soal UKT yang membuat ribuan mahasiswa UGM tumpah ruah di balairung rektorat UGM…
 
demo terbesar dalam 10 tahun terakhir ini di UGM… yang kemudian dikatakan oleh bu rektor sebagai simulasi.. sebuah statemen yang aneh dari seorang rektor hanya demi pencitraan tetap terjaga… tetapi sampai detik ini website resmi ugm tidak menuliskan apa2 tentang demo di hari pendidikan nasional kemarin…

 
salah satu tuntutan penting yang menurut saya sangat krusial dan punya rasional yang kuat memang soal UKT…. uang kuliah tunggal yang memang sangat memberatkan dan tidak mempertimbangkan jumlah tanggungan keluarga… adek saya yang kuliah di D3 UGM dikenakan UKT 4 juta/semester… dan beberapa tahun pada saat yang sama orang tua kami harus menanggung beban 3 anak yang sedang kuliah dan 2 anak tante yang tinggal di rumah kami… terus terang bapak dan ibu harus banting tulang untuk mencari pemasukan tambahan karena dari gaji yang juga dipotong dari koperasi tak bisa menutupi kebutuhan 6 tanggungan keluarga… bapak harus banting tulang selepas pensiun dengan berladang di perbukitan di solok…. ibu harus jualan sayur di pasar sebelum dan sesudah mengajar di SD…
 
saya sangat menyadari bahwa biaya operasional yang mesti dikeluarkan kampus cukup besar… apalagi dengan kampus sebesar dan seaktif ugm…. dibutuhkan dana yang besar untuk membangun kampus yang bagus dan asri, biaya perawatan gedung dan lab, serta berbagai kegiatan yang tarafnya nasional dan internasional yang dihelat hampir tiap minggu…
 
akan tetapi rasionalitas menetapkan UKT terutama bagi mahasiswa dengan orang tua yang bekerja sebagai PNS rasanya perlu mendapatkan kajian yang lebih serius…. terutama soal beban yang mesti ditanggung oleh sebuah keluarga…. termasuk juga kampus juga harus memikirkan mahasiswa dengan orang tua yang bekerja sebagai wiraswasta dengan pendapatan yang naik turun tanpa bisa diprediksi secara statis…
 
tentu, perlu dipikirkan skema terbaik bagi universitas untuk mendapatkan dana2 mandiri tanpa perlu memberikan proporsi yang besar kepada sumber dana dari mahasiswa… sebagai contoh yang bisa diakses, sekitar 24 % penerimaan ITB di tahun 2014 didapatkan dari dana mahasiswa… 48% dari pemerintah dan selebihnya dari mitra serta unit-unit usaha kampus…
 
jika asumsi ITB bisa kita pakai untuk UGM dan kampus-kampus besar lainnya, pertanyaan berikutnya tentu apakah jumlah 24% itu cukup besar??? kalau kita bandingkan jerman, jumlah 24% itu tentu sangat besar… karena hampir semua perguruan tinggi di jerman menihilkan uang kuliah untuk mahasiswanya.. dan 80% kebutuhan kampus didanai oleh negara…
 
bagaimana skema itu bisa berjalan dengan baik dan bertahan puluhan tahun…. payung ideologis bahwa pendidikan menjadi kewajiban negara menjadi kata kunci… jika pengeluaran total UGM sekitar 800 miliar (data tahun 2014) per tahun – mungkin sudah mencapai 1 triliyun di tahun 2016 ini -, kemudian dibandingkan dengan jumlah mahasiswa UGM keseluruhan yang mencapai 50 ribu orang, maka apabila biaya operasional kampus seluruhnya dibebankan kepada mahasiswa maka uang kuliah ideal adalah 20 juta per tahun.. alias 10 juta/semester… untuk tahun 2014, UGM mendapatkan dana APBN sebesar 579 miliar rupiah… hanya butuh mencari tambahan 221 miliar lagi untuk menutupi biaya operasional di tahun itu…. jika UGM hanya memberlakukan uang kuliah sebesar 1 juta per semester per mahasiswa, sebenarnya 100 miliar sudah bisa dikantongi… sisanya tinggal melakukan kerjasama intensif dengan dunia industri dan berbagai organisasi donor… dan yang tidak bisa dilupakan adalah pemasukan dari berbagai unit usaha UGM yang cukup gesit mendapatkan profit….
 
ideologi kerakyatan yang coba dibangun UGM memberikan makna bahwa UGM harus terus menerus berupaya untuk mengalihkan beban kepada mahasiswa kepada sumber-sumber dana yang lain… jikalau perlu UGM juga memberikan pembebasan biaya kuliah kepada mahasiswa, tidak hanya mahasiswa domestik tetapi juga mahasiswa asing seperti yang dilakukan oleh jerman…
 
tetapi menuju proses itu tentu membutuhkan waktu dan harus menyadari situasi ekonomi nasional indonesia… mengharapkan uang kuliah gratis untuk seluruh mahasiswa di UGM ataupun di universitas negeri di indonesia saat ini merupakan hal yang mustahil….
 
namun, mempertimbangkan situasi mahasiswa menengah ke bawah, terutama yang orang tuanya bergaji 10 juta ke bawah dengan tanggung lebih dari 3 anak perlu mendapatkan kajian lebih mendalam oleh pengambil kebijaksanaan oleh UGM… di sisi lain, UGM tentu diharapkan tidak secara semena-mena meraup keuntungan dari mahasiswa2 dari kelas ekonomi atas dengan menetapkan nomimal biaya kuliah setinggi langit dan skema2 biaya mandiri yang nantinya akan memiliki efek negatif dalam pembangunan indonesia… seperti pola pikir mengembalikan modal dan egoisme ketika bekerja karena mahasiswa kelas ekonomi atas ini merasa “dipalak” ketika kuliah.. sehingga mereka berpikiran tidak mengapa jika kemudian memberlakukan tarif yang besar ketika bekerja.. misalnya ketika menjadi dokter…
 
sangat penting dipikirkan, berapa sesungguhnya uang kuliah yang ideal untuk mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di indonesia… dan perlu juga dipikirkan berapa seharusnya negara mengalokasikan anggaran untuk universitas… serta unit-unit usaha mandiri apa saja yang bisa dikelola oleh universitas untuk mendapatkan pemasukan halal dan baik…