Mengenang Bapak


hujan malam di kota solok…. menikmati hembusan angin dingin… sunyi bertemankan rintik-rintik hujan…

masih kurasakan kehadiran bapak…

beberapa hari yang lalu salah seorang teman PGA dan kuliah bapak datang ke rumah… bapak, beliau dan prof. mestika zed adalah tiga sejoli PGA di Payakumbuh… kemudian pak mes melanjutkan PGA ke Padang, sekolah di jogja dan berangkat ke Belanda… bapak dan beliau sampai tamat di PGA payakumbuh dan melanjutkan kuliah di fakultas dakwah IAIN Iman Bondjol Padang…

untuk bisa survive di padang, bapak tinggal di masjid… suatu hari teman bapak ini mengajak nyari uang tambahan belanja.. menggali kuburan di gunung padang, tempat siti nurbaya dimakamkan…

maka mulailah bapak dan temannya ini mengayungkan cangkul menggali tanah secara bergantian… di kedalaman 1 meter lebih, teman bapak ini menemukan tengkorak manusia… timbullah ide iseng dari temannya ini… tengkorak itu ditutup dengan tanah… bapak kemudian diminta turun untuk melanjutkan penggalian… cuma 2 kali cangkulan, tengkorak itu terlihat.. bapak langsung naik ke atas… selepas sampai di rumah bapak bilang sama temannya, “besok-besok saya ngak mau lagi nyari duit dengan menggali kuburan…”

sebelum bekerja sebagai PNS di Departemen Penerangan, bapak beberapa tahun bekerja sebagai guru agama di pagai kepulauan mentawai… dulu pas kecil-kecil aku sempat menemukan skripsi S1 bapak tentang perkembangan dakwah islam di mentawai…

di hari bapak meninggal sederetan karangan bunga datang… yang paling banyak adalah dari pimpinan KPU pusat dan KPU Sumatera Barat…

sebelum pensiun bapak memegang jabatan sebagai sekretaris KPU kota solok dan sering bolak-balik padang – jakarta… setelah pensiun kegiatan sosial bapak tidak berkurang… hingga sakit di bulan desember kemarin ada 9 jabatan yang diamanahkan kepada bapak…. dari ketua komite sekolah, pimpinan daerah muhammadiyah, FKUB, ketua LPMK sampai ketua takmir masjid tertua di kota solok…

aku bersyukur diberikan kesempatan oleh Allah bisa memandikan, mengafani, jadi imam untuk sholat jenazah bapak, dan membaringkan bapak di tempat peristirahatannya yang terakhir…

selasa besok aku kembali ke jogja… melanjutkan perjuanganku untuk membangkitkan marwah keluarga dan menggapai cita-cita… dulu ketika setamat SMA bapak bilang, kalaupun aku tak lulus UGM, bapak akan tetap menguliahkanku di jogja…

selepas wisuda, saat aku minta ke bapak untuk dicarikan pekerjaan di solok, bapak malah menyuruhku bekerja di jogja saja… mungkin bapak punya impian lain agar aku tetap bertahan di jogja…

bapak memang telah pergi…. namun cita-cita dan harapannya masih harus kutepati…. menjadi sosok mandiri dan bisa mengabdi… untuk keluarga dan negeri…

dua hari ini, ingin kurenungi semua memori… dalam sepi dan sunyi… kenangan akan berkekalan di hati… cita dan cinta jadi pengobar bara semangat di hati…

aku pergi untuk kembali… kembali ke ranah minang tempat bapak beristirahat… kembali untuk menjemput kekasih nan telah begitu kuat bertahta di hati…

meskipun kembara hidup bercabaran… kuikhlas tempuhi hingga ke penghujung perjalanan…. dalam kesetiaan dan cinta… untuk selamanya….

# saat hujan dingin masih setia turun membasahi di malam ini… selepas mendengarkan alunan suaramu duhai dinda nan telah hadir seminggu yang lalu turut mengantar bapak beristirahat – 24 april 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s