pas pajak kendaraan motor kita mati.. dengan sangat gagah polisi mengintrograsi… pakai pasal ini dan itu untuk mengancam… kurungan penjara beberapa bulan atau sekian juta rupiah denda yang harus dibayar.. meskipun kalau negosiasi di tempat mereka mau menerima juga uang 50 – 250 ribu (tergantung lokasi penilangan)…
 
tetapi kalau pengusaha ngemplang pajak miliaran dan triliyunan, jenderal polisi pun tak punya nyali untuk beraksi… bahkan dibiarkan saja jalan2 di luar negeri…

 
apakah ini karena indonesia sudah dibeli oleh para pengusaha kaya… seperti tanah jakarta yang dikapling2 dengan sertifikat hak milik pengembang… atau kenyataan 1/3 wilayah kabupaten Ogan Komering Ilir dikuasai oleh Sinar Mas untuk pembuatan pabrik pulp and kertas terbesar se asia tenggara…
 
soal tambang jangan ditanya lagi… air pun sudah dikomersialisasi… udara telah ditaklukan oleh berbagai maskapai plat hitam milik perorangan…
 
hingga rakyat kebanyakan harus mengais rezeki dari sisa-sisa yang ada.. beruntung yang bisa berkolaborasi dengan korporasi, mereka bisa menikmati limpahan keuntungan…
 
para ustadz pun kemudian juga harus memikirkan dapur di rumah… pengajian dan khutbah jumat yang cuma 100 ribu tak mampu menutupi kebutuhan anak istri.. maka dibangunlah travel ke tanah suci… menfasilitasi orang2 kaya yang mau masuk sorga pakai jalur wisata religi…
 
para jamaah pengajian yang jual baju gamis dituduh teroris… jual buku agama dicap radikal… agama dibilang tak boleh dijual… tetapi pemikiran yang melawan agama dananya mengalir bergelondongan tanpa pernah dicekal…
 
kemudian dimana NEGARA??? negara hanya jadi stempel saja.. selagi masih ada yang bisa digadaikan, dijual dan dilelang, maka dengan senang hati NEGARA memberikan secarik kertas surat izin atau surat pemindahan kepemilikan… dan dari sanalah pejabat mendapatkan komisi dan menjadi kaya… TOH MEREKA PUN NGAK BISA JADI PEJABAT KALAU TAK DISPONSORI OLEH PARA PENGUSAHA…
 
bicara soal aktivis idealis… ya biarkan saja mereka berteriak2 saat jadi mahasiswa.. toh kalau dah wisuda mereka juga panik sendiri mau kerja dimana.. pada akhirnya mereka juga akan jadi kroco-kroco korporasi… dikasih gaji 10 juta per bulan, mereka sudah lupa daratan… kalau mereka mau jadi politisi, nanti tinggal dimodali saja.. kemudian kalau mereka jadi, izin ini dan itu tinggal perkara gampang…
 
soal rakyat, ya mereka bisa survive sendiri.. mereka punya tangan dan kaki… toh dalam agama ada kewajiban sadaqah dan zakat.. jadi biarkan yang miskin2 diurus sama lembaga sosial…
 
para pejuang dahulu, mengorbankan tetesan darah untuk mempertahankan setiap jengkal tanah air indonesia… mereka tak rela tanah tumpah darah mereka dikuasai dan dimiliki oleh penjajah yang di belakangnya adalah kekuatan para kapitalis…. tapi setelah merdeka, semuanya dijual dengan murah… tanpa perlu berdarah-darah…
 
”Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”
 
sekarang berubah menjadi
 
bumi dikuasai perusahaan properti
air dibeli dari aqua…
kekayaan alam dikasihkan dan dilelang ke sana kemari…
dipergunakan sebesar-besarnya untuk keuntungan korporasi…