dari tadi malam saya berpikir… apakah benar sudah banyak bidang keilmuan yang overload di indonesia sehingga ada beberapa bidang yang harus ditutup di perguruan tinggi???

 
sementara di sisi lain dalam realita di lapangan banyak yang mengeluhkan susahnya mencari pegawai… penerbit susah mencari editor, layouter dan designer handal… ada yang mengeluhkan susahnya mencari akuntan yang pintar menempatkan transaksi dengan tepat yang sesuai dengan fluktuasi ekonomi, banyak orang tua yang susah mencari tempat belajar bagus yang mampu menumbuhkan minat belajar dan intelektual anaknya, takmir masjid susah mencari ustadz kredibel keilmuannya untuk mengisi ceramah rutin dan khutbah jum’at… pengusaha tambang sulit mencari engineer yang tahan banting dan mampu bekerja di proyek2 berbiaya besar… media sulit menemukan pakar2 baru untuk mengisi di rubrik opini sehingga seringkali harus meminta tulisan ke akademisi dan profesional yang sudah dikenal…
 
di ranah yang lain, saya menemukan pemilik burjo di dekat kos saya susah mencari pegawai… ibu-ibu muda yang bekerja sangat susah mencari baby sitter yang cocok untuk menjaga anaknya…
 
di indonesia semuanya sebenarnya masih serba kekurangan… kita kekurangan dokter, kekurangan engineer, kekurangan guru, kekurangan dosen, kekurangan pengusaha, kekurangan ustadz, kekurangan penulis, kekurangan sastrawan – ahli bahasa, kekurangan ahli filsafat, kekurangan politisi dan kekurangan profesional ini dan itu…
 
menemukan segera passion profesi apa yang hendak kita kuasai menjadi kunci untuk bisa survive di zaman yang bergerak sangat cepat dan persaingan dunia kerja yang sangat brutal… kalau tak siap2 dari awal, bisa jadi kita tersingkir dalam perputaran zaman… being those who only watch the changes and just wonder what will happen… ketika kita masuk ke ranah praktis, bergumul di dalamnya secara maksimal sehingga suatu saat ada suatu expertise yang dikenal orang ketika mendengar nama kita…
 
kepandaian membaca apa yang menjadi kebutuhan manusia menjadi kunci innovasi.. sebagai contoh, facebook yang kita gunakan saat ini merupakan hasil dari proses kreatif mark zurkenberg dan koleganya mengembangkan kebutuhan dasar manusia untuk bisa eksis, didengar dan berkomunikasi… dalam ranah yang lain, kebutuhan spiritual manusia digital yang serba kekeringan menjadikan keberadaan ustadz2 yang benar2 paham aqidah, ilmu jiwa dan syariat menjadi keniscayaan…
 
rasanya mungkin kita perlu mengembangkan ilmu2 baru di perguruan tinggi di indonesia yang masih sangat general… seperti yang sudah mulai dikembangkan oleh universitas2 di luar negeri… seperti publishing studies yang memuat kajian interdisipliner antara marketing, design grafis, filsafat, dan bahasa… atau mungkin di indonesia kita butuh jurusan baru yang bernama Kajian Korupsi yang memadukan antara ilmu hukum, audit keuangan, politik anggaran, psikologi…
 
karena banyak ruang2 keilmuan dan profesional yang masih terbuka untuk anak2 muda indonesia, kalau semua ditekuni serius, insya Allah tidak akan terjadi bencana pengangguran intelektual di indonesia…