesempatan untuk bertemu sosok yang ditentang oleh banyak orang adalah bentuk nahi munkar yang terbaik. Sebagaimana Hadist Nabi mengatakan, jihad yang paling tinggi itu adalah menyampaikan kebenaran di hadapan pemimpin yang dzolim. Hadist ini yang kemudian banyak dilupakan orang dan lebih senang memberikan label-label tertentu kepada tokoh-tokoh yang coba membangun dialog lintas negara dan lintas iman dengan stigmatisasi provokatif yang seringkali dimakan mentah-mentah, tidak hanya oleh masyarakat awam, tetapi juga masyarakat berpendidikan.

Pergaulan luas Buya Syafi’i tidak membuatnya memiliki kesempatan untuk mendapatkan perspektif yang luas. Bagaimana caranya memberikan penghormatan kepada pihak-pihak lain yang berbeda keyakinan. Di sinilah kemudian POIN KETIGA dinasehatkan Buya kepada kami berempat sebagai kader muda Muhammadiyah yang beliau harapkan mampu naik kelas dan tidak terjebak dengan fenomena massif kejumudan berpikir yang terjadi saat ini di mayoritas umat Islam. Poinnya adalah MEMAJUKAN KEMANUSIAAN.

Sebagai umat yang dikaruniai wahyu yang otentik, umat Islam seharusnya menjadi leader dalam upaya-upaya memperjuangkan harkat martabat manusia. Meninggikan derajat manusia sebagai makhluk istimewa yang diciptakan oleh Tuhan. Oleh karena itu kerja-kerja sosial untuk memberdayakan masyarakat dan kepedulian kepada kaum tertindas menjadi keniscayaan bagi umat Islam. Karena itulah misi alqur’an dan misi kenabian. Dan kerja-kerja kemanusiaan ini harus melampaui sekat-sekat agama, suku bangsa, warna kulit dan batas-batas geografis. Sehingga dialog-dialog yang kemudian diiringkan dengan kerja-kerja praktis meski digiatkan dengan melibatkan berbagai komponen dari berbagai latar belakang keyakinan. Dan seharusnya tokoh-tokoh Islam menjadi inisiator dan aktor utama. Bumi kita ini hanya satu. Tuhan menciptakan manusia beragam termasuk kemajemukan dalam agama dan berkeyakinan. Oleh karenanya jika semangat yang kita kedepankan adalah tidak mau menerima kehadiran yang lain, bumi ini tak lebih hanya menjadi arena permusuhan dan pertumpahan darah. Jikalau sudah begitu, dengan sangat tegas Buya mengatakan, “Tidak usah saja hadir (hidup) di muka bumi ini.”

Banyak orang yang menyamakan Buya Syafi’i Ma’arif dengan tokoh-tokoh Islam liberal lainnya dari segi religiusitas dan ketergiuran finansial. Padahal bagi Buya Syafi’i, siapapun orang Islam, seradikal dan sekritis apapun pemikirannya, jikalau mengabaikan sholat maka sesungguhnya mereka telah memutus tali vertikal dengan Allah. “Mereka yang berpikiran liberal dan tidak mau sholat bukanlah teman-teman yang seperahu dengan kita.” Teman-teman yang punya pengalaman bertamu di rumah Buya Syafi’i pasti paham salah satu tempat yang paling mudah menemukan Buya adalah di Masjid sebelah rumahnya. Kalau lagi di Jogja, Buya hampir selalu menghabiskan waktunya di waktu Magrib dan Isya di masjid. Buat Buya, tidak mungkin orang akan bisa mencapai pemahaman yang benar tentang Islam kalau mereka tak punya koneksi spiritual dengan Allah. Semua akan buntu dan dibelit oleh nafsu. Soal integritas dalam hal fulus, rasanya ketika Buya berkali-kali diminta sebagai penasehat dan tim seleksi KPK telah menjadi bukti yang sangat jelas tentang moralitas beliau dalam soal dana-dana “haram”.

Demikianlah oleh-oleh yang bisa saya tuangkan dari diskusi “sesama orang Minang dan sesama orang Muhammadiyah” dengan Buya Syafi’i Maarif dari jam 08.30 sampai jam 11.00 pagi tadi. Kami datang berempat, Saya Anggun Gunawan (Mantan Ketua Korps Instruktur Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM-UNY), Abdul Salam (Ketua Majelis Tabligh PWM Sumatera Barat 2015-2020), Syamsurizal (Sekretaris Majelis Tabligh PWM Sumatera Barat 2015-2020), Ahmad Lahmi (Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat). Buat yang masih senang melabeli Buya dengan tudingan “liberal”, “pluralis” dan tak peduli Islam, rasanya perlu tabayyun dan memahami pemikiran Buya Syafi’i Maarif serta sisi-sisi spiritualitasnya dengan lebih komprehensif. Agar kita tidak termakan provokasi dan mendzalimi sesama muslim.