berbicara masalah gender sangat terkait dengan konstruk budaya… karena itu sangat penting kita melihatnya dalam telisik2 spesifik di masing2 ranah geografis… kenapa di barat perlawanan gender sangat kuat, karena memang ada perlakuan diskriminatif yang sangat kuat… dari sisi sejarahnya, di zaman plato dan aritoteles perempuan tidak dianggap sebagai bagian warga negara yang memiliki hak untuk memilih pemimpin.. alias tidak punya hak pilih dan dipilih… perempuan pada masa itu lebih dianggap sebagai properti dan bisa dijadikan sebagai alat2 produktif ekonomis… sampai abad ke 19 di amrik, perempuan dan budak belum mendapatkan hak suara di ranah politis…

 
jika kita bawakan ke ranah minangkabau, situasinya akan lain… minangkabau menganut sistem matrilineal yang memberikan porsi ekspresi yang luar biasa kepada perempuan… dari dulu perempuan minang tidak dilarang untuk sekolah… diniyah puteri menjadi tempat kelahiran tokoh2 perempuan minang… beda dengan kondisi jawa pada zaman kartini… ada hambatan kultural yang membuat perempuan sulit untuk sekolah …
 
situasi progresif juga terjadi di aceh.. cut nyak dien dan cut meutia tampil ke depan sebagai panglima perang… aceh ketika masih dikuasai oleh kerajaan2 beberapa kali dipimpin oleh sulthanah.. di minangkabau ada kehadiran sosok historis bundo kanduang… yang kemudian sekarang menjadi institusi adat tersendiri yang menjadi mitra sejajar dari tigo tungku sajarangan dalam merumuskan kebijakan di nagari-nagari…
 
sebenarnya yang sangat menarik itu adalah serangang orientalis yang mengatakan muslimah mendapatkan diskriminasi oleh norma2 teologis islam…
 
perdebatan kita tidak akan selesai apabila tidak berusaha mendudukan apa itu gender dari sisi definisinya… kalau bicara masalah gender dari sisi teori feminisme, maka itu sangat terkait dengan konstruk sosial… dan itu di masing2 wilayah sangat berbeda… nah, kalau kita bicara lagi tentang barat, maka kita harus membedakan barat yang mana… di jerman misalnya, wanita yg bekerja di rumah dan punya baby di bawah 5 tahun mendapatkan perlakuan khusus oleh negara.. mereka mendapatkan fasilitas untuk bekerja di rumah dan menjadi pengurang pajak bagi penghasilan suaminya…. bahkan suami yang memiliki baby diberikan jam kerja khusus sehinga mereka punya waktu yang banyak untuk membantu istri di rumah….
 
sebenarnya teori feminis sangat kuat dengan aroma bagaimana wanita mandiri dan mendapatkan kesempatan di ruang publik yang luas sebagaimana laki2…. tetapi kita menemukan kasus2 menarik… seperti kasus di jerman… yang sangat tradisional dari sisi keluarga tetapi mereka punya perdana menteri seorang perempuan…. atau fenomena banyak wanita karier di masa ini yang kemudian beralih menjadi pengusaha dengan tetap bekerja dari rumah sekaligus bisa bersama dan mengawal perkembangan anaknya… bahkan ada cerita soal seorang anchor metro tv yang lulusan amrik, lebih memilih off dulu selama 2-3 tahun hingga baby nya besar…banyak wanita2 di inggris yang merindukan punya anak… jadi saya melihat banyak wanita2 berpendidikan tinggi dan menempuh pendidikan di universitas2 barat sekarang yang sangat mengetahui masa2 “golden age” baby nya… .
 
sebenarnya yang banyak terjadi di indonesia adalah pelepasan tanggung jawab.. ketika teks teologis menyuruh laki2 untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarganya, tetapi banyak laki2 yang tidak secara serius bekerja dan cenderung menelantarkan keluarganya secara ekonomi.. sehingga di rumah tangga terjadi pembalikan keadaan…. istri yang bekerja, kemudian suami jadi ibu rumah tangga…. di rumah tidak ada masakan yang disajikan sendiri, karena semua dibeli di luar/di warung.. tidak ada keharmonisan di rumah seperti makan bareng dari hasil masakan sang istri yang sangat dirindukan oleh anak2…. orang2 besar terutama dari minang selalu membanggakan masakan ibunya yang lezat… karena ibu mereka hadir untuk memenuhi kewajiban ranah domestik, tetapi dalam sisi yang lain wanita2 minang adalah wanita mandiri yang berkiprah dalam banyak ruang publik…..
 
sekarang pekerjaan yang dibenci oleh feminis radikal seperti memasak telah menjadi profesi elite di hotel2…. chef jadi profesi yang banyak diminati oleh laki2 dan dihargai oleh golongan2 kelas atas… mengasuh anak yang dianggap mengekang karier wanita, telah dijadikan sebagai bisnis oleh banyak orang lewat menjamurnya tempat penitipan anak dan paud… di luar negeri seperti malaysia, taiwan, pembantu rumah tangga dihargai dengan salary yang besar…. bahkan banyak gadis2 berpendidikan indonesia yang berusia di awal 20-an yang barusan lulus kuliah s1 berangkat ke jerman, austria, perancis dan negara2 eropa lainnya dalam program au pair yang kerjanya jadi baby sitter sekaligus belajar bahasa secara langsung…
 
jadi pekerjaan domestik yang selama ini diserang oleh aktivis feminis telah bermetamorfosis jadi profesi elite…